ume

Happy Birthday, Sayang

Seorang teman kerap menyampaikan bahwa ia bahagia bahwa in the end saya dinikahi oleh suami. Ada banyak hal baik mengikuti pernikahan kami dimatanya. She said, he’s a good man.

Saya tentu saja menyetujui semua pendapatnya

Dari suami, saya belajar bahwa semua keinginan tidak harus diikuti. Tidak semuanya harus disegerakan. Bahwa ada kebaikan dalam sebuah kesabaran. Bahwa perencanaan akan membawa banyak kenyamanan. Dan hukum tabrak dulu mikir belakangan gak selalu bisa diterapkan.

Selamat tambah tua sayang, skarang officially kita berbagi angka 28 yang sama. Semoga Allah mencintai dan memudahkan hidupmu. Menginspirasikan kekuatan bagimu untuk berjuang disana. Smakin mantap menjadi suami buat Mama yang centil nan merepotkan ini dan papa buat Babyndut nantinya. Hopefully Allah lead you to love us more and more.

We love you Sayang

Advertisements
dearbaby, pwtajah, ume

Pikiran Acak Seorang Tanti yang Bolos Hari Ini

Skarang tanggal 22 April ya, kmaren tanggal 21. Pas saya blogwalking dan nonton acara gosip tadi pagi, saya menemukan banyak entri tentang Hari Kartini. Ada yang menganggap kita konyol karena hanya merayakannya dengan makna yang tereduksi -konde-konde, kebaya, and so on-, padahal perjuangan Ibu Kita Kartini *Oh, anak cucunya sampe lebih dari 200 juta* jauh lebih besar dari itu, ada yang berterima kasih sampai ubun-ubun, dengan quote favorit, -tanpa Beliau kita masih dipingit, gak bisa bekerja, dan sterusnya-,  dan ada yang kebingungan karena dengan berkarya, maka anak menjadi terkurangi haknya. Hak untuk bersama dan tumbuh dengan bimbingan Ibunya. Dan, saya berada entah dimana diantara tiga posisi itu. Yang jelas saya jadi mikir pas mencerna posisi ketiga.

Dari sana, biarlah saya memberikan arti yang sangat personal untuk tanggal 21 kemarin: hari pertama bangun tidur tanpa suami saya dan kembali ke siklus mual-muntah-susah makan nasi stelah 3 minggu jadi bumil yang lahap makannya. I am already missing you, hubby….

Salah satu tinggalan suami saya sblom brangkat ke Bangkok adalah ART. Saya sbenarnya blom begitu sreg dengan adanya ART di rumah saya. Ampun, manja banget sih saya, sampai-sampai mengurus rumah pun, disaat saya masih sorangan tanpa kehadiran Babyndut, saya bergantung pada ART. Tapi suami bersikeras bahwa kami memang membutuhkan bantuan ART, mengingat selama sbulan dirumah, saya sama skali gak bisa mengerjakan pekerjaan domestik. Semuanya dikerjakan oleh suami.

Dan ternyata saya amat berterimakasih pada keputusan suami. Yu Timah, ART saya yang berasal dari Dukuhwaluh saja, ternyata amat membantu. Berhubung beban pekerjaannya amat ringan dan rumahnya dekat, Yu Timah datang jam 7 pagi, nyapu, ngepel, nyuci, selesai jam 8.30, terus pulang. Siangnya jam 1 Yu Timah datang lagi untuk membereskan setrikaan. Memasak? Sementara ini belum karena saya masih blom suka makan, mungkin nanti ya.

ISK pada kondisi normal sudah tidak nyaman, apa lagi klo terjadi pada masa khamilan. Perjalanan mengelilingi Pulau Jawa slama sminggu sukses memicu kambuhnya ISK, penyakit gak elit yang dulu pernah sekali menyapa saya. Ampun deh, bener-bener gak nyaman. Alhamdulillah masa masa kolonisasi bakteri dan inflamasinya cepat tertangani, skarang hanya tentang bagaimana mencegah kaum-kaum tersesat itu berkolonisasi. Minum banyak-banyak dan sering-sering ke belakang untuk membersihkan saluran berkemih. Masalahnya adalah serangan mual yang datang lagi ini. Minum, mual, lalu muntah. Hhhhhh. Untungnya perut saya mau menerima air hangat mendekati panas. Lumayan lah.

