dearbaby, indonesiaku, tan

Bangjo Mati dan Berburu Soto

Hari ini saya relatif beredar di kota, ada beberapa hal yang perlu saya lakukan. Dan, saya suka suasana di beberapa perempatan. Orang-orang berkendara dengan pelan, santun tengok kanan kiri, rela mengalah tanpa olahraga jempol mainin klakson. Andai saja stiap hari suasananya kaya gini ya, di perempatan-perempatan itu.

Penyebabnya adalah giliran mati lampu. Hari ini PLN memutuskan aliran listrik dari Arcawinangun ke barat sampai Jl Ovis, trus ke utara sampai Jl. HR Bunyamin.

Ya, suasana sperti ini jarang kan saya temui. Sekilas memang crowded, tapi rela ngalahnya itu loh yang saya sukai. Biasanya kan ktika lampu hijau menyala, orang-orang pada rebutan jalan duluan, klo ada yg pelan didepannya udah diklaksonin dengan smena-mena. Padahal, di Pwt ini lampu hijaunya dibuka untuk 2 jalur skaligus. Jadinya ya megahi, sudah crowded, klakson bersahut-sahutan, ngebut-ngebut lagi.

Memang ya, yang namanya keterbatasan, kekurangan, itu bisa membangkitkan sesuatu yang positif diantara kita. Coba klo tidak mati lampu, sebagian besar orang tidak akan menghormati pengguna jalan yang lain, maunya menang sendiri: paling duluan mninggalkan perempatan. Tapi karena mati lampu, ngrasa kok kurang aman klo tetep ngebut-ngebutan, ya akhirnya pelan-pelan. Contoh lain, di lokasi bencana orang-orang akan kliatan guyub-nya. Ya, karena ngrasa gak secure sama kondisinya sendiri apa ya, jadinya ya, bersama-sama menghadapi bencana itu.

Klo untuk saya, ketiadaan partner di awal khamilan saya ini spertinya membuat saya lebih tough. Sendirian di rumah, jauh dari kluarga dan terutama suami, memaksa saya untuk mengurangi tuntutan saya atas sebuah kenyamanan. Misalnya, saya kmaren pengen banget makan soto klebengan. Tapi mana mungkin saya mnempuh perjalanan 4,5 jam hanya untuk semangkuk soto sapi panas dan dua potong tempe goreng? Jadilah saya ke kota, makan soto semarang made in Pak No. Ya, gak spenuhnya memenuhi hasrat awal saya, tapi stidaknya saya sudah brusaha memenuhinya. Klopun bayi saya ngeces nantinya, -smoga tidak, saya tidak percaya hal itu-, maka ngecesnya gak parah-parah amat, hehehe.

Contoh lain, klo saya memuntahkan semua makanan yang berhasil saya telan sebelumnya, saya akan diam sejenak, berbaring. Trus, setelah enakan, saya akan bergerak ke dapur untuk menemukan makanan lain yang bisa saya makan. Padahal, diantara semua simptom penyakit yang paling saya takuti sebelumnya adalah muntah. Dan klo saya dulu muntah, saya tidak akan mau makan apa-apa lagi. Ya karena nyamannya kan memang sperti itu. Tapi bagaimana lagi, karena ketiadaan orang lain disekitar saya, maka saya mengurangi kemanjaan saya. Klo saya kelamaan mogok makan pasca muntah, bisa-bisa saya kurang nutrisi nanti.

Saatnya beres-beres, kasur di rumah sudah mnunggu ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s