dearbaby, pwtajah

Baby Ndut dan dsog

Kemarin sore jadwal saya ketemu dsog saya. Dan, saya mendapatkan nomor antrian 17. Padahal saya sudah reservasi sehari sebelumnya loh. Untung saja periksanya ditemani suami. Klo gak mah, saya pasti sudah membatalkan janji kmaren, membuat janji untuk hari laen dengan nomor antrian terkecil. Dan pulang dengan manisnya.

Hasil periksanya, all is good. Alhamdulillah. Dan kata dr. Daliman spog kami, Dedek kami cenderung besar. Di mingggu ke 11 lewat 6 harinya, panjangnya sudah 5,8 cm. Suami girang banget mendengar ini, ngrasa bangga karena posturnya diwarisi oleh bayi kami. Dan kami mulai memanggil Dedek dengan Baby Ndut karenanya, hehehehe…

Waktu ngantri kmaren, suami iseng menghitung kira-kira berapa income dr. Daliman stiap harinya. Katakanlah stiap hari ada 50 pasien, pagi 15 dan malam 35. Biaya untuk periksanya saja sudah 5 juta sharinya. Katakanlah stengah dari jumlah pasiennya menerima obat, –yeah, dsog kesayangan kita semua ini masih mempraktekkan self dispensing saudara-saudara– dengan rata-rata 100 ribu per pasien, ya ada 2,5 juta dari obat ini. Wah wah, bukan uang yang sedikit ya.

Kontras dengan antrian sadis pasien di tempat praktek dr. Daliman, saya melihat lengangnya praktek 2 dsog lain dalam perjalanan saya dari Dukuhwluh ke Dr. Angka. Kenapa ya, ada praktek yang ramenya ampun-ampunan sampe yang lengang-lengang saja?

Saya dulu memilih dr. Daliman hanya karena sebagian besar teman saya adalah pasiennya. Mereka puas, dan saya ikutan ksana. Setelah ketemu langsung, Bapak ini sama sekali tidak mengecewakan. Enak buat konsultasi, sabar menjelaskan dan terutama kehadiran Ny. Daliman dan segala feminitasnya yang amat menenangkan di ruang praktek. Love it.

Saya jadi inget tulisan Atul Gawande tentang pembentukan kemampuan seorang dokter. Dikatakan, dalam 10-15 tahun awal prakteknya, kemampuan seorang dokter berada pada kurva yang menaik, gradiennya positif, sampai pada level tertentu. Nah, kemampuan pada level maksimal ini akan terus bertahan hingga kurang lebih 5 tahunan sebelum sang dokter pensiun. Nah, klo dihubungkan dengan teori ini, saya bisa memahami kenapa kok tempat praktek dr. Daliman dan dr. Hendro serta beberapa nama spog kenamaan di Pwt ini panen pasien, sementara yang lain-lain harus sabar mnunggu tumbuhnya kepercayaan pasien pada kemampuan mereka. Nama-nama yang saya sebutkan di atas memang spog-spog senior yang jam terbang dan pengalamannya tidak perlu diragukan lagi.

dearbaby, ume

Menunggu Suami

Up date kondisi di minggu ke 10 ini, malas saya semakin menjadi-jadi. Jangan tanya kapan terakhir rumah saya pel. Ato terakhir kali saya mencuci. Saya sudah lupa, hehehe. Jadi, spulang dari kampus saya pasti ngasur. Entah tidur, baca-baca or sekedar bengong saja. Bangun paling cuma buat sholat dan makan. Kamar adalah tempat ternyaman pokoknya. Untung saja, bala bantuan yang paling saya nantikan akan segera datang. Yay, gak sabar mnunggu tanggal 21 nanti ^_^

Kemalasan saya ini terkait dengan intensitas mual muntah yang makin hebat saja hari-hari ini. Saya selalu memuntahkan apapun yang saya makan, dan menikmati mual yang berkepanjangan.Trus jangan lupakan pusing dan demam yang kadang ikutan menyapa. semua hal itulah yang membuat saya nylungsep di kasur sepanjang hari.

The good news is, kadar percaya diri saya sepertinya menggunung akhir-akhir ini. Saya jadi amat nyaman dengan bentuk tubuh saya yang, ehm, semua orang bisa liat gak ada indah-indahnya sama skali ini. Saya PD memakai outfit yang selama ini saya tumpuk dilemari karena terlalu memperlihatkan perut ndut saya dulu. Nah, skarang saya malah bangga memakainya, memperlihatkan perut tak rata saya ini dengan manisnya. Mumpung si satpam blom pulang dan melarang saya memakainya, ya, mari bergenit-genit bersama Dik ya, hihihi.

Saatnya bekerja. Makalah dan poster buat ke Makasar blom juga saya kerjakan, padahal Rabu saya sudah berangkat ke Jogja. Hmmmm, smoga selesai tepat waktu ya. Btw saya agak-agak kurang antusias dengan perjalanan ke Makasar ini. Lah gimana mau antusias klo pas saya take off ke sana, pas suami landing di Jakarta? Huhuhu, akhirnya kami memutuskan suami pulang ke Kendal dulu, baru tanggal 21 nanti ke Purwokerto ketika saya kembali dari Makasar. Penjadwalan yang kaco, what more can I say?

dearbaby, ume

the Future

I am learning. I’m preparing anything I can to handle it well when the time is come. Tapi knapa juga harus menawarkan option itu??

