gakpenting

Pemanasan Pagi Ini: Semua Berawal dari T

Gara-gara hujan smalaman yang baru berenti jam 7.30 tadi, officially mood saya ikutan suram. Ada beberapa pekerjaan, tapi malas banget untuk memulainya. Untungnya Aan punya permainan kecil yang bisa menjadi pemanasan saya hari ini. Ikutan, ya ^_^

Rules:
It’s looks than it harder! Copy to my answers, erase your own note, enter twenty people, and tag yourself. Use the first letter of your name to answer each of the following questions. They have to be real; nothing made up! If the person before you had the same first initial, you must use different answers. You can not use any word twice and you can’t use your name for the boy/girl name question.

1. What is your name : Tanti
2. A four Letter Word : Time
3. A boy’s Name : Tariq
4. A girl’s Name : Tiara
5. An occupation : Taxi driver
6. A color : Tan
7. Something you’ll wear: Thin orange veil by Ummi Collection
8. A verb: Thank
9. A food :  Tamarind pasta
10. Something found in the bathroom: Tempat sabun
11. A place : Tamansari
12. A reason for being late : Telat bangun
13. Something you’d shout : Ternyata!
14. A movie title : Toy Story
15. Something you drink : Tomato juice
16. A musical group : Texas
17. An animal : Turtle
18. A street name: Tukangan
19. A type of car : Toyota Land Cruiser
20. The title of a song : Twisted Logic

Ayo, yang lagi gak punya kerjaan ato punya kerjaan tapi masih males mengerjakan, silahkan ikut iseng juga ^_^

gubraggabrug, indonesiaku

Kemana Saja Ya, Saya?

Tadi seorang teman bertanya, “What do you do in home, all alone?”

Si temen ini lagi suka bicara pake bahasa Inggris, tapi karena prosesor saya melambat akhir-akhir ini, saya menjawab dalam bahasa yang tidak perlu saya pikir dulu.

“Internetan, pacaran”.

Ya, jawaban saya tidak sepenuhnya benar, tapi saya juga tidak bohong. Most of time I lay on my bed, soale bawaannya males banget mo ngapa-ngapain. Klo pas bisa memaksa diri bangun, saya on line di ebuddy sambil baca-baca apalah yang  bisa saya baca.

Kepikiran, it will be different if I have someone around me. Mungkin saya bisa mengurangi waktu saya di kasur, karena ada yang mengingatkan klo saya sudah kelamaan di berbaring. Ada teman buat ngobrol-ngobrol ringan untuk sekedar mengalihkan perhatian saya. Dan muncul dua alternatif dalam pikiran saya: mencari rewang atau memanggil adik saya dari Karanganyar.

Alternatif pertama langsung saya coret. Manja amat sih Tan, masa iya belum apa-apa sudah mengandalkan orang lain untuk mengerjakan pekerjaan domestik saya. Enggak lah, saya masih mampu mengerjakannya. Lagian, mencari rewang yang nginep di Pwt ini sulitnya minta ampun. Boro-boro nginep, cari yang jam kerjanya jam 7 sampe jam 4 saja bikin pusing kok. Mb Dini yang beberapa waktu lalu ditinggal Mbak Jar yang sudah bertahun-tahun bekerja dengannya, masih juga mengeluhkan sulitnya cari rewang yang tepat sampe skarang. Knapa saya berharap yang mau nginep? Ya klo siang saya lebih banyak diluaran, padahal tujuan utama saya cari rewang adalah mencari teman. Klo saya pulang jam 3 terus si Mbak pamit jam 4, ya gak dapet lah tujuannya.

Alternatif kedua awalnya terkesan pas ya, enak buat semua. Adik saya yang masih mnunggu terbitnya SK pengangkatan dirinya yang gak jelas kapan waktunya itu jelas bisa dikaryakan di sini. Tapi bgitu saya ingat klo ada hal yang jauh lebih penting untuk dijaganya disana, dibanding seorang kakak yang sedang mabok dan kesepian ini, pilihan itu juga saya drop.

