gakpenting, pwtajah

Sabtu Hari Ini

Pagi tadi suami berhasil menyeret saya beranjak dari kasur dan membawa saya jalan pagi. Niatan awalnya mau jalan saja, menikmati sejuknya udara pagi yang amat jarang saya rasakan. Tapi ternyata kami bersenang-senang bersama Dik Haris lalu berakhir di Pasar Larangan. It wasn’t bad at al.

Ketika kami lewat depan rumahnya, Dik Haris lagi duduk manis di motor ayahnya. Puter-puter kunci sambil ketawa-tawa. Tentu saja, pemandangan itu adalah magnet bagi kami. Trus mampir deh. Ikutan main-main bersamanya, takjub bahwa Dik Haris dah banyak  bisanya. Mulai dari jalannya yang super kenceng, lari ajah bawaannya. Bicaranya yang mulai bisa merangkaikan 2 kata, sampai hobbinya yang longok-longok setiap saku di baju orang dewasa untuk menemukan duit! Lucu deh persepsinya tentang duit. Koin untuk ditabung, uang kertas untuk dipake jajan di warung. Hahaha…

Begitulah, kami lama bermain bersama dia pagi tadi. Ato lebih tepatnya suami yang bermain dengannya, mulai dari mengejar-ngejar lebah dan kupu-kupu, ngerontokin daun teh-tehan dan membuangnya ke selokan *aduh, siapa yang ngajarin Dik ya ^_^*, sampe memenuhi kantong bajunya dengan aneka bunga liar. Saya? Ya ngrumpi sama Ibunya Dik Haris dong, heheheh…

Trus, saya pengen bubur ayam dekat kampus. Berjalanlah kami ke jalan depan. Ajaibnya, stelah sampai di jalan dan melihat Koprades, saya langsung pengen makan lontong opor depan Pasar Larangan. Dan juga jadah-dele ireng yang saya tau dijual disana. Ya bgitulah, akhirnya kami naik Koprades dan meluncur ke Pasar Larangan. Pasar ini ada di sebelah timur Dukuhwaluh, jadi keluar kota banget. Klo Dukuhwaluh tempat saya tinggal ini adalah kampungnya Purwokerto, maka Pasar Larangan adalah dusunnya. Heheheh, parah ya diskripsi saya ini.

Suami terkejut dengan harga barang-barang yang dijual disana. Lontong opor porsi jumbo dengan kerupuk unlimited plus air  hanya dihargai tiga ribu. Sekantong kerupuk 800. Sebungkus pecel *dengan bonus bungkus daun pisang* seribu. 6.500 untuk sekilo jeruk segar dari Karangpucung. Asem sih, tapi seger kok. 200 udah dapat bubur cenil kemasan mini. Seikat sayuran segar, mulai dari sawi, kangkung, bayam, kacang panjang sampai yang kurang familiar seperti lompong dan genjer dihargai tidak lebih dari seribu. Suami shock ketika membandingkannya dengan harga di Bangkok. Hahahah, memang gak bisa dibandingin. Pasar Larangan memang juaranya lah.

Dan bgitulah, kami pulang menenteng pisang, jeruk, serabi, kerupuk, cenil, pecel dan timun. Gembul time.

Dan eh, mnutup Sabtu hari ini, pompa air kami mati. Untungnya kami sudah mandi pada saat insiden tadi terjadi. Tapi mikir juga seh. Kami berencana mudik besok pagi, by train. Bagaimana mandinya jal???? Brangkat jam 5.30, mo mnumpang mandi dimana coba?

Advertisements

2 thoughts on “Sabtu Hari Ini”

  1. hahaha…jangankan dibandingin harga di bangkok, dibandingin sama malang aja harga itu sdh murah banget :p….btw can't hardly wait to see how "gembul" u r. Aku lagi di jogja nih, dan sudah ketemu Ana….aku jd merasa tdk sendirian mengalami pertumbuhan ke samping yg cukup pesat ini hihihi….

Leave a Reply to Tanti Hamad Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s