ume

tentang Waktu yang Semakin Sempit

Awal minggu inih kami ke Jakarta. Iyah, aku sama suami. Kami mulai mengurus keberangkatannya bulan depan, ambil paspor biru skalian apply visa. Perjalanannya standar. Standar seorang Tanti yang dah dua tahunan gak merambah Jakarta. Sedikit tersesat plus salah ambil jalur. Tetep diriku dengan orientasi arah yang parah, hahahah…
Aneh. Moodku jadi hancur berantakan sesat setelah menginjakkan kaki di Jakarta. Jadi jutek ma suami. Galak banget. Dan smakin siang smakin parah, mengingat keluhan fisikku yang smakin menghebat. Jadi bawel banget. Saking jeleknya moodku, aku sampe gak pengen blanja lagi. Untuk bagian ini, spertinya suami bersyukur deh ^_^. Sepulangnya ke Purwokerto, moodku masih sama jeleknya. Dan suami tambah stress melihat aku mnangis bombay sesorean.
Setelah ganti scene shari kmudian, kami mengkaji apa yang terjadi pada diriku. Kesimpulannya, kembali ke Jakarta memicu syarafku akan memori lamaku dan mensensitasinya.  Jadilah aku makhluk super sensitif yang terjebak dalam kurungan ingatan lamaku, U know, masa-masa gelapku.
Tapi belakangan aku menyadari, aku jadi makhluk super ngeselein kmaren lebih karena aku mulai berpikir tentang perpisahan. Ktika visa dah ditangan, maka jarak yang selama ini gak mau aku pikirin menjadi nyata. Yes, it’s next to our eyes. Memikirkan sorangan dan sterusnya.
I don’t wan to think of it, tapi kok jadinya mikir juga ya…

Advertisements

2 thoughts on “tentang Waktu yang Semakin Sempit”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s