Here I am, alone and nousea, inside a house with many rats. Huhuhuhu, keluhan saya ini pathetic skali ya ^_^

Kembali ke jawaban saya ke teman saya tadi, saya mnemukan hal besar yang seharusnya menarik energi saya padanya, tapi ternyata saya tidak mengetahuinya sampe kmaren. Saya jadi sibuk bertanya ke diri saya sendiri, kmana saja saya slama ini sampe-sampe saya tidak pernah mendengar hal itu? Saya sedang bicara tentang Homo floresiensis. Iya ya, apa yang saya lakukan slama ini kok saya sampe baru mendengar tentang hal ini 20 jam yang lalu??

Saya kmaren pertama kali membaca tentang ini di National Geographic. Awalnya saya membaca tentang decoding genome Homo neandherthal, terus saya baca related topic yang tesedia. Stelah beberapa kali mengikuti related topic yang ditawarkan, saya sampai pada Homo floresiensis ini. Dan saya mulai ngubek-ubek web untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak. I was simply in love with this topic.

Knapa? Pertama, karena term yang digunakan para peneliti untuk mendeskripsikan makhluk ini. Hobbit. Dan mendapati fakta bahwa khayalan Tolkien ternyata membumi, pernah ada creature smacam itu di bumi, membuat saya smakin mengagumi almarhum. What an imagination!! Kedua, karena lokasi ditemukannya adalah di Indonesia. Wlopun jelas-jelas saya tidak berkontribusi terhadap penemuan itu, tahunya juga telatttt banget, tetap saja saya merasa ada sesuatu dalam fosil ini yang membanggakan. I have to say, saya juga terinfeksi penyakit gak mutu ini, penyakitnya orang Indonesia, hehehe. Dan alasan terakhir knapa saya tertarik banget pada hal ini adalah bagaimana science mempelajarinya. Saya terkagum-kagum karenanya.

Nah, pas baca di Wikipedia, pada bagian Teuku Jacob yang ‘meminjam tanpa ijin, mengembalikannya dalam keadaan yang tidak prima dan menyangkal klo kerusakan itu adalah akibat perbuatannya, saya jadi ingat pada satu quote yang sampe skarang masih tertanam kuat di kepala saya. Mahasiswa itu harus bangga berdiri di bawah kepalanya sendiri. It was his quote. Teuku Jacob’s quote. Saya berpikir, apakah bangga berdiri di bawah kepala sendiri itu dapat diartikan sebagai berani melakukan tindakan yang tidak bertanggungjawab ya, as what he did to the fossil?

Quote itu adalah satu dari tiga hal yang masih bisa saya ingat dari penugasan saya mewawancarai Pak Jacob untuk Bulpos edisi spesial mahasiswa baru, entah tahun berapa, saya sudah tidak ingat lagi. Hal lain yang masih saya ingat adalah susahnya ketemu Pak Jacob, stengah mati lah melewati tembok berlapis Pusat Studi Paleontologi dan FK untuk bisa bicara dengan beliau. Dan yang ketiga, bagaimana beliau menggebrak meja keras-keras, hanya untuk menunjukkan bahwa kami, saya dan Ganis, punya masalah komunikasi dengan profesor yang sudah lanjut usia. Ampun, masa yang sudah lama berlalu.

Kembali pada Homo flosesiensis, saya masih juga bertanya. Sayanya yang gak peka berita atau media kita memang tidak meng-cover-nya ya?

pwtajah

tentang Saya, Tikus dan Kucing

Sejak dulu saya tidak bermasalah dengan kedua hewan itu. Saya menyukai kucing, klo di rumah pas ada kucing -adik saya suka memelihara kucing tak bertuan, tapi seringnya tidak tahan lama. Entah mati ato pergi, biasanya gak lebih stahun kucing-kucing itu mondok di rumah saya– saya tidak berkeberatan si kucing tidur di kaki saya. Tapi klo suka banget ya tidak juga, soale klo diminta untuk memelihara sudfah pasti saya tidak sanggup. Klo tikus, ya tentu saja saya tidak jijik. Saya mengakhiri masa kuliah S1 saya dengan skripsi yang melibatkan 5 bulan bersama tikus siang malam. Saya bisa makan dan minum di lab tanpa terpengaruh aroma kotoran hewan berbuntut panjang itu.

