pwtajah, ume

Ketika Masa Lalu Termainkan -dan Tersembuhkan-

Stelah skian lama mnunggu, akhirnya smalem ksampaian juga nonton Live in Concert-nya Nidji. Sejak awal mendengar mereka, aku dah mniatkan diri melihat performance mereka klo suatu saat mampir di Pwt. Dan, smalem penantian ituh terjawab.

Nontonnya bareng suami. Awalnya pengen ngajak Rendra ma Ecoy, tapi ternyata hanya kami yang cukup selo. Awalnya aneh, nonton Nidji dengan suami yang profile-nya sama skali gak sesuai dengan gambaran kerumunan ribuan orang di GOR Satria, berdesak-desakan hanya untuk sekedar mendengarkan suara brisik dan menghirup asap rokok yang amat gak disukainya. Tapi stelah berjalan nyenengin juga. Dan spertinya suami juga gak terganggu banget dengan smua hal normally he would dislike ituh.

Nidji adalah Nidji. Bagus ajah seh, sperti yang sering kita liat di TV. Giring yang atraktif dan menguasai panggung. Dukungan sound-nya bagus. Lightingnya, sayangnya, kadang bikin mata agak tersiksa. Penontonnya tertib, secara 40%-nya adalah wanita. Overall, bagus.

Sempat tertayang masa lalu, dan smuanya menjadi jelas. Bahwa smuanya ada masanya tersendiri. Dulu, Hapus Aku pernah menjadi soundtrack hati yang berdarah-darah. Dan smalem, lagu ituh terdengar indah di telingaku. Indah saja, tanpa ada rasa perih yang menyertainya.

Dan, Pwt adalah kota kecil. Tentu ajah aku ktemu dengan beberapa mahasiswaku yang menatapku dengan pandangan gak percaya mereka. Ah, andai saja mereka tau manusia macam apa diriku dulu.

Stelah perhelatan ituh bubar, kami bersila membicarakan hal-hal gak penting sambil mnunggu arus masa berpindah ke jalan raya. Menyenangkan. Mungkin kami harus mengulanginya lagi nanti. Dan ktika kami branjak saat venue mulai sepi, suami kembali pada kualitas aslinya, “Sayang, Mas pnasaran pengen nonton Resital Klasik”

Hmm, mana ada di Pwt???

Tapi, gak masalah. Kita bis ke Bdg ato ke Jkt nanti-nanti.

Advertisements