dearbaby, tan

Berhasil… Berhasil

Tadi saya amat menginginkan japanese fastfood yang hanya ada di kota. Kayanya enak deh klo makan crab roll sambil minum segelas besar es marshmallow dari counter sebelahnya. Tapi, jadi mikir. Saya brani tidak ya motoran malam-malam ksana?

Sejarah saya bersama motor masih amat singkat. Saya mulai aktif menggunakannya sejak suami brangkat ke Bangkok. Alasannya simple, dari pada motornya nganggur. Padahal, saya pertama belajar pake motor dulu pas masih di Jogja, diajari Ika. Itupun cuman skali thok. Bertahun-tahun kmudian, di awal-awal saya di Purwokerto, Erika memaksa saya memakai motornya skali, dan dia kapok karena saya amat sangat gak meyakinkan untuk membawa motor. Dua minggu sblom suami berangkat, saya mulai belajar intensif. Dan ktika suami brangkat, officially saya harus bisa motoran. Atau kembali ke jaman jalan kaki dan tergantung pada becak-angkot lagi. Saya memilih nekat, dengan resiko membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.

Kembali pada crab roll tadi, saya akhirnya telpon suami. Brani gak ya? Saya kan selama ini belum pernah kluar malam sendirian. Pulang malam-malam pernah beberapa kali, tapi berangkat dari rumahnya tidak pernah malam. Jawaban suami membuat saya langsung ambil kontak dan mluncur ke kota. Ya berangkat saja, tapi hati-hati, kata suami. 

Dan tahu-tahu, saya sudah parkir di Moro. Haaaaa, seneng banget. Saya akhirnya berhasil. Saya girang banget karena selama ini saya tidak berani parkir di sana, karena terlalu crowded mnurut saya. Ribet dan menyusahkan. Teman-teman saya paling suka meledek habit boros tenaga saya ini: parkir di Tamara Plaza, trus jalan kaki ke Moro. Tadi, untuk pertama kalinya saya berhasil parkir di spot yang seharusnya. Hihihi, brasa hebat banget ya saya ini, padahal mah klo orang lain inih biasaaaa banget adanya ^_^

Dan ternyata saya benar-benar menikmati makan malam saya tadi. Suami sampai takjub melihat ukuran gelas jumbo yang saya kirimkan padanya tadi. Dan saya tidak jadi memesan es marshmallow tadi. Saya berpaling pada SMP, es melon pepaya. Tapi karena saya lagi gak pengen pepaya, saya minta pepayanya diganti buah lain. Dan, saya mendapati alpukat di gelas saya. Seneng deh. Dan bagian yang paling membahagiakan, saya tidak memuntahkan apapun malam ini. Alhamdulillah, bener-bener membahagiakan….

Bicara tentang muntah-memuntahkan makanan, minggu-minggu ini saya amat mensyukuri apa yang terjadi pada diri saya. Maksud saya, rasio antara makanan yang bisa saya makan dan intensitas muntah yang masih bisa dibilang surplus ini.  Teman saya saat ini sedang terbaring di rumah sakit karena hiperemesis yang dideritanya. Usia kehamilannya hampir sama dengan saya, tapi rasio makan ma muntahnya gila-gilaan. Teman saya ini juga tinggal sendiri, sama seperti saya. Suaminya di Kalimantan sementara keluarganya di Jogja. Nah, klo saya sering kalah sama perut, artinya kalau saya lapar pasti saya akan makan lagi walaupun nantinya keluar juga, tapi setidaknya saya makan. Dan saya yakin jeda waktu antara saya makan dan muntah pasti sudah dimanfaatkan saluran pencernaan saya untuk mendapatkan sedikit nutrisi. Klo temen saya ini ternyata setelah muntah tidak bisa makan sama sekali, sehingga kondisinya drop karena dehidrasi. Sekarang dia dibawa pulang ke Jogja oleh keluarganya dan menerima nutrisi via intra vena. Sabar Mb Iie ya, smoga semuanya berjalan dengan baik, sehat dan selamat pada akhirnya.

Selain faktor perbandingan tersebut, saya yang lebih bisa menerima kondisi saya ini sepertinya juga memberikan ketenangan yang signifikan. Beberapa waktu yang lalu saya khawatir dengan intensitas mual muntah yang saya alami, saya khawatir klo itu akan membawa efek negatif buat adik bayi. Di awal minggu ini saya membaca kembali Complicated-nya Atul Gawande. Di sana saya menemukan bahwa ternyata muntah adalah salah satu mekanisme tubuh kita untuk melindungi janin yang sedang berkembang di dalam sana. Beberapa makanan yang aman bagi ibu, ternyata bisa berbahaya buat janin. Dan sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat aborsi pada kelompok bumil yang mengalami muntah lebih rendah dibandingkan pada kelompok bumil yang tidak mengalaminya. Dan tentang kebutuhan nutrisi janin, saya berlega hati karena kata Gawande, janin belum butuh terlalu banyak asupan nutrisi, masih bisa di cover oleh cadangan lemak emaknya. Beneran deh, saya lega baca ini, soale lemak saya kan lumayan berlimpah ya. adik bayi tidak akan kekurangan kok di dalam sana.

Jadi ya, saya menjalani hari-hari saya dengan perasaan yang lebih ringan. Saya tetap makan apapun yang bisa saya makan, mencoba memenuhi anjuran dokter tentang pola makan dan diet, tapi saya tidak terlalu down ketika saya memuntahkannya. Karena saya yakin, tubuh saya pasti telah mengembil yang benar-benar dibutuhkannya, yang aman buat adik bayi, sebelum memuntahkannya. Bismillah, smoga smuanya berjalan dengan baik, Dik ya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s