Tapi, saya mulai terganggu dengan tikus dan amat mengharap kucing liar mengeong sepanjang malam setelah saya menempati kontrakan baru saya dua minggu terakhir ini.

Ternyata kontrakan saya adalah istana tikus. Sepanjang malam suara tikus bercicitan dan berkejar-kejaran. Dan baunya. Ampun deh. Bau tikus dan kotorannya membuat mual saya bertambah parah stiap harinya di minggu pertama saya di sana. Berita bagusnya, intensitas mereka mengeluarkan sisa metabolisme berkurang drastis di minggu kedua dan awal minggu ketiga ini. Spertinya mereka mulai pekewuh sama saya yang membersihkan dapur sehari dua kali gara-gara mereka. Trus, mereka hanya berhajat di dapur saja, tidak pernah beranjak ke ruang lain. Dan, saya tidak pernah melihat fisik mereka. Mereka bergerak amat cepat dan pinter bersembunyi. What a creature.

Nah, aktivitas tikus di rumah saya akan berkurang dengan drastis ktika kucing liar perumahan menunaikan aktivitas biologisnya. Tahu sendiri lah ya btapa berisiknya kucing-kucing itu kalo lagi begituan. Suara mereka ternyata membuat nyali tikus-tikus ciut. Dan mereka diam saja spanjang malam. Saya tidak pernah mengharapkan ada kucing kawin didepan rumah saya sebelumnya, tapi skarang saya mnantikannya. Amat mnantikannya. Hahaha…

Minggu sore kmaren saya menjalani sesi ngerumpi bersama ibu perumahan yang pertama. Dari rumpian itu saya tahu, bahwa rumah saya bukan satu-satunya istana tikus. Ternyata, smua rumah yang ada di blok saya bermasalah dengan tikus. Dan saya mniatkan dalam hati, saya tidak mau tinggal lama di blok D4. Tidak mau.

Kmaren sore, saya mendapati bangkai tikus termutilasi di depan pintu saya. Spertinya kucing yang baik hati memburu tikus, membunuhnya tapi tidak bisa menghabiskannya. Dan bgitulah, saya menghabiskan sore saya untuk membersihkan sisa-sisa itu.

Dan cerita saya bersama tikus dan kucing masih akan terus berlanjut.

dearbaby, indonesiaku, tan

Bangjo Mati dan Berburu Soto

Hari ini saya relatif beredar di kota, ada beberapa hal yang perlu saya lakukan. Dan, saya suka suasana di beberapa perempatan. Orang-orang berkendara dengan pelan, santun tengok kanan kiri, rela mengalah tanpa olahraga jempol mainin klakson. Andai saja stiap hari suasananya kaya gini ya, di perempatan-perempatan itu.

Penyebabnya adalah giliran mati lampu. Hari ini PLN memutuskan aliran listrik dari Arcawinangun ke barat sampai Jl Ovis, trus ke utara sampai Jl. HR Bunyamin.

Ya, suasana sperti ini jarang kan saya temui. Sekilas memang crowded, tapi rela ngalahnya itu loh yang saya sukai. Biasanya kan ktika lampu hijau menyala, orang-orang pada rebutan jalan duluan, klo ada yg pelan didepannya udah diklaksonin dengan smena-mena. Padahal, di Pwt ini lampu hijaunya dibuka untuk 2 jalur skaligus. Jadinya ya megahi, sudah crowded, klakson bersahut-sahutan, ngebut-ngebut lagi.

