dearbaby, jalanjalan, ume

After 3 Weeks…

Setelah 3 minggu di Bangkok, sepertinya saya blom kmana-mana. Memang blom kmana-mana sih. Boro-boro ke pantai-pantai indah di Selatan atau ke dinginnya Chiang Mai. Keluar Bangkok saja hampir belum pernah. Saya cuma satu kali melakukan perjalanan 1 jam dari Bangkok, menyeberangi Chao Phraya dalam rangka ikutan Pengajian Mahasiswa Indonesia di Thornburi. That’s all.

Kondisi ini beda banget sama kunjungan pertama saya Januari kmaren. Wlopun cuma 2 minggu, kmaren saya cukup banyak explore Bangkok. Suami lumayan punya waktu luang dan terutama saya dalam kondisi prima.

Lah skarang??

Suami kerjaannya ngampus melulu, ketemunya klo malam saja. Jadwal ujiannya juga setiap minggu ada, so officially di rumah juga agendanya gak kelonan only, hehehe. Yang terparah adalah fisik saya yang sekarang sakit pinggang  dan lelah lesu melulu. Gampang banget capek. Patokannya adalah, jalan-jalan setengah hari butuh 2 hari buat recovery. Kamis kmaren saja pas cari botol susu babyndut yang notabene cuma ngiterin satu hypermarket yang jaraknya cuma selemparan batu dari apartemen, ditambah dengan sepedaan di taman kota Sabtu paginya, sukses membuat saya ngedon di rumah saja weekend ini.

Klo dulu mah jalan-jalan sendiri saya masih bisa, kmana lah sambil nunggu suami pulang. Klo skarang boro-boro, klo mau jalan sendiri khawatir pingsan dijalan. Buat temen-temen yang kmaren nitip barang, mungkin saya tidak bisa memenuhinya, maaf yah. Saya tidak bisa membayangkan berkeliling Chatuchak dengan kondisi seperti ini. Suami pasti stress berat melihat saya rewel spanjang jalan klo memaksakan diri belanja.

Hihihi, kesannya mengeluh banget ya. But for sure, dibalik keluhan ini saya amat bersyukur. Bahwa saya bersama suami dan babyndut yang smakin terasa kehadirannya ini. *Saya baru tahu klo saya kecapekan, babyndut akan smakin heboh gerakannya, tendang sana sikut sini, membuat Mamanya terbangun dan terjaga sampai pagi* This party-of-three-thing is so much better than any I could imagine. Yah, klo saya mengembalikan pada tujuan utama saya ke sini ya memang tidak ada yang harus disesali dari kondisi loyo saya ini. It’s so much better, alhamdulillah…

tan

Getting Slower, Tan??

Iya, krasa banget klo skarang gerakan saya jadi melambat. Kaya siput berkaki dua. Nyadarnya tadi, perasaan pas jalan kok selalu saja ada yang menyalip. Dan saya tidak pernah lagi mendahului jalan orang lain lagi skarang. Apalagi klo menyebrang jalan, perjuangan banget tuh mendorong badan naik jembatan penyebrangan.

Tambahan, saya juga mudah skali merasa capek. Untuk mencapai tempat yang jaraknya hanya 2 bus stop saja saya skarang gak sanggup lagi. Tadi saya memilih untuk duduk sejenak, meluruskan kaki dan banyak-banyak minum di halte sebelum meneruskan perjalanan. Untung tadi haltenya bertempat duduk dan rindang.

Hihihi, jadi inget. Dulu saya sering berkhayal tampang saya akan mirip pinguin klo hamil. Ternyata, penggambaran yang lebih mirip untuk tampang saya skarang adalah badut, depan blakang menggembung smua.

Suami bilang, gaya tidur saya skarang juga mulai berubah. Gak tenang banget tidurnya. Dikit-dikit berubah posisi, guling sana guling sini. Dan sungguh mengherankan bahwa PW saya adalah miring di pinggiran ranjang, dengan salah satu kaki terjuntai ke lantai. Can you tell me gaya tidur macam apa ini?

