bahanrenungan, ladieschat

tentang Aborsi, tentang Menanti Bayi.

Pemberitaan tentang digerebeknya klinik yang melayani praktek aborsi di Jakarta Utara mengingatkan saya pada kepergian seseorang yang saya kenal –sysk-. Dia adalah seseorang yang dunianya sesekali bersinggungan dengan dunia saya. Interaksi antara dunia kami tidak pernah manis selama ini. She did something bad and we had to discuss it, to know the reasons and find something to fix it.

Bukan sesuatu yang indah untuk dikenang. Tapi sperti kbanyakan orang, saya juga melihat ke belakang, mencari sesuatu yang menyenangkan untuk dikenang tentang dia saat dia sudah tidak ada. Dia masih muda, belum juga menginjak usia 22 tahun. Dia berbeda, dan perbedaan yang diusungnya itulah yang mempertemukan kami. Si sysk meninggal 2 minggu yang lalu.

Tidak ada yang tahu tentang detil bagaimana dia meninggal. Yang orang-orang katakan pada saya, sysk telah tiada. Itu saja.

Beberapa hari yang lalu seorang teman dokter dari klinik yang sempat merawatnya mengatakan pada saya bagaimana kejadiannya. Jdi sysk datang ke klinik dalam kondisi kritis. Sysk berada dalam sakaratul mautnya. Singkat cerita, klinik tempat teman saya bekerja itu tidak sanggup menangani kondisinya. Sysk dikirim ke Rumah Sakit, dan mninggal dalam perjalanan ke sana.

Teman saya meyakini klo sysk meninggal dalam keadaan hamil. Dan perdarahan hebat yang dialaminya adalah efek dari upaya menggugurkan kandungannya itu.

Dia masih sangat muda, dia sangat bersemangat, tapi dia pergi bgitu saja.

Teman saya yang lain, bukan yang dokter itu, amat terpukul karena hal ini. Kematian tragis seseorang di usianya yang amat muda, tentu saja menjadi menyedihkan bagi kita semua. Tapi teman saya terpukul bukan hanya karena hal itu. Dia amat sedih karena dia melihat ironi yang ada dalam kmatian sysk dan kehidupan pribadinya. Sysk hamil di luar nikah dan mninggal dalam upaya menghilangkan janinnya. Teman saya itu sudah 3 tahun mnikah dan blom ada tanda-tanda akan memiliki keturunan.

Allah jelas punya rencana buat kita semua. Tetapi kita, manusia, seringkali tidak bisa memahami rencana itu. Teman saya yang rutin ‘beribadah’ dengan segala macam atmosfer yang katanya bisa membantu –musik, aromaterapi, posisi tertentu, hitungan tertentu, you name it-, mengkonsumsi segala makanan yang disarankan, menjalani terapi hormon, berdoa siang malam dan amat mengharapkan hadirnya bayi, tetap saja belum diberi kepercayaan untuk hamil. Sementara sysk yang mungkin melakukannya sembunyi-sembunyi, jelas-jelas tidak menginginkan bayi, mendapatkan anugrah itu. 

Seorang teman saya yang lain lagi pernah khilaf di masa mudanya dulu. She did it, she got pregnant and she aborted her fetus. Skarang, saat mnunggu-nunggu hadirnya buah hati dalam pernikahannya, Allah mengujinya. Allah membuatnya mnunggu. Dalam sesalnya, teman saya kadang berucap, “Mungkin ini hukuman buat aku. Dulu aku membuangnya bgitu saja dan skarang aku tidak layak lagi mendapatkannya”

Mengakhiri posting saya –yang ternyata membuat saya mneteskan air mata skarang ini– saya cuma mau bilang, please don’t do it before you have a right to do it. Klopun sudah terlanjur –ya mau bagaimana lagi, namanya juga sudah terlanjur– tolong jangan digugurkan bgitu saja. Pikirkan orang-orang sperti teman saya yang sudah mati-matian mengusahakan tapi tidak juga mendapatkannya. Atau mereka-mereka sperti teman saya yang memutuskan untuk menggugurkan kandungannya saat masih remaja dan ternyata tidak bisa lagi hamil saat dia menginginkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s