Uncategorized

Jawaban Kurang Cerdas

“Jeng, siapa yang melakukannya?”

Seorang teman yang sudah lama tidak ketemu saya kaget melihat perut buncit saya.

“Ya bapaknya, lah”

“Kok bisa?”

Tangannya gak berhenti mengelus-elus perut saya.

“Kecebongnya dikirim lewat DHL”

Advertisements
dearbaby, ume

Move Baby, Move

Minggu ini istimewa buat saya. Saya mulai bisa merasakan gerakan babyndut. Alhamdulillah, saya jadi ngerasa gak sendiri. Ada teman istimewa yang menemani hari-hari saya di dalam sana.

Babyndut ni sukanya bergerak klo sudah jam makan. Lalu heboh lagi pas saya makan. Bener-bener nurunin kelakuan Papanya dalam hal makan-memakan. Trus, babyndut juga aktif bergerak klo Papanya telpon, apalagi klo Papanya baca Quran, klo yang ini mirip banget ma Mamanya. Tambahan, babyndut suka goyang-goyang juga klo saya berbaring dengan posisi miring ke kiri. Saya bingung mengartikannya, dia suka ato gak suka ya??

Meanwhile, pertanyaan tentang jenis kelamin babyndut mulai  terdengar hari-hari ini. Tebakan-tebakan dari teman-teman saya mulai ramai juga. Ada yang menebak baby boy, karena bentuk perut saya dan kemalasan saya, yang punya hobby baru tidur di kampus stiap siang. Ada juga yang menebak baby girl, karena katanya saya terlihat lebih wanita di masa khamilan ini. Buat saya dan suami, jenis kelamin babyndut bukanlah hal yang teramat penting. Cowok cewek sama saja, yang penting sehat. Wlopun memang, awalnya kami punya preferensi khusus. Dsog saya pas periksa kemarin sempat memberikan prediksi jenis kelamin babyndut. Tapi karena beliau berkata bahwa kemungkinannya baru 90%, yah sebaiknya kami simpan saja prediksi tersebut sampai nanti bisa dikonfirmasi kebenarannya nanti.

dearbaby, pwtajah

I Don’t Wanna Die Anymore

Judulnya serem ya. Saya mnulis ini sambil terngiang singlenya New Radical yang judulnya saya jadikan judul itu. Tapi bukan, posting ini sama skali bukan tentang lagu yang beatnya cukup aneh untuk masa itu *errrr, 1999 kah?*. Ini, tentu saja, tentang saya.

Jadi, 10 hari terakhir dari April ini adalah hari-hari yang teramat berat buat saya. Saya kembali ke masa morning sickness plus bonus yang sama skali gak ngenakin: tidak bisa makan. Bukan sekedar tidak bisa makan karena khawatir akan memuntahkan kembali makanan itu. Tapi memang benar-benar tidak bisa membuka mulut untuk makan. Jadinya ya sering saya tidak makan apa-apa seharian, paling buah dan susu.

Efeknya? Yang pertama langsung klihatan adalah hipoglikemik. Jangan tanya kaya apa lemesnya. Lemes banget. Sudah 2 kali saya telpon kampus untuk mengabarkan saya tidak bisa berangkat ke kampus, dua-duanya karena saya tidak bisa beranjak dari kasur dipagi hari. Selain itu, kesuren. Apa yah bahasa Indonesianya? Intinya rasa sakit dipuncak kepala yang merambat turun ke leher yang muncul karena lambung yang kosong. Ampun-ampunan deh sakitnya. Klo dipake jalan, rasanya berdenyut-denyut gak jelas. Apalagi klo lewat polisi tidur. Saya mendiskripsikannya sebagai rasa Aspergillus yang sedang membelah diri. Dan jangan lupa, temperatur badan saya naik gila-gilaan. Demam sepanjang hari. Dan sudah sepuluh hari. Hebat deh.

Ketika ketemu spog saya untuk ketiga kalinya minggu kmaren, berat saya turun lagi. Klo bulan sebelumnya mencapai angka 49,5 kg, 10 hari sebelumnya 50,5 kg, maka di hari kelima masa sulit makan saya, berat saya jadi 49 kg lagi. Skarang gak tau berapa, yang jelas saya mengurus lagi. Alhamdulillah babyndut tidak terpengaruh, tetep besar seperti nambah beratnya. Diumurnya yang hampir 16 minggu kmaren, beratnya sudah seperti layaknya janin umur 17 minggu.

Dari sanalah saya bertekat, cukup 10 hari saja saya sperti ini. Kasihan babyndut klo tiap hari cuman dapet suplai lemak dari emaknya. Saya harus memaksakan diri untuk makan. Saya mulai enek sama kepala jamur dan demam ini.

Help us Allah, mudahkan proses kehamilan ini dan kelahiran nantinya