Uncategorized

tentang Kegagalan dalam Upaya Pelarian

Suami sering bilang, saya ini adalah tipe yang lambat bereaksi. Klo ada sesuatu saya sok cool di depan, lalu akan panik belakangan. Dan ini lagi-lagi terbukti kmaren.

Saya tidak berhasil mendapatkan beasiswa. It means, kesempatan untuk kumpul bareng suami jadi smakin langka. Pagi-siang saya masih biasa saja, dalam artian ini bukan yang pertama jadinya saya santai saja menyikapinya. Namanya juga kompetisi ya, pasti ada yang menang, ada juga yang kalah. Tapi, sore-malamnya saya mulai gelisah gak jelas. Tepatnya ktika saya melihat perut gendut saya dan memikirkan babyndut. Dan skenario apa yang mungkin bisa saya jalani slanjutnya. Ternyata dalam stiap pilihan yang mungkin saya ambil, selalu melibatkan monster yang selama ini tidur tapi bisa bangun kapan saja dan menghancurkan hati saya untuk kedua kalinya.

Iya, mimpi buruk saya. Suami bilang, saya harus mulai membuka hati dan memaafkannya. Well, saya malah tidak tahu kalo ada yang harus dimaafkan. Saya hanya takut menghadapinya. Ktakutan tersebut membuat saya menghindarinya, menidurkannya dalam pojok pemikiran saya. Dan selama ini berhasil. Mimpi buruk itu hanya muncul di waktu-waktu tertentu saja, yang mana efektif menahan curahan air mata saya.

Nah, tertundanya kumpul suami ini membuat saya harus menghadapinya.

Advertisements