Mama

Thank You, Cory

Sok akrab, memang.

Beberapa waktu yang lalu saya terdiam saat membaca ini. Sudah lumayan lama saya tidak membaca tulisan sejenis ini, curhatan. Terlebih yang curhat itu adalah Cory Richards. The one and only Cory Richards.

Cory Richards, bagi saya, adalah semacam Hercules. Setengah manusia setengah dewa. Dari petualangan, keberuntungan, hingga fisiknya yang sungguh subhanallah itu. Manusia sempurna. Makanya, hati saya gremet-gremet saat membaca tulisan tersebut. There’s no such thing as perfection in a form of human being, so I concluded.

Saya, selama ini, menangkap citra sempurna Cory terutama dari feed Instagram-nya, juga rekam jejaknya di NatGeo. Curhatan Cory tersebut, terutama di paragraf yang akan saya capture setelah ini, membangunkan saya dari ilusi tersebut. Bahwa Instagram, dan  juga berbagai sosial media lainnya, tidak menampakkan keseluruhan cerita dari kehidupan seseorang. It’s highly curated. I am not saying it’s fake. It’s a part of one’s real life, nevertheless it has been curated carefully to exhibit a certain image. Pencitraan.

Dalam skala yang berbeda, apa yang disampaikan oleh Cory tersebut adalah gambaran pengguna media sosial pada umumnya. Most people capture the best moments of their lives (whatever that best moments definition is), select carefully according to their tastes and post the selected ones to their social media. Dari sini, muncullah kesenjangan antara real life dan social media life. Dari kesenjangan tersebut, datanglah kesepian. Loneliness, there I said it. 

(Saya tidak akan membahas tentang ini saat ini. Semoga lain waktu saya bisa duduk tenang menuliskannya)

Belajar dari Cory, kesepian akibat kesenjangan itu harus dihadapi. Embrace it, and use its energy to do something useful. Cory Richards membuka cerita lamanya, menerima dan menyelesaikannya, lalu kembali ke Everest dengan perspektif barunya. Kita bisa apa?

Sambil memikirkannya, silakan kembali menyimak #EverestNoFilter. Mas Cory dan Adrian Ballinger  sudah di Everest, dan saat ini sedang beraklimatisasi di base camp-nya.

(Dan saya akan mulai menyimak pidato Bu Susi Pudjiastuti sambil intap-intip sana-sini)

Mama

Growing Older

It’s taken much too long. To get it right, could it be so wrong?

In my younger years, this sentence brought me down in so many levels.

(It’s a bit funny to remember those years, though. I never knew that I would do that much for nothing, and realized that nothing meant much later. I was a kind of super silly me.)

(I need to warn Sophie and Syafiq that they have to pass their own silly time once. They need to embrace their time when they think that they dive in a deep end, just to realize that it is only another turn to take a break a while later.)

These days, it brings the whole new perception. I analogize it to things that are not related to its original feeling – or what I thought of as it. I see it in a wider view, from a higher elevation.

*** *** ***

Let start with this thought: how could a thing be so wrong when I try to get it right?

Here is the background. It’s been a while that I am in a not-so-comfort circumstance. I’ve been spending enormous energy in coping it. No, my energy is not drained because I do whatever it takes to solve it. I am exhausted because I am just overreacted to it.

There it is.

How could a thing be so wrong?

It goes wrong when I am overreacted to it. I forget the essence of the problem and am too busy with weighing my loss. I place myself in the center, and there everything else goes wrong.

How could a thing be so wrong (even when I have been trying so hard to get it right)?

It is true that I have done a lot, from my own point of view. I do this and that to mitigate my loss. In the same time, I forget the real problem. I left it untouched. So tell it once again, have I really tried that hard to get it right? Have I?

OK, I am over say it, again. My point is, I don’t treat the problem proportionally.

Let’s back to the background. So, where do I go from here?

I know, this problem of not-so-comfort circumstance has not been solved yet. But, at least, I do understand that it is not about me. It’s time to stop playing victim. I am not suffering that much. I am not the one who needs a helping hand. And maybe, I can help the one who truly needs it.

I think I will go somewhere not-too-far with a warmer heart, then.

*** *** ***

Wait, you don’t know the sentence I used to open this post?

(Oh, it is clear that I am that old and fail to move on from my 90 to early 2000 ears. )

(Speaking of gagal move on, here I post a pic that instantly brought a huge smile on my face. Massive love!)

 

TT AD
Take That is a five-piece-band again. Yes, they are with Ant and Dec. The glorious 90s boys band era is back again at a glance.

