bahanrenungan, ume

Look Up, Don’t Look Down

Hidup saya dalam sbulan terakhir inih gak bisa dikatakan mudah. Terlalu banyak kejadian buruk yang terjadi, sepertinya Allah sedang punya agenda untuk menguji saya. Beberapa diantaranya bisa saya lalui dengan cukup memuaskan, mungkin klo dinilai saya layak dapat B. Tapi yang lain amat parah. Saya benar-benar gagal. Saya tidak lulus. Dan itu mengecewakan, tentu saja.
Yang saya katakan cukup memuaskan adalah masalah-masalah yang pada akhirnya bisa saya hadapi dengan ikhlas. Yang membuat kadar kesabaran saya naik. Sedangkan yang gagal adalah yang sebaliknya. Yang hanya bisa saya sikapi dengan air mata dan terus menerus bertanya. Yang tentu saja, gak akan saya dapatkan jawabannya dengan menangis dan berdiskusi dengan diri sendiri saja.
Tadi pagi saya ingat pada Mb Revi, seorang teman yang kini tinggal di Pekalongan bersama suami dan jagoan kecilnya. Dulu Mb Revi pernah cerita, bahwa dirinya menjadi smakin keras ketika berjauhan dengan suaminya. Saat itu, Mb Revi hidup di Pwt sedangkan Mas Budi berkeliling Pulau Jawa untuk mengumpulkan segenggam permata untuk mereka berdua. Kata Mb Revi, smakin berkurang intensitas pertemuan mereka, kecenderungannya untuk keras, mnutup diri pada lingkungan dan sterusnya akan menjadi smakin besar.
I’m wondering, is it what happened to me?? Apakah sbenarnya beban pikiran saya, masalah-masalah saya, gak jauh beda dengan dulu? Tapi berhubung suami jauh, diri saya jadi rapuh, dan smua hal ituh terlihat jauh lebih besar dari ukuran yang sbenarnya??? Apakah mungkin sperti ituh yang terjadi?
I just want to back to the possitive side again, Allah. Bring me there….

gubraggabrug

the Essential 01089

Ternyata benar, kita -ato dalam hal inih aku- baru bisa memahami pentingnya sesuatu saat sesuatu ituh kita lupakan. Kmaren aku lupa memilih menu edit before call dan mnambahkan deretan nomor ituh, 01089, sblom bicara dengan suami. Yah jelas yah, karena pake tarif International Call, pulsa yang ada langsung terkuras habis. Sblomnya, dengan nominal sgitu aku bisa telpon suami 15 hari, dengan durasi rata-rata 30 menit percakapan. Yang kmaren??? Telpon otomatis terputus dalam waktu belasan menit saja.

Komentar suami amat singkat, tapi mengena.

“Tanti banget”.

Hahahah…

ume

Sbulan. 31 Hari. 744 Jam.

It’s been a month without my husband. Tepat sbulan. Hari inih, sbulan kmaren, terakhir kali aku bersamanya di Cengkareng.

A lot of phone calls, terimakasih pada Three yang sudah bermurah hati dengan promo telpon murahnya. Siklus hidup yang berbalik sperti jaman sblom mnikah dulu -ke kampus pulang sore, nonton berita sore, ngutak-atik laptop sambil nonton Heroes *klo sblom mnikah nontonnya Smallville*, mnulis-nulis iseng atau baca-baca ebook, tidur jam 11an, ke kampus lagi, berulang sperti ituh hari ke hari-.

Tapi gak smuanya persis sama sperti masa lalu. Ada tambahan. Tambahan agenda yang smoga bisa lebih menyehatkan fisikku. Skarang aku ada kebiasaan baru. Stelah subuh jalan-jalan di kompleks, jalurnya brubah-ubah tergantung mood, dengan tujuan akhir ke warung yang ada di kampung sebelah. Jadi jalan pagi sambil berbelanja. Trus masak. Dan kembali masuk ke siklus lama. Ke kampus dan sterusnya.

Alasan dari agenda pagi hariku sama skali gak berhubungan dengan pola hidup sehat sbenarnya. Sbenernya aku cuma cari sinyal yang bagus. Three klo didalam rumah sinyalnya datang dan pergi. Jadi, aku memburu sinyal di luar rumah. Ituh saja.

It’s been a month without my husband. I miss him, a lot. And we still have about 7 weeks to go.

I do miss him.

fallengravity, tan

This is Life

So much fears, so much pains….

My head keep questioning those unanswered questions: What are you looking for? Are you happy this way??

Still, it seems too big to carry. I am so scared, Allah, I am.

Somehow, this is life. It is. We can’t ask everything to be smooth and understanable. We can’t have those all. I hope that everything will be allright. I hope Allah will give me those strength and patience.

This is life, Tanti. This is life.

And life goes on. It goes on…