gubraggabrug, tan

Pengaruh Aura Ato Apa???

Aku memiliki respon yang aneh pada beberapa orang. Tanpa bisa menjelaskannya, aku merasakan emosi yang tidak normal ktika aku didekat orang-orang itu. Bisa jadi aku otomatis menyukai mereka, apapun yang mereka lakukan. Aku bahkan sudah cukup bahagia hanya dengan melihat orang-orang itu, mereka gak perlu melakukan apa-apa.
Disisi laen, ada beberapa orang yang membuat aku amat sebel. Klo dideket mereka, bawaannya marah mlulu. Spertinya gak ada yang bener ktika mereka ada di deket kita. Spertinya keberadaan mereka langsung memblok produksi serotonin dalam tubuhku. Hmm, smacam Dementor di Harry Potter apa yah??
Aku tau, kita gak diperbolehkan untuk berlebihan sperti ituh. Tapi sperti yang aku sampaikan tadi, aku gak bisa menjelaskannya. Terjadi bgitu saja dan kadang membuatku sebel ma diri sendiri, terutama untuk kasus kedua. Siapa seh aku, apa kelebihanku, kok serasa punya hak untuk sebel ke orang laen tanpa alasan???
Ini normal gak yah???

Advertisements
gubraggabrug, pwtajah, ume

Kesenjangan Tensi dan Handling yang Seadanya

Setelah bosan saling menulari dan mengakui klo upaya swamedikasi yang kami lakukan gagal total dalam 2 minggu terakhir ini, aku dan suami pergi ke Klinik. Tujuan utamanya adalah  untuk mendapatkan antibiotik (dengan resep dokter, tentu saja) untuk menghajar bakteri yang mungkin menumpang virus selesma yang puas beranak pinak (well, ini bukan term yang tepat, tapi nevermind lah) dalam saluran pernafasan bagian atas kami. Selain itu, pusing-pusing gak wajar yang dirasakan suami dan kliyengan gak jelas yang menggangguku juga perlu dikonsultasikan.
Karena kami lagi seneng-senengnya barengan, kami masuk ruang periksanya juga bareng. Ktika aku diperiksa, suami melihat-lihat sekelinling ruangan dan bgitu pula sbaliknya. Hal paling menarik yang kami temukan adalah catatan pada smacam Medical Record (karena ini Klinik Kampus yang sederhana, MRnya bentuknya cuma selembar kertas karton untuk mencatat hal-hal yang perlu dicatat, bukan sperti yang di RS besar). Pada MR Suami tertulis, “Px ini ngeyel, tidak mau mengikuti terapi. Soale orang Teknik Kimia, jadi tau struktur kimia obat dan aksinya. So, be careful ya…” Hahahah…
Dr. Linda yang memeriksa kami memeriksa tekanan darah kami. Hasilnya mengejutkan. Tensi suami 160/95, punyaku 110/70. Fyi, suami punya kecenderungan memiliki tekanan darah yang tinggi. Klo gaya hidupnya, dalam artian diet dan olahraganya, gak bener, tensinya bakalan menyaingi tensi kakek-kakek. Ini sangat mengherankan bagi keluarga besarku yang memang berkecenderungan punya tensi rendah, Ibu sama Adikku sempat agak panik ktika mendengar ini. Tapi klo aku memandangnya sebagai tantangan saja, bagaimana aku menghandle ini dengan santai, males klo dibawa berat.
Singkat cerita, kami mulai berdiet rendah Sodium. Membiasakan diri memasak dan makan makanan yang gak bisa disebut cukup nendang dilidahku. Sayur, sayur dan sayur. Tahu dan tempe. Berusaha menghindari daging-dagingan. Selalu menyediakan timun dirumah. Dan tentu saja agenda makan diluar dibuang jauh-jauh.
Karena fokusnya tensi suami, aku melupakan tekanan darahku yang agaknya juga perlu diperhatikan. Aku gak mau repot menyediakan menu makanan yang berbeda, jadinya aku ikuti saja pola makan baru suami. Akibatnya, belum juga 2 hari aku sudah roboh. Kliyenganku makin parah.Tensiku melorot tajam. Hhh, mungkin dah saatnya aku menghilangkan kmalasanku yah. Apa repotnya seh membuat menu yang berbeda demi kesehatan kami berdua???