gubraggabrug, tan

Masih tentang Punggung

Setelah minggu kmaren bertekat spenuh hati untuk gak lagi-lagi berurusan dengan Bu Ramona, di akhir minggu ternyata saya harus meminta bantuan beliau lagi. Bukan kunjungan sukarela, tentu saja. Jadi ceritanya, Sabtu pagi saya bangun dengan rasa punggung yang gak ngenakin. Sakit, wlopun gak sesakit hari pertama jatuh. Dan lagi-lagi harus berjalan dengan cara yang aneh -dan nyeri yang gak ngenakin- ke kampus. Kata Bu Maryam, mungkin saya salah posisi pas tidur, shingga sesuatu-yang-salah-dengan-punggung-saya-yang-sudah-diperbaiki-Bu-Ramona-sbelomnya, error lagi. Dan bgitulah, Sabtu sore saya dipijit lagi. Meringis-ringis lagi, tapi gak sesakit pas dipijet pertama kali seh. Dan alhamdulillah saya pulang dengan punggung yang lebih nyaman, wlopun tidak bisa dikatakan sembuh spenuhnya.

Minggu pagi saya mudik, pengen ber-idul adha dirumah. Dengan menggunakan sarana transportasi andalan, Logawa. Namanya juga kereta ekonomi ya, penuh sesak. Alhamdulillah saya masih dapat tempat duduk. Sepanjang jalan, di setiap stasiun yang kami singgahi, penumpangnya tambah-tambah terus. Mulai dari Gombong saya berdiri. Ada kakek yang lebih berhak duduk. Dan, punggung saya unjuk rasa lagi. -ternyata benar, saya baru bisa merasakan bahwa punggung saya ada, berpikir untuk mensyukurinya, setelah si punggung itu cidera-. Di rumah, adik saya bilang saya amat berisik pas tidur, katanya stiap kali beralih posisi pasti mulut saya mencerocos gak jelas. Dan saya bangun dengan punggung yang aduhai rasanya.
Paginya, Senin, saya kembali dipijet. Kali ini oleh Mbah Joyo, tukang pijet di kampung saya. Mbah Joyo mengenal tubuh saya dengan baik, mengingat beliau adalah dukun bayi yang sudah memijit saya sejak saya dilahirkan. Jadinya selama 2 jam-an, beliau menelateni tubuh saya, bolek-balik mencari dan meringankan sumber nyeri di punggung saya. Mbah Joyo memiliki gaya memijat yang berbeda dari Bu Ramona. Sakit banget. Tapi untungnya yang sakitnya ampun-ampunan cuma di 2 tempat, on the left side of my torso.  Dan setelah mencetak hattrick pijet urat dalam seminggu, saat ini punggung saya  masih sedikit pegel. Smoga saja saya tidak harus kembali ke Mersi. Dan rumah di Karanganyar -untuk urusan pijet, tentunya-.

Allah, terima kasih sudah mengingatkan saya klo saya punya punggung.

Advertisements