gubraggabrug, pwtajah, tan

Lebaran Sepi Saya Tahun Ini

Idul Fitri tahun ini adalah edisi pertama super spesial buat saya. Idul Fitri pertama tanpa keluarga. Idul Fitri pertama yang saya rayakan seorang diri di Purwokerto. How does it feel to be alone on the day supposed to be spent with my family? Tidak terlalu mengerikan, ternyata.

Mungkin karena dari awal saya sudah menyiapkan mental apa ya. Sejak awal saya menyadari klo mudik seorang diri ketika kandungan menginjak usia 37 minggu adalah sesuatu yang berat untuk dijalani. Apalagi, saya berencana untuk melahirkan di Purwokerto. Klo mudiknya sudah berat, baliknya apa lagi. Saya tidak berani mengambil resiko yang ada, alhamdulillah keluarga juga memahami hal ini. Dan bginilah, saya berlebaran sepi tahun ini.

Idul Fitri saya sendiri jauh dari dipersiapkan dengan baik. Karena tidak mau mengulang antri di supermarket, dan pilihan ke belanja Pasar Tradisional menjelang hari raya saya anggap lebih parah dari supermarket, saya dari awal sudah mengandalkan bapak tukang sayur keliling untuk menyediakan stok makanan saya selama libur. Ternyata, di hari terakhir puasa si Bapak dengan cakepnya tidak lewat depan rumah. Halah, bingunglah saya. Status bahan makanan di rumah Sabtu kmaren lagi benar-benar kritis, karena sejak Rabu saya tidak masak. Jadilah saya jam 11 berangkat berbalanja di satu-satunya warung yang mulai bukanya jam 10 pagi. Ternyata di sana antriannya panjang. Banyak ibu-ibu yang malas berbelanja sendiri nitip minta dibelikan ini-itu sama Mbakyu penjualnya *saya blom tahu nama Mbakyu penjualnya, karena saya baru saja tahu keberadaan warung ini minggu kmaren dari Bu Endang*. Nah, pas saya datang ibu-ibu itu sedang mengambil barang titipannya. Mantap deh, saya yang tidak punya titipan ini dipinggirin terus.

Dan kejadian di supermarket beberapa minggu terulang lagi. Keringat dingin, pusing dan akhirnya pandangan yang berkunang-kunang. Untungnya ada ibu yang baik hati yang bisa melihat tanda-tanda gak beres diwajah saya membawa saya ke kursi dan mendudukkan saya disana. Selamatlah saya, gak jadi pingsan ditempat umum, alhamdulillah. Seiring kondisi fisik saya membaik, antrian ibu-ibu mulai berkurang. Dan ktika giliran saya dilayani, stok barangnya sudah tinggal seadanya. Hahahaha, benar-benar idul fitri edisi prihatin lah.

Karena saya bermotor, mau pulang saya juga mikir. Dengan kondisi badan yang gak jelas sperti itu kok saya agak khawatir ya. Tapi, mau minta tolong siapa? Teman-teman saya sudah pada mudik. Yang tersisa di Purwokerto pun bukannya sedang duduk tenang gak ada kerjaan kan? Bahkan teman ABG saya yang biasanya menjadi emergency call saya sedang dikaryakan ibunya. Bismillah, saya nekat saja akhirnya pulang sendiri. Pelan-pelan dan gemetaran. Hahahaha, lucu deh mengingat saat-saat itu.

Sesampainya dirumah saya membatalkan puasa lalu laporan ke suami. Terus terkapar di kasur, wlopun tidak benar-benar bisa tidur. Sore saya baru bisa bangun dan memasak sdikit makanan. Malamnya kondisi saya tidak kunjung membaik. Klo sudah bgini manjanya kumat deh. Akhirnya suami mantengin monitor laptopnya, yang sedang streaming saya tidur gulang-giling gak jelas. Alhamdulillah bangun-bangun kondisi saya sudah jauh lebih baik. Terimakasih Sayang yah ^_^

Paginya, saya berencana sholad ied di kampus. Tapi apa daya, saya bangun ksiangan. Sholat ied di kampus dijadwalkan jam 6, saya baru melek 10 menit sblomnya. Akhirnya saya ikut sholat di kompleks, di Jl. Gatramas yg dimulai jam 6.30. Saya menggigil kedinginan, karena sisa demam semalam ditambah lagi dengan suasana pagi yang berkabut. Huhuhu, gak khusuk deh sholatnya.

Pulang, sendirian. Masak sendiri lalu makan sendiri.

No body come. Saya juga bingung mau silaturahmi ke mana. Baby Asa dan keluarganya langsung cabut setelah sholat ied. Demikian juga Baby Abid. Hanya tersisa keluarga Oya dan Vina yang siangan dikit juga mengunci pagar rumahnya. Officially jadilah saya penunggu sisi selatan Jl. Paguyuban 1. Keluarga teman yang pengen saya kunjungi ternyata juga langsung ke rumah neneknya di Karanglewas untuk berlebaran di sana. Lengkap sudah lebaran sepi saya.

Skarang, H+2, beberapa tetangga sudah mulai balik. Jalanan depan rumah mulai rame dengan teriakan anak-anak. Bahkan tukang mie ayam sudah keliling lagi. Kehidupan telah kembali ke sini, walaupun ujung jalanan masih ditutup. Selama masa libur ini Jl. Paguyuban 1 dan Paguyuban 3 diblok. Satu-satunya akses masuk adalah lewat Jl. Paguyuban 2 yang 24 jam dijaga oleh Bapak-bapak dari kampung sebelah. Ternyata warga disini aware sekali dengan keamanan lingkungan, ya.

Demikian laporan pandangan mata idul fitri sepi dari si pelaku, langsung dari D4-27.