 

It is from Vertical Horizon’s Miracle, btw.

 

 

 

Mama

Can’t Have It All

Things that happened recently with people around me reminded me of this old saying: we just can’t have it all.

There are so many things we want to have/achieve/collect/obtain/proud of. Yet our capacity is way too limited. That’s when priority speaks: what is the most important one for you?

The best idea to follow, for me, is pursuing that most important one(s) and letting go the rest.

Gods created the universe with its complexity and human with two hands for purposes. I think one of those is to teach us that we have to understand that we just can’t have it all. No matter how many things you do want, you only have two hands to hold them once. You need to let some fall around your feet. You need to let go some that too far from your reach. Sometimes you have to use your mouth to bite and your body to snuggle with some when they were out of your hands.

Life is hard, eh?

Maybe. But please remember that those hands are yours. You are in total control of which to hold and which to let go. You are not in that weak position.

PS: When I was writing this post, a music player in my head played Can’t Have It All, Win Some Lose Some, and Come Back to What You Know. Usia tak pernah dusta, memang.

Mama, Sophie

Nama

Saya tidak pernah tahu apa arti nama saya. Selama ini saya sama sekali tidak pernah penasaran dengan doa apa yang dititipkan orang tua saya lewat nama saya. Tahunya, ya, saya anak nomor duanya Pak Panut. Apa arti Hartanti, saya tidak pernah kepikiran untuk mencari tahu apa artinya.

Padahal, saya termasuk golongan yang lumayan cari info pas mencari nama untuk anak-anak saya, lho. Sejak awal kehamilan, saya sudah bersahabat dengan google, mencari nama-nama untuk si janin. Sophia dan Arkananta adalah hasil bertapa saya selama beberapa bulan tersebut. Saya serius mencari apa artinya, dan memberitahukan pada yang bersangkutan saat mereka sudah mulai paham.

Semalam, si Sophie lagi mengartikan dan meminta informasi tambahan tentang namanya. Terus melebar ke nama adik dan papanya. Dan lalu menanyakan tentang arti nama belakang  saya.

“Mama belum tahu, lho, Soph. Coba mama cari dulu”

Lalu saya pun mengetikkan -arti nama Hartanti- di browser HP saya.

“Arti nama Hartanti itu ternyata berhati indah dan terang, Soph”

Dan Sophie-pun refleks menyahut,

“Kok mama sering marah-marah?”

Eeeeeeeeee………..

Jadi begini, ya, Soph. Nama itu adalah doa, harapan orang tua pada si pemilik nama itu. Dan yang namanya doa itu tidak selalu terkabul. Begitu, ya.

*cium*

Syafiq

My Breastfeeding Story (part 2)

Bagian pertama dari kisah ini sudah saya tulis di sini sekitar enam tahun yang lalu, tentang apa yang saya alami bersama Sophie. Saya tergerak menuliskan bagian dua dari cerita ini karena dua alasan. Yang pertama, Syafiq sekarang sudah satu tahun, yang berarti bahwa separuh perjalanan menyusui sudah kami lalui. Bagi saya, hal ini merupakan salah satu milestone yang perlu catatan tersendiri. Yang kedua, nyinyiran dari Pak Suami tentang betapa tidak berimbangnya saya dalam mendokumentasikan masa bayi Sophie dan Syafiq. Kalau jaman Sophie, segala hal ditulis di blog, bahkan sampai hal-hal remeh temeh pun ada. Giliran jaman Syafiq, sepi tanpa dokumentasi. (Yaaa, kalau dicarikan alasan, ya, pasti ada alasannya. Tapi saya tidak mau membahas itu sekarang. Yang ada malah saya batal menuliskan cerita utamanya, nanti).

Kata orang, pengalaman pertama adalah yang paling sulit. Dalam konteks hamil dan menyusui anak-anak saya, saya mengamini hal itu. Alhamdulillah saya dimudahkan dalam menyusui Syafiq. Keseluruhan ceritanya bisa dibilang minim drama. Tidak jauh berbeda dengan saat saya hamil Syafiq dulu, dibandingkan saat hamil Sophie, yang pernah saya tulis di sini.

Iya, dalam menyusui pun demikian. Saya lebih santai menjalaninya, tidak ngoyo lagi.

Sesaat setelah lahir, Syafiq mendapatkan IMD yang tidak standar. Ya, IMD-IMDan, lah. Tapi, ya, tetap saya syukuri. Setidaknya kami sudah mencobanya, bukan? Masalah pertama yang saya temui setelahnya adalah inverted nipple. Masalah yang sudah saya prediksikan. Kami berhasil mengatasinya dengan menggunakan spuit injeksi yang dibalik untuk menarik si nipple keluar.

