dearbaby, pwtajah, tan

37w6d: We are Getting Closer, Dear Baby…

Safari ke dsog saya kmaren menyenangkan. Menyenangkan karena tidak ngantri sama skali. Saya hanya duduk sebentar, mnunggu pasien sebelum saya selese berkonsultasi, lalu sampailah giliran saya. Yay, menyenangkan. Andai saja setiap kali periksa seperti ini, gak bakalan deh pake acara males-malesan membayangkan antrian yang super panjang itu. So I keep it in my mind: periksa Jumat pagi. Tapi minggu depan, sepertinya saya periksanya Sabtu pagi saja. Nunggu suami pulang dulu ya, biar berasa emak-emak bersuami ^_^

Hasil periksanya, alhamdulillah baik. Kondisi babyndut -yang sekarang kayanya tidak cocok dipanggil babyndut lagi- baik. Plasenta bagus, air ketuban cukup, jantung bagus juga. Cuma, ternyata setelah diamati dengan seksama ternyata kepala bayi saya blom masuk panggul loh. Kata Pak Daliman sih, nyaris masuk. Tapi blom masuk. Hihihi, saya selama seminggu terakhir ini kena efek plasebo dong ya. Saya merasa heartburn jauh berkurang. Sudah enakan, gara-gara dua minggu lalu dikatakan kepala dedek bayi sudah turun. Ternyata oh ternyata, belum masuk. Dan hari ini lagi-lagi tidur saya gak nyaman karena heartburn lagi. Hihihi, ternyata apa yang kita pikirkan ngefek ke badan kita banget ya ^_^

Saya tadi bilang klo bayi saya skarang sudah tidak cocok dipanggil babyndut lagi karena ternyata semakin ke sini semakin tidak kliatan ndutnya. Di usianya yang hampir 38 minggu kmaren, beratnya diprediksikan 2,848 kg. Berat saya sendiri juga masih 54 kg. Tapi gak apa-apa sih, mau dipikirin kenapa seperti ini malah bikin pusing saja kan ya. Yang penting saya dan dedek bayi sehat. Amin.

Senin besok sudah mulai masuk lagi. Liburan panjang yang saya kira akan sangat membosankan ternyata bisa saya lewati dengan baik. Baik, dalam artian ya seperti biasa saja. Mungkin ini hikmah tidak punya ART ya. Saya jadi bisa membunuh waktu dengan membereskan rumah. Tapi saya biasanya mendistribusikan pekerjaan untuk hari yang berbeda biar tidak terlalu capek. Jadi klo hari ini sudah ngepel, saya tidak nyuci. Demikian juga sebaliknya.

Senin besok saya masih masuk. Saya baru cuti tanggal 5 nanti. Sengaja, karena saya tahu lebih menyenangkan berada di kampus dari pada dirumah sendirian mati gaya. Setidaknya kan agenda rumpi-rumpi klo di kampus jalan terus, ketemu teman-teman. Klo kerja produktifnya nanti dulu, hehehehe. Saya sudah mniatkan mulai Senin besok saya akan mempensiunkan motor. Iya, saya mau jalan kaki saja. Yaa, karena memang disarankan untuk banyak-banyak jalan kaki, biar dedek bayi cepet nemu PW buat lahir.

Hari ini saya ketemu banyak teman di resepsi pernikahan putri teman saya. Pertanyaan yang banyak saya terima adalah, mau melahirkan dimana? Sepertinya setelah saya pikir-pikir, saya mantap melahirkan di RSIA Bunda Arif. Wlopun saya periksanya selama ini di Erde 21 dan saya kurang sreg dengan dsog-nya Bunda Arif, sepertinya saya nyaman di sana. Pertimbangan utama saya adalah, bidan-bidan di Bunda Arif bisa membuat atmosfer yang nyaman buat saya dan tidak ada masalah dengan kehamilan saya selama ini. Klo di Erde kok saya nyamannya sama Pak Daliman dan Ibu saja, bidannya gak terlalu. Klo pas prosesi melahirkan katanya kita lebih banyak interaksi dengan bidannya ya, dsognya kan datang pas kita siap mengejan saja. Biar deh sama Pak Tommy yang irit komunikasi itu, toh selama kontraksi saya kan tidak bisa berkonsultasi macem-macem juga ^_^

Meanwhile, gak sabar mnunggu tanggal 2. Suamiiiiiiii pulang!!

Advertisements
gubraggabrug, pwtajah, tan

Lebaran Sepi Saya Tahun Ini

Idul Fitri tahun ini adalah edisi pertama super spesial buat saya. Idul Fitri pertama tanpa keluarga. Idul Fitri pertama yang saya rayakan seorang diri di Purwokerto. How does it feel to be alone on the day supposed to be spent with my family? Tidak terlalu mengerikan, ternyata.

Mungkin karena dari awal saya sudah menyiapkan mental apa ya. Sejak awal saya menyadari klo mudik seorang diri ketika kandungan menginjak usia 37 minggu adalah sesuatu yang berat untuk dijalani. Apalagi, saya berencana untuk melahirkan di Purwokerto. Klo mudiknya sudah berat, baliknya apa lagi. Saya tidak berani mengambil resiko yang ada, alhamdulillah keluarga juga memahami hal ini. Dan bginilah, saya berlebaran sepi tahun ini.

