gubraggabrug, pwtajah, ume

Kesenjangan Tensi dan Handling yang Seadanya

Setelah bosan saling menulari dan mengakui klo upaya swamedikasi yang kami lakukan gagal total dalam 2 minggu terakhir ini, aku dan suami pergi ke Klinik. Tujuan utamanya adalah  untuk mendapatkan antibiotik (dengan resep dokter, tentu saja) untuk menghajar bakteri yang mungkin menumpang virus selesma yang puas beranak pinak (well, ini bukan term yang tepat, tapi nevermind lah) dalam saluran pernafasan bagian atas kami. Selain itu, pusing-pusing gak wajar yang dirasakan suami dan kliyengan gak jelas yang menggangguku juga perlu dikonsultasikan.
Karena kami lagi seneng-senengnya barengan, kami masuk ruang periksanya juga bareng. Ktika aku diperiksa, suami melihat-lihat sekelinling ruangan dan bgitu pula sbaliknya. Hal paling menarik yang kami temukan adalah catatan pada smacam Medical Record (karena ini Klinik Kampus yang sederhana, MRnya bentuknya cuma selembar kertas karton untuk mencatat hal-hal yang perlu dicatat, bukan sperti yang di RS besar). Pada MR Suami tertulis, “Px ini ngeyel, tidak mau mengikuti terapi. Soale orang Teknik Kimia, jadi tau struktur kimia obat dan aksinya. So, be careful ya…” Hahahah…
Dr. Linda yang memeriksa kami memeriksa tekanan darah kami. Hasilnya mengejutkan. Tensi suami 160/95, punyaku 110/70. Fyi, suami punya kecenderungan memiliki tekanan darah yang tinggi. Klo gaya hidupnya, dalam artian diet dan olahraganya, gak bener, tensinya bakalan menyaingi tensi kakek-kakek. Ini sangat mengherankan bagi keluarga besarku yang memang berkecenderungan punya tensi rendah, Ibu sama Adikku sempat agak panik ktika mendengar ini. Tapi klo aku memandangnya sebagai tantangan saja, bagaimana aku menghandle ini dengan santai, males klo dibawa berat.
Singkat cerita, kami mulai berdiet rendah Sodium. Membiasakan diri memasak dan makan makanan yang gak bisa disebut cukup nendang dilidahku. Sayur, sayur dan sayur. Tahu dan tempe. Berusaha menghindari daging-dagingan. Selalu menyediakan timun dirumah. Dan tentu saja agenda makan diluar dibuang jauh-jauh.
Karena fokusnya tensi suami, aku melupakan tekanan darahku yang agaknya juga perlu diperhatikan. Aku gak mau repot menyediakan menu makanan yang berbeda, jadinya aku ikuti saja pola makan baru suami. Akibatnya, belum juga 2 hari aku sudah roboh. Kliyenganku makin parah.Tensiku melorot tajam. Hhh, mungkin dah saatnya aku menghilangkan kmalasanku yah. Apa repotnya seh membuat menu yang berbeda demi kesehatan kami berdua???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s