indonesiaku

dari Surat-menyurat ke Bayar-membayar

Beberapa waktu yang lalu saya membaca ‘kekonyolan’ salah satu teman saya di status facebook-nya. Dia sudah niat pake helm segala, dengan PD jaya pergi ke Kembaran, ibu kota kecamatan di mana kami tinggal, demi urusan surat menyurat di Kantor Pos. *Saya menganggap penting fakta dia memakai helm, karena dia sekasta dengan saya. Helm adalah asesoris yang penting sebagai penyelamat kantong. Klo perginya cuma ke kampus dan sekitarnya mah, gak perlu pake helm. Helm itu untuk menghindari tilang semata, jadinya dipakai klo ada kemungkinan ketemu razia saja*. Ternyata, setelah sampai di Kembaran dia harus gigit jari. Karena oh karena, kantor posnya sudah pindah. Bisa menebak pindahnya kmana?

Kantor Pos Kembaran pindah ke depan kampus kami. Tepat di depan kantor pusat yang kami lewati setiap hari. Hahahaha….

Saya adalah pelanggan setia kantor pos. Setiap bulan saya selalu pergi ke sana, bukan untuk mengirim surat tentu saja. Hari gini yah, snail mail entah apa kabarnya. Saya ke Kantor Pos untuk membayar tagihan listrik dan kartu telepon pasca bayar. Bukan di Kantor Pos Kembaran tentunya, tapi di Kantor Pos Besar Purwokerto yang ada di kota. Saya suka bayar tagihan-tagihan di sana, soalnya jarang antri dan buka sampai malam.

Tadi saya mampir ke Kantor Pos depan kampus, mau mengirimkan CD ke adik saya di Karanganyar. Ternyata Kantor Pos di tingkat kecamatan juga bisa melayani pembayaran macam-macam tagihan ini. Namanya SOPP, System Online Payment Point.

Saya tidak tahu sejak kapan PT. Pos Indonesia punya layanan ini. Kapanpun itu, sepertinya direksinya tahu cara untuk menyelamatkan diri dari kematian. Ketika surat menyurat tergeser oleh telepon dan email, paket pos tergantikan oleh TIKI dan DHL yang memang lebih bisa diandalkan, maka penambahan pelayanan ini sepertinya menjadi angin segar bagi PT. Pos. Makanya klo ke kantor pos skarang ini, jauh lebih banyak yang datang untuk bayar tagihan macem-macem, nyicil angsuran segala rupa, ambil pensiunan dll yang melibatkan transfer uang, dibandingkan yang datang untuk urusan surat-menyurat. Tambahan, kerjasama dengan Western Union saya rasa juga merupakan langkah cerdas untuk merangkul pelanggan di daerah asal TKI.
Klo jadi seperti ini layanannya, masih pantes dinamakan PT. Pos tidak ya?? Klo ganti nama, menyesuaikan bentuk layanan dominannya saat ini, kira-kira cocoknya apa ya? Hihihi, kurang kerjaan ya saya ini.
Tapi, di core bisnisnya tetep saja PT. Pos menyebalkan. Lamaaa nian layanannya. Saya sedang menunggu barang hasil belanja online saya, yang katanya seharusnya sampai Selasa kemaren. LaLuna Baby Shop terpaksa mengirim barang saya via kantor pos gara-gara saya menggunakan alamat kampus yang ada PO Box-nya. Aaaah, kapan datangnya ya????

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s