Idul Fitri saya sendiri jauh dari dipersiapkan dengan baik. Karena tidak mau mengulang antri di supermarket, dan pilihan ke belanja Pasar Tradisional menjelang hari raya saya anggap lebih parah dari supermarket, saya dari awal sudah mengandalkan bapak tukang sayur keliling untuk menyediakan stok makanan saya selama libur. Ternyata, di hari terakhir puasa si Bapak dengan cakepnya tidak lewat depan rumah. Halah, bingunglah saya. Status bahan makanan di rumah Sabtu kmaren lagi benar-benar kritis, karena sejak Rabu saya tidak masak. Jadilah saya jam 11 berangkat berbalanja di satu-satunya warung yang mulai bukanya jam 10 pagi. Ternyata di sana antriannya panjang. Banyak ibu-ibu yang malas berbelanja sendiri nitip minta dibelikan ini-itu sama Mbakyu penjualnya *saya blom tahu nama Mbakyu penjualnya, karena saya baru saja tahu keberadaan warung ini minggu kmaren dari Bu Endang*. Nah, pas saya datang ibu-ibu itu sedang mengambil barang titipannya. Mantap deh, saya yang tidak punya titipan ini dipinggirin terus.

Dan kejadian di supermarket beberapa minggu terulang lagi. Keringat dingin, pusing dan akhirnya pandangan yang berkunang-kunang. Untungnya ada ibu yang baik hati yang bisa melihat tanda-tanda gak beres diwajah saya membawa saya ke kursi dan mendudukkan saya disana. Selamatlah saya, gak jadi pingsan ditempat umum, alhamdulillah. Seiring kondisi fisik saya membaik, antrian ibu-ibu mulai berkurang. Dan ktika giliran saya dilayani, stok barangnya sudah tinggal seadanya. Hahahaha, benar-benar idul fitri edisi prihatin lah.

Karena saya bermotor, mau pulang saya juga mikir. Dengan kondisi badan yang gak jelas sperti itu kok saya agak khawatir ya. Tapi, mau minta tolong siapa? Teman-teman saya sudah pada mudik. Yang tersisa di Purwokerto pun bukannya sedang duduk tenang gak ada kerjaan kan? Bahkan teman ABG saya yang biasanya menjadi emergency call saya sedang dikaryakan ibunya. Bismillah, saya nekat saja akhirnya pulang sendiri. Pelan-pelan dan gemetaran. Hahahaha, lucu deh mengingat saat-saat itu.

Sesampainya dirumah saya membatalkan puasa lalu laporan ke suami. Terus terkapar di kasur, wlopun tidak benar-benar bisa tidur. Sore saya baru bisa bangun dan memasak sdikit makanan. Malamnya kondisi saya tidak kunjung membaik. Klo sudah bgini manjanya kumat deh. Akhirnya suami mantengin monitor laptopnya, yang sedang streaming saya tidur gulang-giling gak jelas. Alhamdulillah bangun-bangun kondisi saya sudah jauh lebih baik. Terimakasih Sayang yah ^_^

Paginya, saya berencana sholad ied di kampus. Tapi apa daya, saya bangun ksiangan. Sholat ied di kampus dijadwalkan jam 6, saya baru melek 10 menit sblomnya. Akhirnya saya ikut sholat di kompleks, di Jl. Gatramas yg dimulai jam 6.30. Saya menggigil kedinginan, karena sisa demam semalam ditambah lagi dengan suasana pagi yang berkabut. Huhuhu, gak khusuk deh sholatnya.

Pulang, sendirian. Masak sendiri lalu makan sendiri.

No body come. Saya juga bingung mau silaturahmi ke mana. Baby Asa dan keluarganya langsung cabut setelah sholat ied. Demikian juga Baby Abid. Hanya tersisa keluarga Oya dan Vina yang siangan dikit juga mengunci pagar rumahnya. Officially jadilah saya penunggu sisi selatan Jl. Paguyuban 1. Keluarga teman yang pengen saya kunjungi ternyata juga langsung ke rumah neneknya di Karanglewas untuk berlebaran di sana. Lengkap sudah lebaran sepi saya.

Skarang, H+2, beberapa tetangga sudah mulai balik. Jalanan depan rumah mulai rame dengan teriakan anak-anak. Bahkan tukang mie ayam sudah keliling lagi. Kehidupan telah kembali ke sini, walaupun ujung jalanan masih ditutup. Selama masa libur ini Jl. Paguyuban 1 dan Paguyuban 3 diblok. Satu-satunya akses masuk adalah lewat Jl. Paguyuban 2 yang 24 jam dijaga oleh Bapak-bapak dari kampung sebelah. Ternyata warga disini aware sekali dengan keamanan lingkungan, ya.

