indonesiaku

Parahnya Transportasi Kita. Dan Saya.

Ketika menunggu pagi di Bandara dua malam yang lalu, saya membaca tajuk surat kabar kadaluarsa yang saya tidak ingat lagi apa namanya. Surat kabar terbitan Rabu (14/12) itu mengangkat tentang acak-adulnya pertransportasian negara kita. Berdasarkan  kecelakaan kapal yang baru saja terjadi, redaksi menuding bahwa sebagian besar kecelakaan yang terjadi adalah buah dari kesalahan manusia. Pemerintah, operator transportasi, bahkan penumpang, sama-sama cuek dengan keselamatan transportasi. Dan kecerobohan -atau ketidakpedulian ya?- itu membawa resiko keselamatan perjalanan yang berharga mahal.

Dalam perjalanan pulang saya ke Purwokerto, saya menyaksikan bagaimana kondisi yang digambarkan redaksi surat kabar kadaluarsa itu di lapangan.

Kereta yang saya tumpangi baru beberapa saat meninggalkan Gambir saat Bapak yang duduk di kursi depan, samping dan seberang saya menyerahkan sejumlah uang kepada Bapak Petugas Kereta. Ada hampir 10an orang yang tidak bertiket yang duduk di sekitar saya yang bisa berkereta, mereka terangkut dengan hanya dengan menyisipkan 20-30 ribu per orang ke tangan Bapak Petugas Kereta berseragam biru itu. Mungkin klo cuma ngemplang, naik kereta tanpa beli tiket, tidak meningkatkan resiko kecelakaan ya. Yang mengundang bencana adalah aksi masinis kereta yang menghentikan kereta sembarangan. Jadi, bapak-bapak tadi tidak turun di stasiun sperti penumpang yang sharusnya. Purwojaya yang seharusnya hanya berhenti di Bumiayu, Purwokerto, Kroya dan Cilacap pagi itu ngecer penumpang  tiga kali di daerah Subang-Indramayu. Satu kali berhenti di perkampungan, dua kali dipersawahan. Bapak yang duduk di belakang saya bergumam pelan,”Wah, skarang kreta api sudah kaya mobil pribadi saja, bisa turun di mana saja”.

Apakah yang seperti ini memenuhi aturan keselamatan bertransportasi?

Di Purwokerto, satu-satunya angkutan umum yang ada adalah angkutan kota berwarna orange. Angkot ini istimewa karena dilengkapi dengan fasilitas tambahan berjudul jengkok. Jengkok, atau dingklik dalam bahasa daerah dimana saya berasal, diletakkan diantara 2 lajur kursi yang menempel dinding angkot, juga di depan pintu. Jengkok ini efektif bisa meningkatkan jumlah penumpang yang terangkut dari 11 -benar kan ya klo angkot Espass itu seharusnya berpenumpang 11 saja?- menjadi 17 atau lebih. Yeah, 17. Jangan tanya seseknya kaya apa, turun-turun kaki bisa kesemutan, mengingat tidak ada space yang tersisa untuk beralih posisi. Penumpang yang di tetel sperti bandeng siap jual ini tentunya tidak memenuhi aturan keselamatan berkendara manapun juga.

Pak redaksi surat kabar yang saya baca malam sebelumnya mengatakan, pemerintah, operator dan penumpang sama-sama lalai dalam menciptakan transportasi yang aman. Jelas terlihat dari angkot orange ceria langganan saya, dulu. Kenapa polisi diam saja melihat keadaan ini? Kenapa pemilik angkot rela saja propertinya jadi cepet rusak karena sering over capacity? Kenapa sopir mau saja membawa orang sebanyak itu? Dan knapa penumpang tidak protes ditumpuk-tumpuk sperti itu?

See, bahwa teledor dalam bertransportasi adalah tanda yang melabeli kita semua.

OK lah, saya tidak akan menggenaralisir dengan mengatakan bahwa kita semua punya andil dalam memburuknya prognosis disiplin bertransportasi kita. Saya akan melihat dosa bertransportasi apa yang saya sumbangkan. Saya bermotor. Tapi saya tidak punya SIM. Tidak punya SIM C berarti tidak layak bermotor kan ya? Tapi saya nekat kemana-mana, membahayakan diri saya dan diri orang lain. Saya juga malas pake helm klo cuma ke kampus. Saya hanya memakai helm klo ada rencana mau ke kota. Dan alasan pemakaian helm saya adalah, saya ingin mengamankan kantong saya. Bukan nyawa saya.

Wah, membicarakan ini tidak akan ada habisnya, ya. Sperti halnya masalah lain, acak-adulnya transportasi kita adalah aglomerasi dari banyak hal kecil yang secara kolosal diabaikan. Mengutip Aa Gym, untuk memperbaikinya, kita bisa mulai dari hal-hal kecil, dari diri kita sendiri. Nah, skarang hal kecil apa yang bisa saya lakukan? Hmmm, mungkin dari rajin pakai helm ya. Sukur-sukur mau meninggalkan motor, kembali pada angkot dan becak lagi. Skalian untuk meredam global warming. Tapi, klo naik angkot, pastikan tidak mau ditumpuk-tumpuk kaya bandeng presto lagi. Dan membuat SIM, mungkin????

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s