jalanjalan, ume

Mengutuki Maju Lancar dan Oh-This-is-Good-Bye

Pada kesempatan ini aku ingin mengutuk kru Bus Maju Lancar yang dengan semena-mena menurunkan aku di pertigaan sunyi di tengah malam. Semoga Allah membawa mereka ke jalan tobat.
Jadi ceritanya begini. Setelah suami berangkat, aku di drop di Terminal Lebak Bulus. Waktunya, jam stengah 2an. Aku tau bakal sulit dapet bis, karena jam sgitu bukan waktu yang lazim bagi bus jurusan Purwokerto yang biasanya take off jam 7an malam. Makanya aku bersyukur banget pas ada yang menawari bus jurusan Wonosari yang akan berangkat sebentar lagi.
Aku pernah mendengar tentang bis Jogja yang kadang suka semena-mena menurunkan penumpang di Pertigaan Ajibarang, karena mereka malas masuk Pwt dan pengen ambil jalan lurus ke Wangon-Sampang-Buntu dst. Makanya aku memastikan dulu pada kru bus tersebut. Apakah bisnya nanti masuk Pwt? Apakah busnya masuk terminal? Apakah aku bisa diturunkan di Terminal lama?
Yang, tentu saja, dijawab dengan jawaban yang sama. IYA.
Singkat cerita, bis brangkat. Sempat tiga kali keluar dari tol untuk menmbil penumpang di agen. Tapi selebihnya baik-baik saja. Aku tertidur sperti biasanya. Sampai pada saat aku dibangunin. “Mbak yang turun Purwokerto, turun disini”.
Reflek aku tengok kiri-kanan. Loh, ini kan bukan Jl. Gerilya?? Ini dimana? Aku menanyakan pada si Oknum yang membangunkan aku, katanya, “Ini di Ajibarang Mbak”
Wah, pengen marah rasanya, tapi aku tahan-tahan. Gak ada gunanya membangunkan orang se-bis dan tetep terlantar di pinggir jalan. Ajibarang adalah tempat yang sama skali asing buat aku. Dan mnunggu bis di tempat asing jam stengah 12 malam sama skali gak masuk dalam agendaku. Fyi, Ajibarang skitar 45 menit dari Purwokerto, dengan kendaraan umum di siang hari. Akhirnya aku bilang sama si Oknum, aku gak mau turun di Ajibarang. Aku mau turun di Buntu saja.
Knapa di Buntu? Ya karena Buntu lebih familiar buat aku. Dan aku tahu ada penginapan di sana. Dan karena bus jurusan Jogja stauku masih beroperasi sampe jam sgitu.
Sesampainya di Buntu, aku dikerubuti Tukang Ojek. Pandangan mereka yang menganggap aku mangsa empuk membuat aku nekat. Aku gak mau ngojek. Tengah malam motoran selama 1 jam? Maaf saja, aku gak rela masuk angin. Aku juga gak beranjak ke Penginapan karena sudah terlanjur menolak tawaran tukang becak yang pengen mengantar kesana. Dalam keadaan gengsi aku berdiri di pinggir jalan, sampe akhirnya stelah satu jam-an ada bus Jurusan Surabaya – Bandung yang lewat.
Alhamdulillaah, finally bisa tidur di rumah sendiri..
Tentang adegan di Bandara-nya, di luar dugaan aku mematahkan prediksi orang-orang. No tears. Yes, I did not cry to see my husband pulled his trolley through the door.
Smoga adaptasinya gak sesulit kmaren, Mas.