Berita buruknya, bukan hanya fisik saya yang melemah. Emosi saya juga ikutan. Beberapa hari ini bawaannya surem saja. Mikir yang gak-gak dan sensitif mencerna lingkungan. Duh, kok kaya awal trimester satu lagi ya????

dearbaby, ladieschat

Botol Susu dan Kosmetika Aneh-aneh

Mencari suatu barang klo kita gak tahu pasti dimana tempatnya adalah suatu pekerjaan yang melelahkan. Gara-gara sesiangan muterin MBK untuk mencari botol susu bebas BPA, dua hari ini fungsi badan saya menurun. Capek banget. Udah bgitu barangnya belom dapet lagi. Huhuhu, anyone, can you tell me where a complete and affordable babyshop in Bangkok, please?? Heran deh, di Purwokerto saja klo di kota kayanya di setiap pengkolan ada deh babyshop kecil-kecilan. Lah ini, sampe jereng mata melihat deretan pertokoan spanjang jalan kok gak nemu juga. *Tapi jalan yang diliatin baru spanjang apartemen sampai Platinum-Pratunam, blom ke ruas jalan yang lain, hehehe. Dasar tukang ngeluh.*

Lagian ya, saya juga yang aneh. Ngapain juga botol susu pengen beli di sini, gak di rumah saja. Wong di Pwt juga ada, wlopun harganya ngajak puasa banget. Klo niat juga beli on line banyak. Saya cuma pengen dibayarin suami. Klo beli di rumah kan harus bayar sendiri. Iya sih, duit suami juga sebenarnya.Tapi stidaknya kan bukan saya yang mengeluarkan duit itu dengan tangan saya sendiri, hehehe.

Kembali ke urusan jalan-jalan yang bikin capek itu tadi, satu hal yang mnarik perhatian saya adalah deretan lapak di MBK yang menjual kosmetika. Klo liat gelagatnya seh kaya kosmetika abal-abal bgitu deh. Saya heran melihat banyaknya orang yang tertarik untuk melihat-lihat barang dan mungkin membelinya. Iya seh, secara fisik lucu-lucu kemasannya. Tapi isinya siapa yang tahu coba?

Tadi iseng-iseng buka ini, ternyata ada kosmetika produk Thai, dari leading brand di Indonesia pula, yang masuk list. Mnurut keterangan BPOM, POND’s Age Miracle Day and Night Cream itu mengandung merkuri, yang klo kontak dengan kulit bisa menimbulkan efek beragam, mulai dari cuma kulit kehitaman sampai kerusakan permanen pada organ tubuh *info lengkap bisa di download dari public warning BPOM juga*. Di list itu juga ada Olay Total White, produk Malaysia. Makanya Mbak-mbak yang cenderung menyukai produk impor, hati-hati deh. Dalam kasus sperti ini mungkin lebih aman menggunakan produk dalam negri yang jelas-jelas punya ijin edar. Lah wong yang punya ijin edar resmi saja kadang-kadang nyuri-nyuri nambahin yang gak-gak kok, apa lagi yang masuknya ilegal. Semakin gak kekontrol apa isinya.

Kosmetika saya? Wah, sejak dulu saya termasuk makhluk yang tidak bisa dandan. Karena tidak bisa dandan ini, saya jarang beli kosmetika, lah wong cara memakainya biar efek yg didapat sesuai harapan saja saya gak tahu. Yang saya miliki cuma tiga serangkai: pelembab, compact powder sama lipcare saja. Apalagi sejak hamil, males banget menyentuh ketiga barang itu. Wajah jadi dekil juga saya gak peduli skarang ini, hehehe.

Apa??? Baby boy??? Jangan mulai lagi yah…

dearbaby, jalanjalan

He’s a Boy!!!

Ketika mulai hamil, tiba-tiba saja bermunculan banyak komentator dan pemberi saran dalam khidupan saya. Kok saya begini atau begitu. Kok saya ndablek. Bahwa saya seharusya begini dan tidak begitu. Bahwa saya harus banyak makan ini -yang sebagian besar saya tidak suka- dan harus menghindari itu -yang beberapa diantaranya amat saya sukai-. Beberapa cenderung menghakimi dan membuat saya kesal. Lah, namanya juga nasehat, tidak berarti saya harus mengikutinya kan ya? Kok maksa? Tapi, sebagian besar masukan saya terima dengan  baik, lumayan seru juga kok. 

Nah, pemberi masukan ini bisa dari mana saja. Ibu , ibu mertua, teman-teman saya, wajar lah klo beliau-beliau itu. Kadang juga komentar itu datang dari entah siapa, maksud saya, saya bahkan tidak mengenal siapa penyumbang saran itu. Misalnya, lagi makan, jalan, eh, ada saja ibu-ibu yang dengan baik hatinya menyarankan ini-itu. Ada-ada saja.

