ume

the Hardest Part

…am listening to Coldplay’s the Hardest Part. And that is how this posting is made….

For my recent condition, the hardest part is not letting go and not taking part. Bukan itu. Bagian tersulitnya ada menerima kesenjangan yang ada. Melihat kesenjangan itu, merasakan getirnya posisi inferior dan akhirnya mengikhlaskannya. That’s the hardest part.

O, it’s dramatically changed into MB 20’s Crash. Tell me how we are gonna make it last, you are ready to go and I am ready to crash.

Dan lontaran iseng anak-anak mulai trasa racunnya. Yang di sananya gak apa-apa, yang di sininya yang apa-apa. That kind of apa-apa.

I meant it.

Advertisements
gubraggabrug

Miss Teledor

Kmaren pagi saya mengeluarkan motor sambil bertanya pada Om Google via HP saya. Pengennya menyelam sambil nyari ikan. Tapi karena ternyata merepotkan, saya memilih untuk memarkir motor ditempat yang benar dulu, baru kmudian meneruskan acara baca-baca text dengan ukuran font minimalis itu. Nah, saya meletakkan HP di tempat yang paling mudah terjangkau oleh tangan kanan saya: mobil Pak Agus yang memang diparkir didepan rumah yang saya tempati. 


Siangnya saya bersama anak-anak di kelas Biosel. Ketika mereka sedang mengerjakan kuis, saya meraba-raba backpack saya, mencari HP untuk melihat jam berapa saat itu. Dan saya gak bisa mnemukannya di sana.
Oh, si HP masih nangkring di mobil Pak Agus.


Seusai kelas, saya langsung pulang untuk melihat apakah HP saya masih ada di sana.Dan tentu saja sudah gak ada. 

Saya lalu kembali ke kampus. Teman-temen yang mendengar cerita saya pada geleng-geleng kepala. Kok bisa, tanya mereka. Banyak orang yang khilangan HP, tapi blom ada yang menghilangkannya dengan cara mninggalkannya diatas mobil yang sedang di parkir. Dan mereka smakin gregetan pas saya bercerita kejadian minggu kmaren. Saya mninggalkan kunci, rumah dan motor, menggantung di lubang kunci luar pintu depan semalaman. Bu Agus yang menyelamatkannya. Beliau mengunci semua pintu rumah yang saya tempati dari luar, menyimpan kuncinya dan menyerahkan kembali pada saya keesokan harinya. Parah deh. Bu Agus wanti-wanti agar saya lebih hati-hati. Mnemukan kunci rumah diluar spertinya mengingatkan beliau pada trauma akibat kemalingan yang Mb Ani dan saya alami beberapa waktu berselang. Lha pintunya terkunci rapat saja didobrak kok, ini malah menyediakan kunci di luar. Saya merasa gak enak, tapi sepertinya keteledoran saya gak berkurang juga karenanya.

Seorang temen nyeletuk, klo terus mnerus teledor sperti in, what if ntar Tan dan punya anak dan melupakannya pas lagi di keramaian? Lontaran darinya membuat saya teringat kembali peristiwa yang saya saksikan di Alun-alun Purbalingga beberapa bulan yang lalu. Saya sedang di Masjid Raya saat dua orang anak, satu TK satu lagi mungkin kelas 1 SD, berjalan gak tentu arah diikuti Bapak Tukang Parkir Masjid. Mereka mulai mnangis, berlari ksana-kmari dalam masjid. Orang-orang sibuk menenangkan mereka, sebagian berlari mencari Satpol PP. Akhirnya loudspeaker masjid menginformasikan keberadaan dan sdikit identitas yang bisa mereka sampaikan diantara sedu-sedan mereka. Ktika akhirnya Ibu mereka datang, si adek TK sudah gak bisa bicara atopun mnangis lagi. Ibu mereka juga sudah tampak acak-acakan. Mereka berpelukan, banyak mata yang basah, dan saya yang super cengeng ini tentu saja juga ikut menyumbangkan air mata. Mengingat scene itu, saya gak mau membayangkannya terjadi pada saya.

Back to my recent story, skarang saya pake nomor 08996644048.

Klo saya teledor, itu adalah berita lama. Smua orang di lingkungan saya paham akan hal itu. Tapi spertinya intensitasnya semakin mengkhawatirkan akhir-akhir ini. Mulai dari jatuh, mnabrak ini-itu, memecahkan barang-barang, menghilangkan berbagai benda, sampai melupakan banyak hal adalah menu harian saya. Bercermin pada hal-hal itu, beberapa teman menyarankan agar saya tidak tinggal seorang diri. Saya sharusnya mencari housemate yang bisa mem-back up keteledoran saya.  Ato saya kembali ngekos sperti dulu lagi. Apapun pilihannya, yang penting saya gak sendirian.