Gara-gara ISK ini, saya jadi mempertanyakan pengetahuan dokter tentang obat. Saya mengibarkan bendera putih setelah jelas-jelas saya melihat ada debris jaringan dalam urin saya. Saya pun berobat di Klinik Universitas saya, dan saya diperiksa oleh dokter yang masih muda, yah, sepantaran dengan saya lah. Sebut saja dr. X. Saya menceritakan tentang riwayat ISK saya dan kondisi saya saat itu. Yang ada adalah dr. X panik. Beliau berpikir bahwa debris jaringan itu adalah karena kehadiran batu dalam ginjal saya. Aduh, padahal sebelumnya saya membaca klo debris dan darah itu adalah hal yang biasa terjadi pada ISK, akibat dari adanya kolonisasi. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dr. X memutuskan untuk mengobati ISKnya saja. Dan, yang diresepkan adalah Amoxicillin untuk membunuh bakteri tersesat itu, Dexamethason untuk mengurangi inflamasi yang terjadi, dan asam mefenamat untuk meredakan nyeri-ngilunya. Saya lagi-lagi tertegun melihat resepnya. Ampun deh, saya kan sudah bilang klo saya hamil 13 minggu. Kenapa malah memberikan obat kategori C (dexa dan mefenamat) yang blom jelas keamanannya bagi janin saya? Info tentang batasan kategori dan list obatnya bisa dilihat disini. Karena malas berdebat, saya terima saja resepnya, saya bawa ke apotek, dan saya hanya menebus amoxnya saja. Huff…

Beberapa hari berselang, saya mendengar cerita teman ABG saya yang saat ini lagi stress mengerjakan UANnya. Dia bercerita tentang obsesi teman-temannya yang mengikuti aliran pokoke Kedokteran. Mereka adalah sekelompok anak yang mengupayakan segala sumber daya untuk bisa masuk Fakultas Kedokteran, termasuk uang untuk memuluskan proses penerimaan mereka. Ada yang sudah berhasil memaksa ortunya -ato ortunya yang memaksa anaknya ya, no body knows- untuk menyediakan uang dengan nominal di atas 100 juta. Edan. Dan mereka tidak mempermasalahkan Universitasnya. Universitas mana saja, yang penting Kedokteran Fakultasnya.

Apa yang seperti ini nantinya akan menghasilkan dokter yang sekualitas dengan dr. X???

Berita lain yang cukup menyengat saya adalah rencana didirikannya Fakultas Kedokteran di Universitas saya. Huhuhu, saya gak berani membayangkannya…

Eh, saya saat ini lagi ngetik postingan ini di kasur sambil facebook-an sambil dengerin Heroes-nya Wallflowers. Tumben ya?? Karena oh karena, badan saya  gak kondusif dibawa kerja hari ini. Hopefully ceper enakan lagi, Allah yah. ART saya menyarankan saya pijet dengan dukun bayi untuk meringankan sakit pinggang yang saya derita. Saya masih berpikir-pikir, berani tidak untuk pijet-pijet lagi. Soalnya saya juga masih curiga ISKlah yang memperparah intensitas sakit pinggang saya ini. Ada yang punya pengalaman serupa Moms? Sakit pinggang parah di awal trimester kedua?? Mungkin spog saya punya jawabannya ya, saya IA akan bertemu dengannya awal Mei nanti.

dearbaby, ume

Quick Up date

Blog ini sudah jamuran kali ya, sudah kelamaan tidak saya urus. Hmm, salahkan saja suami yang menyita sbagian besar waktu saya, hehehe. Tapi, kedepan kayanya bakalan lebih sering ngisi blog deh. Si Inhibitor tercinta mo kembali ke Bangkok Senin nanti. Huhuhu, bakalan kembali ke rutinitas harian yang sunyi sepi sendiri deh.

Up date kondisi bumil, berat badan saya sudah di angka 50-51 kg skarang. -beda timbangan beda angka, dan saya blom mnimbang ditimbangan patennya spog saya- Sudah naik 1 kilo dari sebelum hamil. Eh, 1 ato 3 ya? Biasanya berat badan saya 48 kg, tapi menjelang hamil, saya mengalami pengalaman kuliner yang amat menyenangkan di Bangkok sehingga melar jadi 50 kg. Awal-awal khamilan turun jadi 48 kg lagi karena muntah-muntahnya parah. 3 minggu yang lalu naik jadi 49, 5, terus sekarang mulai menginjak kepala 5. Saya sudah 2 mingguan ini tidak mual-muntah lagi, alhamdulillah.

