dearbaby, pwtajah, ume

Pikiran Acak Seorang Tanti yang Bolos Hari Ini

Skarang tanggal 22 April ya, kmaren tanggal 21. Pas saya blogwalking dan nonton acara gosip tadi pagi, saya menemukan banyak entri tentang Hari Kartini. Ada yang menganggap kita konyol karena hanya merayakannya dengan makna yang tereduksi -konde-konde, kebaya, and so on-, padahal perjuangan Ibu Kita Kartini *Oh, anak cucunya sampe lebih dari 200 juta* jauh lebih besar dari itu, ada yang berterima kasih sampai ubun-ubun, dengan quote favorit, -tanpa Beliau kita masih dipingit, gak bisa bekerja, dan sterusnya-,  dan ada yang kebingungan karena dengan berkarya, maka anak menjadi terkurangi haknya. Hak untuk bersama dan tumbuh dengan bimbingan Ibunya. Dan, saya berada entah dimana diantara tiga posisi itu. Yang jelas saya jadi mikir pas mencerna posisi ketiga.

Dari sana, biarlah saya memberikan arti yang sangat personal untuk tanggal 21 kemarin: hari pertama bangun tidur tanpa suami saya dan kembali ke siklus mual-muntah-susah makan nasi stelah 3 minggu jadi bumil yang lahap makannya. I am already missing you, hubby….

Salah satu tinggalan suami saya sblom brangkat ke Bangkok adalah ART. Saya sbenarnya blom begitu sreg dengan adanya ART di rumah saya. Ampun, manja banget sih saya, sampai-sampai mengurus rumah pun, disaat saya masih sorangan tanpa kehadiran Babyndut, saya bergantung pada ART. Tapi suami bersikeras bahwa kami memang membutuhkan bantuan ART, mengingat selama sbulan dirumah, saya sama skali gak bisa mengerjakan pekerjaan domestik. Semuanya dikerjakan oleh suami.

Dan ternyata saya amat berterimakasih pada keputusan suami. Yu Timah, ART saya yang berasal dari Dukuhwaluh saja, ternyata amat membantu. Berhubung beban pekerjaannya amat ringan dan rumahnya dekat, Yu Timah datang jam 7 pagi, nyapu, ngepel, nyuci, selesai jam 8.30, terus pulang. Siangnya jam 1 Yu Timah datang lagi untuk membereskan setrikaan. Memasak? Sementara ini belum karena saya masih blom suka makan, mungkin nanti ya.

ISK pada kondisi normal sudah tidak nyaman, apa lagi klo terjadi pada masa khamilan. Perjalanan mengelilingi Pulau Jawa slama sminggu sukses memicu kambuhnya ISK, penyakit gak elit yang dulu pernah sekali menyapa saya. Ampun deh, bener-bener gak nyaman. Alhamdulillah masa masa kolonisasi bakteri dan inflamasinya cepat tertangani, skarang hanya tentang bagaimana mencegah kaum-kaum tersesat itu berkolonisasi. Minum banyak-banyak dan sering-sering ke belakang untuk membersihkan saluran berkemih. Masalahnya adalah serangan mual yang datang lagi ini. Minum, mual, lalu muntah. Hhhhhh. Untungnya perut saya mau menerima air hangat mendekati panas. Lumayan lah.

Gara-gara ISK ini, saya jadi mempertanyakan pengetahuan dokter tentang obat. Saya mengibarkan bendera putih setelah jelas-jelas saya melihat ada debris jaringan dalam urin saya. Saya pun berobat di Klinik Universitas saya, dan saya diperiksa oleh dokter yang masih muda, yah, sepantaran dengan saya lah. Sebut saja dr. X. Saya menceritakan tentang riwayat ISK saya dan kondisi saya saat itu. Yang ada adalah dr. X panik. Beliau berpikir bahwa debris jaringan itu adalah karena kehadiran batu dalam ginjal saya. Aduh, padahal sebelumnya saya membaca klo debris dan darah itu adalah hal yang biasa terjadi pada ISK, akibat dari adanya kolonisasi. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dr. X memutuskan untuk mengobati ISKnya saja. Dan, yang diresepkan adalah Amoxicillin untuk membunuh bakteri tersesat itu, Dexamethason untuk mengurangi inflamasi yang terjadi, dan asam mefenamat untuk meredakan nyeri-ngilunya. Saya lagi-lagi tertegun melihat resepnya. Ampun deh, saya kan sudah bilang klo saya hamil 13 minggu. Kenapa malah memberikan obat kategori C (dexa dan mefenamat) yang blom jelas keamanannya bagi janin saya? Info tentang batasan kategori dan list obatnya bisa dilihat disini. Karena malas berdebat, saya terima saja resepnya, saya bawa ke apotek, dan saya hanya menebus amoxnya saja. Huff…

Beberapa hari berselang, saya mendengar cerita teman ABG saya yang saat ini lagi stress mengerjakan UANnya. Dia bercerita tentang obsesi teman-temannya yang mengikuti aliran pokoke Kedokteran. Mereka adalah sekelompok anak yang mengupayakan segala sumber daya untuk bisa masuk Fakultas Kedokteran, termasuk uang untuk memuluskan proses penerimaan mereka. Ada yang sudah berhasil memaksa ortunya -ato ortunya yang memaksa anaknya ya, no body knows- untuk menyediakan uang dengan nominal di atas 100 juta. Edan. Dan mereka tidak mempermasalahkan Universitasnya. Universitas mana saja, yang penting Kedokteran Fakultasnya.

Apa yang seperti ini nantinya akan menghasilkan dokter yang sekualitas dengan dr. X???

Berita lain yang cukup menyengat saya adalah rencana didirikannya Fakultas Kedokteran di Universitas saya. Huhuhu, saya gak berani membayangkannya…

Eh, saya saat ini lagi ngetik postingan ini di kasur sambil facebook-an sambil dengerin Heroes-nya Wallflowers. Tumben ya?? Karena oh karena, badan saya  gak kondusif dibawa kerja hari ini. Hopefully ceper enakan lagi, Allah yah. ART saya menyarankan saya pijet dengan dukun bayi untuk meringankan sakit pinggang yang saya derita. Saya masih berpikir-pikir, berani tidak untuk pijet-pijet lagi. Soalnya saya juga masih curiga ISKlah yang memperparah intensitas sakit pinggang saya ini. Ada yang punya pengalaman serupa Moms? Sakit pinggang parah di awal trimester kedua?? Mungkin spog saya punya jawabannya ya, saya IA akan bertemu dengannya awal Mei nanti.

Advertisements