Alhamdulillah di episode kedua ini saya tidak ketemu kasus sore nipples yang parah dan mastitis. Perlekatan Syafiq alhamdulillah sudah baik sejak awal, tidak seperti kakaknya yang harus diajari untuk membuka mulutnya lebar-lebar setiap kali akan menyusu. (Ya ampun, ternyata si Sophie sudah sok princessy sejak lahir, ya. Mau minum saja sok pake jaim buka mulutnya 🙂 ).

Saya sering mendengar bahwa bayi laki-laki itu minumnya kuat. Ternyata, hal itu tidak berlaku untuk Syafiq. Syafiq itu model anak yang minumnya sedikit-sedikit. Model minum-main-minum-main-minum begitu, deh. Sampai sekarang, pola minum Syafiq masih seperti itu, yang efeknya seringkali memunculkan komentar-komentar tidak penting (yang saya abaikan juga, sih).

Untuk urusan perintilan ASIP, Purwokerto telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Dulu jaman Sophie, saya membeli kebanyakan barang yang saya butuhkan secara online. Sekarang, semua hal, mulai dari pompa ASIP, botol tutup karet, sterilizer, ice bag dengan berbagai rentang harga, sampai kantong plastik ASIP pun bisa saya dapatkan di sini. (Sedang mencari perintilan ASIP di Purwokerto? Saya merekomendasikan Wijaya dan Isabel).

Saya menggunakan pompa Avent Phillip manual. Sejauh ini saya puas dengan performanya. Saya mulai menyimpan ASIP sejak Syafiq berumur tiga minggu, masa di mana produksi ASI sedang jaya-jayanya. Lumayan, saya bisa menabung cukup banyak ASIP.

Stok ASIP aman terkendali sampai ketika Syafiq berumur 7 bulan. Sejak saat itu, saya defisit 3-4 botol setiap minggunya. Kondisi menjadi mengkhawatirkan ketika saya mengalami kecelakaan 1,5 bulan yang lalu. Saya tidak yakin apakah obat anastesi mempengaruhi produksi ASI, yang jelas saya berada pada kondisi produksi minim beberapa hari setelahnya.Tangan kanan saya yang praktis tidak bisa digunakan untuk memompa ASIP membuat saya belajar hanya menggunakan pompa dengan tangan kiri saya. Usaha yang tidak berjalan dengan baik. Saya tidak bisa mengeluarkan ASIP dengan tuntas, yang berefek menurunnya produksi ASI secara perlahan. Sudah enam mingguan ini saya defisit belasan botol susu setiap minggunya. Sekarang, saya sudah memensiunkan freezer 5 rak saya. Stok ASIP yang tinggal seiprit saya simpan di freezer kulkas dua pintu saya. (Btw, adakah yang membutuhkan freezer Sharp 5 pintu? Kondisinya baik, dan baru saya gunakan selama hampir setahun. Kalau berminat, silakan kontak saya).

Sekarang, stok ASIP yang saya miliki minimalis adanya. Tapi, seperti yang sudah saya sampaikan di atas, saya yang sekarang jauh lebih santai dalam menghadapi masalah persusuan ini. Kalau misalnya stok saya benar-benar habis, ya, tinggal beli UHT saja untuk menambal kekurangannya. Saya tidak terlalu memikirkannya.

Eh, tadi saya menyinggung tentang Syafiq yang menyusunya tidak begitu kuat dan komentar-komentar miring yang diakibatkannya, kan, ya. Jadi begini, postur Syafiq itu petite. Kalau di kurva tumbuh kembang bayi, ya, posisinya di bawah, di area kuning menjelang merah. Selain gen dari saya dan selera makannya yang angin-anginan itu, saya menduga konsumsi susu Syafiq yang cimit-cimit itu juga memberikan andil bagi posturnya yang imut itu. Orang lain pun juga memiliki pikiran yang sama, dan mengungkapkannya dengan bahasa yang mengganggu saya, semacam,

Susu Mama Syafiq kurang bagus, ya? Kok Syafiq kurus sekali, tidak seperti Mbak Sophie dulu?

Oh, people.

Menutup post ini, ada foto si anak yang berulangtahun yang ingin saya bagi. Si pipi menul-menul (yang diklaim Mbah Sainah sebagai buah dari ide kreatifnya menyuapi Syafiq dengan nasi yang lebih berkontribusi bagi pembentukan masa pipi dibanding bubur)

img_20161230_085114
our todller!