Smakin ke sini, saya smakin banyak ketemu dengan ibu-ibu yang pintar menerawang masa depan. Entah mereka punya pandangan laser atau memang punya bakat menjadi peramal, bisa saja mereka menebak jenis kelamin babyndut di perut saya. Sperti kmaren, saya lagi melihat-lihat baju bayi yang lucu-lucu  -aduh-aduh setan kalap belanja, tolong jauh-jauh dari saya smentara ini ya…- ktika mbak-mbak pramuniaga mulai berceloteh dengan logat yang, mmmm, membuat saya bersyukur bahwa saya lahir dan besar di Indonesia.

“So you are looking for  new born jumpers, right. This one is beautiful”, katanya sambil menurunkan set jumper 5 in 1 warna biru motif pooh.

“Er, I am looking for a neutral color one, please. Yellow or cream will do. I haven’t knew whether this is baby boy or baby girl yet”, mata saya masih melakukan scanning pada deretan jumper di depan saya.

“No no no, all you need is this blue jumper. I know he’s a boy. Sure he’s a boy”, katanya dengan PD jaya sambil memegang-megang perut saya. Hmmm, it’s another frequent moment thing when you are pregnant, strangers can touch your belly as if it’s a public facility. And the strangest thing is, saya tidak merasa terganggu perut saya dielus-elus orang asing loh. Memang aneh.

“I am not sure that my baby is baby boy”

“You have to be sure, I know it. Your belly is up up up, it’s a baby boy. If your belly is down here, there must be a girl”, imbuhnya.

Saya benar-benar tidak bisa mnahan ketawa saya karenanya. Heran ya, dsog saja saya masih ragu, kok si mbak pmramuniaga itu PDnya sejuta klo babyndut is babyboy. Dasar pedagang yah, ada saja caranya biar dagangannya laku ^_^

dearbaby, ume

Yellow Jumper, Please

A home is where our heart is. Saya pernah menulis entry super pendek tentang itu dulu di sini. Dan lagi-lagi saya mnuliskannya skarang. I am home now, here with my hubby.

Saya datang dengan membawa batuk, sukses ditulari pilek suami pula, menjadikan badan saya lesu sharian inih. Suami sebelum berangkat ke kampus berpesan klo saya harus makan. Wlopun amat males, akhirnya tadi saya berjalan ke Platinum, tempat terdekat yang saya tahu menjual makanan halal. *Istri gak jelas ya saya ini, bukannya jauh-jauh nyusul terus ngurus suami, malah ini membiarkan suami brangkat tanpa sarapan*

Sepulang dari foodcourt saya iseng melongok ke toko pakaian anak di lantai 2. Dan melihat jumper-jumper lucu yang amat menggoda. Awwww, pengen!!!

Heran yah, babyndut belum juga 6 bulan, tapi emaknya sudah nafsu blanja bgini. Beberapa hari terakhir ini saya rajin googling, melihat dan membandingkan apa saja yang harus saya masukkan ke daftar belanja babyndut nanti. Dan ternyata klo melihat pengalaman ibu-ibu yang sudah melewatinya, kbutuhan tambahan yang notabene timbul karena nafsu emaknya lebih heboh dibanding kebutuhan primernya. Babyndut Sayang, smoga nanti Mamamu ini gak kalap pas blanja ya, smoga Mama inget kondisi dompet Papa, hihihi…

Nah, yang bisa menghentikan kekalapan saya akan jumper nan imut tadi adalah saya blom tahu jenis kelamin bayi saya! Hihihihi, saya harus berterimakasih pada Pak Daliman  karenanya. Pas kunjungan ke 3, babyndut 4 bulan, dsog kami itu menebak babyndut is babyboy. Tapi di kunjungan terakhir kmaren, hasil intipan Pak Daliman kok kayanya babyndut is babygirl. Yah, as I said before, kami gak terlalu mikir jenis kelamin babyndut. Terserah Allah ngasihnya apa, smoga saja apapun jenis kelaminnya nanti babyndut sehat dan pinter.

Tapi, sampai skarang kok masih kbayang-bayang yah… Sayang, can we go there and take the yellow one, please?