Masukan yang masuk akal. Tapi, entahlah. Saya memang sering merasa kesepian, tapi saya mulai terbiasa dengan kesendirian ini. Entahlah, saya masih punya waktu sampe akhir Januari untuk memutuskan opsi mana yang akan saya ambil, tetep di D-5 sendirian, tetep di D-5 tapi cari teman ato mencari tempat lain yang lebih ramai.

gubraggabrug, tan

Anger vs Mirror

Kmaren saya berdiri di belakang kelas, menatap punggung anak-anak yang sedang mengerjakan ujian mid semester mereka. Di luar hujan cukup deras. Suasananya mendukung untuk sok kontemplatif. Dan, bgitulah. Saya berbalik menatap ke kaca jendela dan melihat bayangan diri saya disana.
Yang pertama kliatan, pipi saya yang chubby smakin nyempluk. Hahahah, beberapa minggu terakhir ini ada saja yang mengkonfirmasi apakah saya sudah hamil, regarding to my body shape now. Tapi sudahlah, saya sedang tidak membahas badan saya yang smakin hari smakin ndut inih.
Saya mulai mlihat mata saya, dan hei, what kind of message in it? Ada yang baru dalam mata saya. Mata saya menunjukkan sesuatu yang aneh. Saya katakan aneh karena saya gak bisa mengenalinya saat itu juga. Saya berpikir, apa yang ada dalam mata saya ya?

Trus saya mlihat wajah saya scara keseluruhan. Posisi bibir saya. Otot pipi saya yang berkontraksi. Otot di dahi saya yang juga ikutan berkerut. Dan stelah saya menggabungkan smuanya, sinar aneh di mata dan keseluruhan tampilan wajah saya, saya smar-samar bisa membaca pesan yang tersampaikan darinya.

Dan pesan ituh smakin jelas stelah saya mengingat kembali kata-kata yang saya katakan sepagian itu. Juga intonasi saya saat mengatakannya. Jelas sudah. Saya sedang marah. Dan spertinya akhir-akhir ini saya sering marah, astaqfirullah.

Iya, saya blom pernah melihat wajah saya saat sedang marah. Dan ternyata jelek. Dan saya mulai tersenyum lagi ktika mlihat wajah saya yang jelek itu. Emosi saya mulai terurai dan saya menertawakan diri saya sendiri,”Sensitif amat seh Tan, masa iya bgitu saja marah. Dan Tanti versi marah ituh sama skali gak enak diliat”. Saya berniat untuk gak terlalu mudah marah, biar gak kliatan jelek terus.

Oot, saya suka memfoto wajah saya pas lagi nangis. Jelek juga seh, tapi gak sejelek pas marah. Dan saya suka melihat kembali foto saya yang mnangis ituh. Dan biasanya efektif untuk mengurangi tangisan saya.
Nah, klo suatu saat marah, ktika duduk gak bisa menguranginya, lagi sulit ambil wudlu coba bercermin or mengambil foto wajah kita. Mungkin bisa menguranginya ^_^

fallengravity, ladieschat

Postingan Kadaluarsa

Saya menulis ini tiga hari yang lalu. Berhubung laptop saya masih juga gak mau diajak ber-MP ria, postingnya jadi tertunda. Dan karena tertunda, emosinya sudah berbeda. Skarang alhamdulillah saya sudah gak segelap itu.

***

Semalam saya bicara dengan seorang sahabat. Pembicaraan yang amat saya syukuri. Akhirnya telur si blorok yang selama ini saya erami menetas juga. Akhirnya beban pikiran saya menjadi lebih ringan karenanya. All the grieves I kept for my self are finally shared. With her.

Selama ini saya menyimpannya sendiri. Saya tidak pernah membicarakan tentang detil perasaan saya terhadap beban itu pada orang lain. Saya hanya bicara dengan suami, dan skarang ini berbicara dengannya –bicara dalam artian yang pas untuk krisis smacam itu- adalah kemewahan yang sukar kami peroleh. Ada banyak alasan yang membuat saya tidak memicarakan itu dengan orang lain. Tapi dari sekian alasan itu, yang terbesar adalah saya gak bisa membicarakan itu tanpa melibatkan air mata. Jadi begitulah, kami bicara terputus-putus, diantara tangisan saya.

Saya amat berterimakasih pada caranya membuat saya menerima krisis yang saya alami. –saya rasa soundtract yang terus menerus berdengung dalam kepala saya semalam adalah Verve Pipe’s Gotta Move On, yang bagian You know it’s all right if you cry a little, if something inside you has died a little. You don’t have to hide, but you gotta move on. You gotta move on.- I am so thankful for her effort to open my mind to the other side of my sadness. Membuat saya yakin bahwa saya tidak sendiri.

Thank you for your dead-end-breaking-question, “Piye kondisimu, Jeng?”

Thank you for listening every word I said.

And thank you for sharing, for everything.

Saya amat menghargai semuanya, usahanya untuk membawa saya ke permukaan lagi, disaat dia sendiri saat ini sedang menatap jalan berliku yang mungkin akan buntu didepannya.

All we can do are asking the best decision from Allah and face it, Sist. Those all we can do.