gubraggabrug, indonesiaku

Kemana Saja Ya, Saya?

Tadi seorang teman bertanya, “What do you do in home, all alone?”

Si temen ini lagi suka bicara pake bahasa Inggris, tapi karena prosesor saya melambat akhir-akhir ini, saya menjawab dalam bahasa yang tidak perlu saya pikir dulu.

“Internetan, pacaran”.

Ya, jawaban saya tidak sepenuhnya benar, tapi saya juga tidak bohong. Most of time I lay on my bed, soale bawaannya males banget mo ngapa-ngapain. Klo pas bisa memaksa diri bangun, saya on line di ebuddy sambil baca-baca apalah yang  bisa saya baca.

Kepikiran, it will be different if I have someone around me. Mungkin saya bisa mengurangi waktu saya di kasur, karena ada yang mengingatkan klo saya sudah kelamaan di berbaring. Ada teman buat ngobrol-ngobrol ringan untuk sekedar mengalihkan perhatian saya. Dan muncul dua alternatif dalam pikiran saya: mencari rewang atau memanggil adik saya dari Karanganyar.

Alternatif pertama langsung saya coret. Manja amat sih Tan, masa iya belum apa-apa sudah mengandalkan orang lain untuk mengerjakan pekerjaan domestik saya. Enggak lah, saya masih mampu mengerjakannya. Lagian, mencari rewang yang nginep di Pwt ini sulitnya minta ampun. Boro-boro nginep, cari yang jam kerjanya jam 7 sampe jam 4 saja bikin pusing kok. Mb Dini yang beberapa waktu lalu ditinggal Mbak Jar yang sudah bertahun-tahun bekerja dengannya, masih juga mengeluhkan sulitnya cari rewang yang tepat sampe skarang. Knapa saya berharap yang mau nginep? Ya klo siang saya lebih banyak diluaran, padahal tujuan utama saya cari rewang adalah mencari teman. Klo saya pulang jam 3 terus si Mbak pamit jam 4, ya gak dapet lah tujuannya.

Alternatif kedua awalnya terkesan pas ya, enak buat semua. Adik saya yang masih mnunggu terbitnya SK pengangkatan dirinya yang gak jelas kapan waktunya itu jelas bisa dikaryakan di sini. Tapi bgitu saya ingat klo ada hal yang jauh lebih penting untuk dijaganya disana, dibanding seorang kakak yang sedang mabok dan kesepian ini, pilihan itu juga saya drop.

Here I am, alone and nousea, inside a house with many rats. Huhuhuhu, keluhan saya ini pathetic skali ya ^_^

Kembali ke jawaban saya ke teman saya tadi, saya mnemukan hal besar yang seharusnya menarik energi saya padanya, tapi ternyata saya tidak mengetahuinya sampe kmaren. Saya jadi sibuk bertanya ke diri saya sendiri, kmana saja saya slama ini sampe-sampe saya tidak pernah mendengar hal itu? Saya sedang bicara tentang Homo floresiensis. Iya ya, apa yang saya lakukan slama ini kok saya sampe baru mendengar tentang hal ini 20 jam yang lalu??

Saya kmaren pertama kali membaca tentang ini di National Geographic. Awalnya saya membaca tentang decoding genome Homo neandherthal, terus saya baca related topic yang tesedia. Stelah beberapa kali mengikuti related topic yang ditawarkan, saya sampai pada Homo floresiensis ini. Dan saya mulai ngubek-ubek web untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak. I was simply in love with this topic.

Knapa? Pertama, karena term yang digunakan para peneliti untuk mendeskripsikan makhluk ini. Hobbit. Dan mendapati fakta bahwa khayalan Tolkien ternyata membumi, pernah ada creature smacam itu di bumi, membuat saya smakin mengagumi almarhum. What an imagination!! Kedua, karena lokasi ditemukannya adalah di Indonesia. Wlopun jelas-jelas saya tidak berkontribusi terhadap penemuan itu, tahunya juga telatttt banget, tetap saja saya merasa ada sesuatu dalam fosil ini yang membanggakan. I have to say, saya juga terinfeksi penyakit gak mutu ini, penyakitnya orang Indonesia, hehehe. Dan alasan terakhir knapa saya tertarik banget pada hal ini adalah bagaimana science mempelajarinya. Saya terkagum-kagum karenanya.

Nah, pas baca di Wikipedia, pada bagian Teuku Jacob yang ‘meminjam tanpa ijin, mengembalikannya dalam keadaan yang tidak prima dan menyangkal klo kerusakan itu adalah akibat perbuatannya, saya jadi ingat pada satu quote yang sampe skarang masih tertanam kuat di kepala saya. Mahasiswa itu harus bangga berdiri di bawah kepalanya sendiri. It was his quote. Teuku Jacob’s quote. Saya berpikir, apakah bangga berdiri di bawah kepala sendiri itu dapat diartikan sebagai berani melakukan tindakan yang tidak bertanggungjawab ya, as what he did to the fossil?

Quote itu adalah satu dari tiga hal yang masih bisa saya ingat dari penugasan saya mewawancarai Pak Jacob untuk Bulpos edisi spesial mahasiswa baru, entah tahun berapa, saya sudah tidak ingat lagi. Hal lain yang masih saya ingat adalah susahnya ketemu Pak Jacob, stengah mati lah melewati tembok berlapis Pusat Studi Paleontologi dan FK untuk bisa bicara dengan beliau. Dan yang ketiga, bagaimana beliau menggebrak meja keras-keras, hanya untuk menunjukkan bahwa kami, saya dan Ganis, punya masalah komunikasi dengan profesor yang sudah lanjut usia. Ampun, masa yang sudah lama berlalu.

Kembali pada Homo flosesiensis, saya masih juga bertanya. Sayanya yang gak peka berita atau media kita memang tidak meng-cover-nya ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s