gakpenting, ladieschat

tentang Hujan dan Pekerjaan yang Santai

Dua hari inih Pwt gak hujan di sore hari. Bukan berarti cerah, cuman gak hujan saja. Mendung, tapi stidaknya gak ada air yang tercurah dari langit. Tapi, kondisi ini malah menyebalkan. Soalnya, jatah hujan digeser ke pagi hari. Dari subuh sampe jam 10an lah.
Hujan di pagi hari?? Ampun deh. Menurunkan semangat banget. Pengennya di kasur terus, baca-baca apa lah, stidaknya badan terbungkus selimut. Pokoknya jadi malas banget. Dan untungnya, apa celakanya yah???, lingkungan kerjaku mendukung suasana malas ini. Bangun tidur lihat hujan, aku langsung ngecek agenda. Klo gak ada kelas, gak ada janji, aku tingal mengirimkan SMS ke PDII Fakultasku. Isinya yah to the point saja.
“Mb, hujan. Males brangkat je. Kbetulan gak ada agenda di kampus. Bolos yah, klo ada apa-apa kabarin saja. Thx.”
Dan bgitulah, sharian di rumah jadinya.
Kmaren, seorang temen sebel banget mendengar ceritaku inih. Klo di tempat kerjanya mana mungkin?? Pengen dapet SP apa??

Advertisements
pwtajah, ume

Hujan

Hujan.
Gak brenti-brenti dari tadi.
Padahal dah mulai lapar.
Dah pengen pulang.
And I miss my husband now!!!
Untung Pwt bukan Jkt. Klo iya dah pasti gak bisa nyampe rumah karena banjir dimana-mana.
Still, I miss him.

bahanrenungan, pwtajah

Tanya, Tanya, Tanya. Aku Bingung

Sejak kapan uang bisa menggantikan kehadiran, aktivitas dan proses?? Bagaimana bisa uang membeli smuanya, mulai dari simpati, penerimaan, pemakluman, dan akhirnya, nilai??
Aku heran, buat apa kita menghamburkan banyak energi untuk membuat peraturan yang pada akhirnya kita abaikan keberadaannya. Dan sungguh mengenaskan, bahwa satu-satunya pembenaran untuk melanggar peraturan itu adalah karena si oknum itu sudah mengeluarkan banyak uang!!!
Ya uang untuk bayar ini, membantu itu, mendanai apa…
Apakah kita memang dah dalam kondisi gak-ktolong-lagi sperti ini??? Memaklumi smuanya, dispensasi sana-sini, hanya karena ada uang bernyanyi??
Tolonglah, bantu aku menjawab pertanyaan-pertanyaan ini…

jalanjalan, ume

Mengutuki Maju Lancar dan Oh-This-is-Good-Bye

Pada kesempatan ini aku ingin mengutuk kru Bus Maju Lancar yang dengan semena-mena menurunkan aku di pertigaan sunyi di tengah malam. Semoga Allah membawa mereka ke jalan tobat.
Jadi ceritanya begini. Setelah suami berangkat, aku di drop di Terminal Lebak Bulus. Waktunya, jam stengah 2an. Aku tau bakal sulit dapet bis, karena jam sgitu bukan waktu yang lazim bagi bus jurusan Purwokerto yang biasanya take off jam 7an malam. Makanya aku bersyukur banget pas ada yang menawari bus jurusan Wonosari yang akan berangkat sebentar lagi.
Aku pernah mendengar tentang bis Jogja yang kadang suka semena-mena menurunkan penumpang di Pertigaan Ajibarang, karena mereka malas masuk Pwt dan pengen ambil jalan lurus ke Wangon-Sampang-Buntu dst. Makanya aku memastikan dulu pada kru bus tersebut. Apakah bisnya nanti masuk Pwt? Apakah busnya masuk terminal? Apakah aku bisa diturunkan di Terminal lama?
Yang, tentu saja, dijawab dengan jawaban yang sama. IYA.
Singkat cerita, bis brangkat. Sempat tiga kali keluar dari tol untuk menmbil penumpang di agen. Tapi selebihnya baik-baik saja. Aku tertidur sperti biasanya. Sampai pada saat aku dibangunin. “Mbak yang turun Purwokerto, turun disini”.
Reflek aku tengok kiri-kanan. Loh, ini kan bukan Jl. Gerilya?? Ini dimana? Aku menanyakan pada si Oknum yang membangunkan aku, katanya, “Ini di Ajibarang Mbak”
Wah, pengen marah rasanya, tapi aku tahan-tahan. Gak ada gunanya membangunkan orang se-bis dan tetep terlantar di pinggir jalan. Ajibarang adalah tempat yang sama skali asing buat aku. Dan mnunggu bis di tempat asing jam stengah 12 malam sama skali gak masuk dalam agendaku. Fyi, Ajibarang skitar 45 menit dari Purwokerto, dengan kendaraan umum di siang hari. Akhirnya aku bilang sama si Oknum, aku gak mau turun di Ajibarang. Aku mau turun di Buntu saja.
Knapa di Buntu? Ya karena Buntu lebih familiar buat aku. Dan aku tahu ada penginapan di sana. Dan karena bus jurusan Jogja stauku masih beroperasi sampe jam sgitu.
Sesampainya di Buntu, aku dikerubuti Tukang Ojek. Pandangan mereka yang menganggap aku mangsa empuk membuat aku nekat. Aku gak mau ngojek. Tengah malam motoran selama 1 jam? Maaf saja, aku gak rela masuk angin. Aku juga gak beranjak ke Penginapan karena sudah terlanjur menolak tawaran tukang becak yang pengen mengantar kesana. Dalam keadaan gengsi aku berdiri di pinggir jalan, sampe akhirnya stelah satu jam-an ada bus Jurusan Surabaya – Bandung yang lewat.
Alhamdulillaah, finally bisa tidur di rumah sendiri..
Tentang adegan di Bandara-nya, di luar dugaan aku mematahkan prediksi orang-orang. No tears. Yes, I did not cry to see my husband pulled his trolley through the door.
Smoga adaptasinya gak sesulit kmaren, Mas.

gubraggabrug, tan

Pengaruh Aura Ato Apa???

Aku memiliki respon yang aneh pada beberapa orang. Tanpa bisa menjelaskannya, aku merasakan emosi yang tidak normal ktika aku didekat orang-orang itu. Bisa jadi aku otomatis menyukai mereka, apapun yang mereka lakukan. Aku bahkan sudah cukup bahagia hanya dengan melihat orang-orang itu, mereka gak perlu melakukan apa-apa.
Disisi laen, ada beberapa orang yang membuat aku amat sebel. Klo dideket mereka, bawaannya marah mlulu. Spertinya gak ada yang bener ktika mereka ada di deket kita. Spertinya keberadaan mereka langsung memblok produksi serotonin dalam tubuhku. Hmm, smacam Dementor di Harry Potter apa yah??
Aku tau, kita gak diperbolehkan untuk berlebihan sperti ituh. Tapi sperti yang aku sampaikan tadi, aku gak bisa menjelaskannya. Terjadi bgitu saja dan kadang membuatku sebel ma diri sendiri, terutama untuk kasus kedua. Siapa seh aku, apa kelebihanku, kok serasa punya hak untuk sebel ke orang laen tanpa alasan???
Ini normal gak yah???