gubraggabrug

Miss Teledor

Kmaren pagi saya mengeluarkan motor sambil bertanya pada Om Google via HP saya. Pengennya menyelam sambil nyari ikan. Tapi karena ternyata merepotkan, saya memilih untuk memarkir motor ditempat yang benar dulu, baru kmudian meneruskan acara baca-baca text dengan ukuran font minimalis itu. Nah, saya meletakkan HP di tempat yang paling mudah terjangkau oleh tangan kanan saya: mobil Pak Agus yang memang diparkir didepan rumah yang saya tempati. 


Siangnya saya bersama anak-anak di kelas Biosel. Ketika mereka sedang mengerjakan kuis, saya meraba-raba backpack saya, mencari HP untuk melihat jam berapa saat itu. Dan saya gak bisa mnemukannya di sana.
Oh, si HP masih nangkring di mobil Pak Agus.


Seusai kelas, saya langsung pulang untuk melihat apakah HP saya masih ada di sana.Dan tentu saja sudah gak ada. 

Saya lalu kembali ke kampus. Teman-temen yang mendengar cerita saya pada geleng-geleng kepala. Kok bisa, tanya mereka. Banyak orang yang khilangan HP, tapi blom ada yang menghilangkannya dengan cara mninggalkannya diatas mobil yang sedang di parkir. Dan mereka smakin gregetan pas saya bercerita kejadian minggu kmaren. Saya mninggalkan kunci, rumah dan motor, menggantung di lubang kunci luar pintu depan semalaman. Bu Agus yang menyelamatkannya. Beliau mengunci semua pintu rumah yang saya tempati dari luar, menyimpan kuncinya dan menyerahkan kembali pada saya keesokan harinya. Parah deh. Bu Agus wanti-wanti agar saya lebih hati-hati. Mnemukan kunci rumah diluar spertinya mengingatkan beliau pada trauma akibat kemalingan yang Mb Ani dan saya alami beberapa waktu berselang. Lha pintunya terkunci rapat saja didobrak kok, ini malah menyediakan kunci di luar. Saya merasa gak enak, tapi sepertinya keteledoran saya gak berkurang juga karenanya.

Seorang temen nyeletuk, klo terus mnerus teledor sperti in, what if ntar Tan dan punya anak dan melupakannya pas lagi di keramaian? Lontaran darinya membuat saya teringat kembali peristiwa yang saya saksikan di Alun-alun Purbalingga beberapa bulan yang lalu. Saya sedang di Masjid Raya saat dua orang anak, satu TK satu lagi mungkin kelas 1 SD, berjalan gak tentu arah diikuti Bapak Tukang Parkir Masjid. Mereka mulai mnangis, berlari ksana-kmari dalam masjid. Orang-orang sibuk menenangkan mereka, sebagian berlari mencari Satpol PP. Akhirnya loudspeaker masjid menginformasikan keberadaan dan sdikit identitas yang bisa mereka sampaikan diantara sedu-sedan mereka. Ktika akhirnya Ibu mereka datang, si adek TK sudah gak bisa bicara atopun mnangis lagi. Ibu mereka juga sudah tampak acak-acakan. Mereka berpelukan, banyak mata yang basah, dan saya yang super cengeng ini tentu saja juga ikut menyumbangkan air mata. Mengingat scene itu, saya gak mau membayangkannya terjadi pada saya.

Back to my recent story, skarang saya pake nomor 08996644048.

Klo saya teledor, itu adalah berita lama. Smua orang di lingkungan saya paham akan hal itu. Tapi spertinya intensitasnya semakin mengkhawatirkan akhir-akhir ini. Mulai dari jatuh, mnabrak ini-itu, memecahkan barang-barang, menghilangkan berbagai benda, sampai melupakan banyak hal adalah menu harian saya. Bercermin pada hal-hal itu, beberapa teman menyarankan agar saya tidak tinggal seorang diri. Saya sharusnya mencari housemate yang bisa mem-back up keteledoran saya.  Ato saya kembali ngekos sperti dulu lagi. Apapun pilihannya, yang penting saya gak sendirian.

Masukan yang masuk akal. Tapi, entahlah. Saya memang sering merasa kesepian, tapi saya mulai terbiasa dengan kesendirian ini. Entahlah, saya masih punya waktu sampe akhir Januari untuk memutuskan opsi mana yang akan saya ambil, tetep di D-5 sendirian, tetep di D-5 tapi cari teman ato mencari tempat lain yang lebih ramai.

Advertisements