It was the last thing on my mind. It is still. Jadi tolong jangan lemahkan saya dengan hal itu. It hurts, it really hurts.

dearbaby, tan

Berhasil… Berhasil

Tadi saya amat menginginkan japanese fastfood yang hanya ada di kota. Kayanya enak deh klo makan crab roll sambil minum segelas besar es marshmallow dari counter sebelahnya. Tapi, jadi mikir. Saya brani tidak ya motoran malam-malam ksana?

Sejarah saya bersama motor masih amat singkat. Saya mulai aktif menggunakannya sejak suami brangkat ke Bangkok. Alasannya simple, dari pada motornya nganggur. Padahal, saya pertama belajar pake motor dulu pas masih di Jogja, diajari Ika. Itupun cuman skali thok. Bertahun-tahun kmudian, di awal-awal saya di Purwokerto, Erika memaksa saya memakai motornya skali, dan dia kapok karena saya amat sangat gak meyakinkan untuk membawa motor. Dua minggu sblom suami berangkat, saya mulai belajar intensif. Dan ktika suami brangkat, officially saya harus bisa motoran. Atau kembali ke jaman jalan kaki dan tergantung pada becak-angkot lagi. Saya memilih nekat, dengan resiko membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.

Kembali pada crab roll tadi, saya akhirnya telpon suami. Brani gak ya? Saya kan selama ini belum pernah kluar malam sendirian. Pulang malam-malam pernah beberapa kali, tapi berangkat dari rumahnya tidak pernah malam. Jawaban suami membuat saya langsung ambil kontak dan mluncur ke kota. Ya berangkat saja, tapi hati-hati, kata suami. 

Dan tahu-tahu, saya sudah parkir di Moro. Haaaaa, seneng banget. Saya akhirnya berhasil. Saya girang banget karena selama ini saya tidak berani parkir di sana, karena terlalu crowded mnurut saya. Ribet dan menyusahkan. Teman-teman saya paling suka meledek habit boros tenaga saya ini: parkir di Tamara Plaza, trus jalan kaki ke Moro. Tadi, untuk pertama kalinya saya berhasil parkir di spot yang seharusnya. Hihihi, brasa hebat banget ya saya ini, padahal mah klo orang lain inih biasaaaa banget adanya ^_^

Dan ternyata saya benar-benar menikmati makan malam saya tadi. Suami sampai takjub melihat ukuran gelas jumbo yang saya kirimkan padanya tadi. Dan saya tidak jadi memesan es marshmallow tadi. Saya berpaling pada SMP, es melon pepaya. Tapi karena saya lagi gak pengen pepaya, saya minta pepayanya diganti buah lain. Dan, saya mendapati alpukat di gelas saya. Seneng deh. Dan bagian yang paling membahagiakan, saya tidak memuntahkan apapun malam ini. Alhamdulillah, bener-bener membahagiakan….

Bicara tentang muntah-memuntahkan makanan, minggu-minggu ini saya amat mensyukuri apa yang terjadi pada diri saya. Maksud saya, rasio antara makanan yang bisa saya makan dan intensitas muntah yang masih bisa dibilang surplus ini.  Teman saya saat ini sedang terbaring di rumah sakit karena hiperemesis yang dideritanya. Usia kehamilannya hampir sama dengan saya, tapi rasio makan ma muntahnya gila-gilaan. Teman saya ini juga tinggal sendiri, sama seperti saya. Suaminya di Kalimantan sementara keluarganya di Jogja. Nah, klo saya sering kalah sama perut, artinya kalau saya lapar pasti saya akan makan lagi walaupun nantinya keluar juga, tapi setidaknya saya makan. Dan saya yakin jeda waktu antara saya makan dan muntah pasti sudah dimanfaatkan saluran pencernaan saya untuk mendapatkan sedikit nutrisi. Klo temen saya ini ternyata setelah muntah tidak bisa makan sama sekali, sehingga kondisinya drop karena dehidrasi. Sekarang dia dibawa pulang ke Jogja oleh keluarganya dan menerima nutrisi via intra vena. Sabar Mb Iie ya, smoga semuanya berjalan dengan baik, sehat dan selamat pada akhirnya.

Selain faktor perbandingan tersebut, saya yang lebih bisa menerima kondisi saya ini sepertinya juga memberikan ketenangan yang signifikan. Beberapa waktu yang lalu saya khawatir dengan intensitas mual muntah yang saya alami, saya khawatir klo itu akan membawa efek negatif buat adik bayi. Di awal minggu ini saya membaca kembali Complicated-nya Atul Gawande. Di sana saya menemukan bahwa ternyata muntah adalah salah satu mekanisme tubuh kita untuk melindungi janin yang sedang berkembang di dalam sana. Beberapa makanan yang aman bagi ibu, ternyata bisa berbahaya buat janin. Dan sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat aborsi pada kelompok bumil yang mengalami muntah lebih rendah dibandingkan pada kelompok bumil yang tidak mengalaminya. Dan tentang kebutuhan nutrisi janin, saya berlega hati karena kata Gawande, janin belum butuh terlalu banyak asupan nutrisi, masih bisa di cover oleh cadangan lemak emaknya. Beneran deh, saya lega baca ini, soale lemak saya kan lumayan berlimpah ya. adik bayi tidak akan kekurangan kok di dalam sana.

Jadi ya, saya menjalani hari-hari saya dengan perasaan yang lebih ringan. Saya tetap makan apapun yang bisa saya makan, mencoba memenuhi anjuran dokter tentang pola makan dan diet, tapi saya tidak terlalu down ketika saya memuntahkannya. Karena saya yakin, tubuh saya pasti telah mengembil yang benar-benar dibutuhkannya, yang aman buat adik bayi, sebelum memuntahkannya. Bismillah, smoga smuanya berjalan dengan baik, Dik ya…