Memang ya, yang namanya keterbatasan, kekurangan, itu bisa membangkitkan sesuatu yang positif diantara kita. Coba klo tidak mati lampu, sebagian besar orang tidak akan menghormati pengguna jalan yang lain, maunya menang sendiri: paling duluan mninggalkan perempatan. Tapi karena mati lampu, ngrasa kok kurang aman klo tetep ngebut-ngebutan, ya akhirnya pelan-pelan. Contoh lain, di lokasi bencana orang-orang akan kliatan guyub-nya. Ya, karena ngrasa gak secure sama kondisinya sendiri apa ya, jadinya ya, bersama-sama menghadapi bencana itu.

Klo untuk saya, ketiadaan partner di awal khamilan saya ini spertinya membuat saya lebih tough. Sendirian di rumah, jauh dari kluarga dan terutama suami, memaksa saya untuk mengurangi tuntutan saya atas sebuah kenyamanan. Misalnya, saya kmaren pengen banget makan soto klebengan. Tapi mana mungkin saya mnempuh perjalanan 4,5 jam hanya untuk semangkuk soto sapi panas dan dua potong tempe goreng? Jadilah saya ke kota, makan soto semarang made in Pak No. Ya, gak spenuhnya memenuhi hasrat awal saya, tapi stidaknya saya sudah brusaha memenuhinya. Klopun bayi saya ngeces nantinya, -smoga tidak, saya tidak percaya hal itu-, maka ngecesnya gak parah-parah amat, hehehe.

Contoh lain, klo saya memuntahkan semua makanan yang berhasil saya telan sebelumnya, saya akan diam sejenak, berbaring. Trus, setelah enakan, saya akan bergerak ke dapur untuk menemukan makanan lain yang bisa saya makan. Padahal, diantara semua simptom penyakit yang paling saya takuti sebelumnya adalah muntah. Dan klo saya dulu muntah, saya tidak akan mau makan apa-apa lagi. Ya karena nyamannya kan memang sperti itu. Tapi bagaimana lagi, karena ketiadaan orang lain disekitar saya, maka saya mengurangi kemanjaan saya. Klo saya kelamaan mogok makan pasca muntah, bisa-bisa saya kurang nutrisi nanti.

Saatnya beres-beres, kasur di rumah sudah mnunggu ^_^

dearbaby, tan, ume

Mohon Doanya, Semua…

Susah memang ya klo jadi orang yang amat mudah terbaca. Susah menyimpan rahasia. Saya sebenarnya juga pengen menyimpan berita kehamilan saya dan memberitakannya stelah trimester pertama terlampaui. Tapi apa daya, teman-teman saya terlanjur hapal siklus saya dan tahu klo saya tidak ada rencana mencegah khamilan pas mengunjungi suami di Bangkok bulan kmaren. Makanya saya cuma bisa tersenyum dan minta didoakan smoga smuanya lancar dan sehat ktika mereka mengeluarkan tebakan jitu mereka pas saat saya tiba-tiba sakit minggu lalu. Padahal, hari itu baru beberapa hari dari kapan sharusnya siklus saya tiba.

Alhamdulillah, Allah telah memberikan amanah pada kami. Minta doanya smua, smoga kami, adik bayi dan saya, selalu dianugerahi kesehatan dan keselamatan selama proses kehamilan ini sampai nanti kelahiran tiba.

Tentang kondisi saya dalam minggu-minggu awal ini, sama sperti ibu-ibu lain spertinya. Extended morning sickness dan kmalasan yang luar biasa. Saya mulai membiasakan diri dengan rasa mual sepanjang hari. Nousea and vomitting, sometimes. Dan saya yang aslinya suka tidur ini jadi amat suka tidur. Klo udah diatas kasur susah mninggalkannya. Satu-satunya hal yang bisa saya nikmati dirumah adalah tidur. Brangkat gasik ke kampus adalah sesuatu yang amat sulit untuk dilakukan minggu-minggu ini. Makanya suami sering iseng nanya,”Ini yang males Adek bayinya ato Mamanya ya?”

Tolong kami Allah, jaga kami berdua.