bahanrenungan, gubraggabrug

Forbidden Question

Pembicaraan di dinding facebook seorang teman membuat saya menambahkan satu pertanyaan yang sebisa mungkin tidak akan saya tanyakan pada teman saya: Anakmu sudah berapa? Apapun diksinya.

Jadi begini, si teman (R) itu menulis tentang keinginannya makan pizza sbagai statusnya. Trus beberapa teman (T,S,A,U dan saya) menimpali status itu, rame obrolannya, topiknya sampai kemana-mana. Yaah, obrolan teman yang sudah lama tidak berkumpul kan selalu hangat. Tapi oh tapi, obrolan itu jadi beku saat si R mengetik, “Anakmu sudah berapa T?”

Beku. T tidak bisa menjawab klo dia blom punya anak karena dia sudah 3 kali kehilangan janinnya. Beku karena S, A, U dan saya juga tidak bisa menjelaskannya pada R. Akhirnya T berhenti dari obrolan itu. Dan terimakasih pada U yang melemparkan topik baru untuk mengalihkan pembicaraan. Tapi sayangnya R ini tidak peka. Dia mengulangi pertanyaan yang sama, lagi. Amat tidak nyaman bagi kami smua.

Ya mungkin pertanyaan itu wajar ya. T adalah yang pertama menikah diantara kami. Kami belum pernah ketemu secara fisik sejak kelulusan kami. Wajar klo berasumsi T sudah memiliki keturunan. Tapi bagi T, pertanyaan itu sungguh menyakitkan, membawa ketakutan-ketakutan dan kesedihannya kembali.

Pertanyaan yang sebelumnya saya hindari saat berbincang dengan teman yang sudah lama tidak bertemu adalah, -sudah menikah belum?-

Dan eh, sore tadi saya kembali mendapatkan satu pertanyaan yang saya tambahkan pada kedua pertanyaan itu. -ASIX kan?-

Ceritanya juga berawal dari dinding facebook. -Ooooh, apa saya terdengar seperti facebook addicted?- Teman saya dan kontaknya yang tidak saya kenal berantem karena berbeda pikiran, yang diawali dengan pertanyaan itu. Yaa, no offence kan klo ada golongan yang pro ASIX banget, sedemikian pro-nya sampai membabibuta menempatkan ibu-ibu yang tidak bisa memberikan ASIX ke bayinya dalam posisi pesakitan. Seorang teman menamakan golongan itu Nazi ASI. Sementara di sisi lain, ada ibu-ibu yang sebenarnya pengen memberikan ASIX tapi tidak mampu. Ya klo pertanyaan itu keluar pada situasi yang pas. Klo tidak?

Jadi intinya, saya tidak mau terjebak dalam ketidaknyamanan karena pertanyaan-pertanyaan itu.

Advertisements

2 thoughts on “Forbidden Question”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s