Selamat hari Sabtu ya ^_^

gakpenting, pwtajah

Sabtu Hari Ini

Pagi tadi suami berhasil menyeret saya beranjak dari kasur dan membawa saya jalan pagi. Niatan awalnya mau jalan saja, menikmati sejuknya udara pagi yang amat jarang saya rasakan. Tapi ternyata kami bersenang-senang bersama Dik Haris lalu berakhir di Pasar Larangan. It wasn’t bad at al.

Ketika kami lewat depan rumahnya, Dik Haris lagi duduk manis di motor ayahnya. Puter-puter kunci sambil ketawa-tawa. Tentu saja, pemandangan itu adalah magnet bagi kami. Trus mampir deh. Ikutan main-main bersamanya, takjub bahwa Dik Haris dah banyak  bisanya. Mulai dari jalannya yang super kenceng, lari ajah bawaannya. Bicaranya yang mulai bisa merangkaikan 2 kata, sampai hobbinya yang longok-longok setiap saku di baju orang dewasa untuk menemukan duit! Lucu deh persepsinya tentang duit. Koin untuk ditabung, uang kertas untuk dipake jajan di warung. Hahaha…

Begitulah, kami lama bermain bersama dia pagi tadi. Ato lebih tepatnya suami yang bermain dengannya, mulai dari mengejar-ngejar lebah dan kupu-kupu, ngerontokin daun teh-tehan dan membuangnya ke selokan *aduh, siapa yang ngajarin Dik ya ^_^*, sampe memenuhi kantong bajunya dengan aneka bunga liar. Saya? Ya ngrumpi sama Ibunya Dik Haris dong, heheheh…

Trus, saya pengen bubur ayam dekat kampus. Berjalanlah kami ke jalan depan. Ajaibnya, stelah sampai di jalan dan melihat Koprades, saya langsung pengen makan lontong opor depan Pasar Larangan. Dan juga jadah-dele ireng yang saya tau dijual disana. Ya bgitulah, akhirnya kami naik Koprades dan meluncur ke Pasar Larangan. Pasar ini ada di sebelah timur Dukuhwaluh, jadi keluar kota banget. Klo Dukuhwaluh tempat saya tinggal ini adalah kampungnya Purwokerto, maka Pasar Larangan adalah dusunnya. Heheheh, parah ya diskripsi saya ini.

Suami terkejut dengan harga barang-barang yang dijual disana. Lontong opor porsi jumbo dengan kerupuk unlimited plus air  hanya dihargai tiga ribu. Sekantong kerupuk 800. Sebungkus pecel *dengan bonus bungkus daun pisang* seribu. 6.500 untuk sekilo jeruk segar dari Karangpucung. Asem sih, tapi seger kok. 200 udah dapat bubur cenil kemasan mini. Seikat sayuran segar, mulai dari sawi, kangkung, bayam, kacang panjang sampai yang kurang familiar seperti lompong dan genjer dihargai tidak lebih dari seribu. Suami shock ketika membandingkannya dengan harga di Bangkok. Hahahah, memang gak bisa dibandingin. Pasar Larangan memang juaranya lah.

Dan bgitulah, kami pulang menenteng pisang, jeruk, serabi, kerupuk, cenil, pecel dan timun. Gembul time.

Dan eh, mnutup Sabtu hari ini, pompa air kami mati. Untungnya kami sudah mandi pada saat insiden tadi terjadi. Tapi mikir juga seh. Kami berencana mudik besok pagi, by train. Bagaimana mandinya jal???? Brangkat jam 5.30, mo mnumpang mandi dimana coba?

gawe, tan

April Datang Menjelang

Di awal bulan ini, kami officially khilangan tempat ngrumpi favorit kami. Pejabat struktural baru mulai bertugas per tanggal 1 ini, dan jelaslah sudah nasib kami-kami yang malas naik ke lantai atas. 

Meanwhile, saya masih juga rajin membuka situs itu. Arrrgggh, jadi mangkel sendiri melihat content-nya yang gak kunjung di up date. Maret sudah berakhir, sampai kapan saya harus mnunggu?????