Demikian laporan pandangan mata idul fitri sepi dari si pelaku, langsung dari D4-27.

pwtajah

Rombongan ^_^

Di Fakultas saya ada semacam tren yang berkaitan dengan kehamilan. Maksud saya, klo salah satu warganya hamil, biasanya akan ada yang mengikuti. Makanya, anak-anak teman saya umumnya pada berdekatan. Misalnya ada angkatan Salsa, Mutiara dan Fathiya. Amar dan Shabrina. Randy dan Rani. Yuza dan Harris. Farhan, Ulung dan Najwa.

Nah, sepertinya tren ini masih berlanjut sampai sekarang. Kebetulan saya yang diperkirakan lahiran paling awal, disusul Bu Supri yang HPLnya seminggu setelah saya. Kemudian ada Bu Mistam yang sekarang usia kandungannya masuk bulan ke 7. Disusul oleh Bu Parman yang sekarang sudah hampir 5 bulan dan masih juga mengalami mabok kelas berat *sungguh, saya amat mensyukuri kondisi saya klo melihat kondisinya saat ini* , dan Bu Ika yang surprisingly mengandung putra ketiganya saat Farhan masih blom genap 1,5 tahun.

Nah, hari ini list tersebut bertambah panjang. Bu Endang tadi sounding klo hasil test packnya positif. What a surprise. Kado istimewa yang hadir seminggu setelah ultah beliau yang ke 39. Setelah Ryan, putra semata wayang beliau berumur 20 tahun dan mau lulus kuliah. Bu Endang bilang, jujur saja dia malu dengan kehamilannya ini. Ya malu saja klo inget si Kakak sudah mau menikah kok malah hamil lagi.

Saya yang masih hijau ini diceritani seperti itu ya cuma bisa tersenyum-senyum saja. Saya bilang, klo memang dikasih hamil sekarang ya artinya memang skaranglah saatnya. Allah yang tahu apa maksudnya. Lalu kami melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada. Eh, menyenangkan ternyata. Saat si Kakak lulus kuliah nanti dan bekerja somewhere out there, kan Ayah-Ibu gak kesepian, karena ada si Adik yang harus diurus dirumah. Bulan madu setiap hari yang harus dihentikan, hehehe.. *FYI, Ryan ini kuliah di Jogja dan hanya pulang pas weekend saja*

Apapun itu, selamat Bu Endang ya. Juga untuk semua Bumil se-Farmasi Raya. Semoga kita semua sehat dan selamat sampai melahirkan nanti….

dearbaby

35w4d: Baby Girl

Terakhir kali ketemu Pak Daliman dsog saya Kamis (10/09) kmaren, alhamdullilah semuanya baik. Kepala bayi saya sudah masuk panggul, plasenta tidak bermasalah, air ketuban cukup, jantung bagus dan beratnya sudah 2,66 kg.

Tampaknya space untuk jagoan kecil saya smakin sempit saja di dalam sana. Pola gerakannya sudah amat berbeda dibandingkan apa yang dilakukannya sebulan yang lalu. Klo dulu kan jungkir baliknya kerasa banget tuh, seluruh area perut dijelajahinya. Klo sekarang cuma kruntelan saja, dengan efek perut jadi meleyat-leyot lucu. Itupun yang dominan di sisi perut kanan saya saja. Ternyata, sisi kiri rahim saya ditempati oleh punggungnya. Jadi wajar klo relatif lebih anteng dibanding area kanan yang berisikan kaki dan tangannya.

Kmaren, untuk pertama kalinya bayi saya show off banget, Biasanya klo diintip dia tidur lelap dengan paha ditutup rapat-rapat. Kmaren dengan PDnya dia membuka lebar-lebar kedua kakinya dan menunjukkan gendernya pada kami. Dan??? She is a baby girl. Our Baby S. Hahaha, saya jadi ketawa sendiri mengingat jumper-jumper berwarna gahar bergambarkereta api, truk dan bola-bola yang tentunya jauh dari kesan feminim. Ah, masih bayi ini, salah kostum tidak apa-apa kan ya? ^_^

Dari sisi emaknya juga alhamdulillah baik. Tekanan darah naik ke 100/70. Berat badan saya untuk pertama kalinya mencapai angka 54,5 kg. Tentunya saya girang melihat angka-angka itu. Tapi Pak Daliman bilang, itu semua adalah efek waktu pemeriksaan yang setelah buka. Ternyata benar, sore tadi pas senam dan pemeriksaan dilakukan sebelum buka, berat badan saya masih juga 52,5 kg, tekanan darahnya 100/60. Kesannya kok saya ini maruk skali pas berbuka ya, hehehe…

Teori yang saya baca mengatakan, posisi berbaring terbaik untuk bumil adalah miring ke kiri. Ternyata hal itu tidak bisa diterapkan pada dfiri saya. Soalnya, klo miring ke kiri heartburn yang saya rasakan jadi smakin parah. Kata Pak Daliman sih tidak perlu memaksakan diri miring ke kiri. Klo memang gak nyaman miring ke kanan juga tidak apa-apa. Yang penting saya merasa nyaman. Dengan berjalannya waktu saya belajar bahwa ganjalan bantal di tempat yang tepat banyak membantu mengurangi ketidaknyamanan akibat heartburn itu.

Semoga kami sehat terus ya….