jalanjalan

Jakarta, Past and Present

I dreamt that I would have a kind of life somewhere in this city, years ago. Bahwa stiap mimpi saya, harapan saya, hanya bisa tercapai ktika saya ada di Jakarta. Itu dulu.

Skarang, saya merasa hilang di Jakarta. Ngerasa bahwa kota ini terlalu sesak, terlalu terburu-buru, terlalu tergantung pada AC, dan terlalu-terlalu yang lain. Inilah diri saya, yang sudah terlalu banyak teracuni Purwokerto.

Dan Jakarta hari ini, Selasa (30/12) 13.09 waktu FX, menyadarkan saya klo saya sudah tidak muda lagi.

gawe, pwtajah

Hysteria

Barusan ada kehebohan di fakultas. Si Tersebut, mahasiswi semester 5 yang sedang responsi TSF Solida berteriak-teriak Dan badannya mulai mengejang. Bukan pingsan. Mungkin kesurupan. Tapi dari yang terlihat, dia jelas histeris. Karena tidak bisa ditenangkan, akhirnya Si Tersebut di bawa ke klinik kampus.

Wah, lumayan perjuangan tuh. Lab Teknologi ada di lantai III. Dibutuhkan 4 orang untuk membawanya ke bawah. Ditambah lagi anaknya kan tinggi banget, jadinya lumayan ribet juga pas memasukkan di ke mobil. Stelah suasananya kembali tenang, Si Tersebut sudah di klinik, anak-anak yang lain melanjutkan presentasi, kami duduk sambil sok tahu membicarakan apa yang mungkin terjadi. Di kalangan mahasiswa, pengampu TSF Solida terkenal sbagai makhluk paling galak di Farmasi. Asumsi kami Si Tersebut mengalami histeria karena amat tertekan oleh harus mempresentasikan pekerjaannya di hadapan dosen yang ditakutinya.*Maaf Mas yah, ini tadi adalah analisa cetek tanpa dasar kami di lantai bawah, just for fun*. Apalagi Si Tersebut punya reputasi grogi dan panikan yang luar biasa. Semester kmaren saya hampir putus asa dengan dia, stelah 4 kali inhal dia tetap saja tidak bisa menunjukkan klo dia tau apa yang akan dilakukan di lab nantinya. Peristiwa ini mengingatkan saya pada silent hysteria yang dialami oleh salah satu teman kos saya dua tahun kmaren. Klo yang tadi menghebohkan, maka yang dialami teman saya mengerikan. Slaen khilangan kmampuan mengontrol anggota geraknya, dia juga gak bisa mengendalikan otot lidahnya. Dia sama skali gak bisa bicara, hanya matanya saja yang mnunjukkan klo dia amat menderita. Jadi dia cuma diam, tapi matanya gak bisa berhenti meneteskan air mata. PS: I miss you Vies, hopefully life & everything run well there.

pwtajah

Paguyuban I, D4, Unknown Number Yet

Alhamdulillah, finally dapet kontrakan juga. Gak spenuhnya memenuhi ekspektasi, tapi stidaknya itu yang terbaik diantara beberapa opsi yang ada.

Berpagar dan deket dengan tempet tinggal orang-orang yang saya kenal, just like my hubby’s request. *Mas, siap-siap saja mendapati Tan smakin rumpi nanti, karena bertetangga dengan Mb Happy dan Mb Iie, hahaha*

Ada sdikit tanah yang bisa ditanami tomat di depan, pohon rambutan yang lagi lebat-lebatnya berbuah, kolam ikan yang bisa diisi lele kaya punya Yuza, dan banyak skali bunga peninggalan induk semang yang gak sempat kbawa ke Solo. Smoga bunga-bunga tersebut gak pada mati di tangan saya yah.

pwtajah

Urgently Reqired: New Boarding House

Dulu, pas masih tinggal di Riviera GK V/179, saya pernah merasa amat sedih saat seorang teman memutuskan untuk mengontrak rumah bersama adiknya. Saya sedih karena saya gak yakin bahwa rumah yang saya tempati akan tetap sama tanpa kehadirannya.

Skarang, saya sedang merasakan kesedihan yang kurang lebih sama. Induk semang saya menyampaikan bahwa tahun depan beliau akan menggunakan rumahnya untuk diri sendiri. Gak dikontrakin lagi. Saya telanjur menyukai rumah itu. Atapnya yang tinggi, pencahayaan dan sirkulasi udara yang amat bagus, jendela-pintunya yang besar-besar, smuanya.

Dulu, stelah bener kjadian si temen pindah rumah, saya lupa dengan kesedihan saya. Saya malah punya 2 rumah yang bisa saya tempati. So, saya akan baik-baik saja kali ini. Stelah mnemukan rumah laen, tentu saja.
Smoga saya bisa mnemukan rumah yang cocok nanti.