pwtajah, tan

Tips Langsing Pasca Melahirkan ala Tanti

Sejak kemarin saya lumayan bayak ketemu orang-orang. Mereka pada bertanya, “Kok sudah langsing lagi?”

Hmmm, sayanya cuma bisa senyum-senyum. Sebelum hamil saya 49 kg. Menjelang melahirkan 54 kg. Sekarang?? 48 kg.

Terus, apa rahasianya?

  • Kirim suami keluar kota sebulan setelah melahirkan
  • Jangan gunakan jasa asisten yang datang setiap hari
  • Antar jemput bayi 3m18d ndundut ke TPA dengan jalan kaki
  • Ngantor disambut tunggakan pekerjaan selama cuti.

Yes, life is beautiful ^_^

PS: Suamiiii, istrimu lagi kumat sinisnya. Mohon dimaafkan.

pwtajah, sehat

Madu dan Rasionalitas

Saya baru saja belajar bahwa rasional itu penting. Dan untuk bisa rasional, kita harus tahu ilmunya. Dan jangan takut untuk menyuarakan apa yang kita tahu, karena mungkin yang kita tahu itu bermanfaat bagi orang lain.

Waktu saya menengok bayi teman yang umurnya terpaut satu bulan dari Sophie, secara eksplisit teman saya mengatakan bahwa putingnya masuk dan ia kesulitan menyusui bayinya. I’ve been there, makanya saya berbagi tentang apa yang saya lakukan untuk bisa menyusui baby Sophie di awal-awal dulu. Nah, yang membuat saya terkejut adalah bahwa ia mengoleskan madu pada bibir bayinya untuk merangsang reflek menghisapnya. Saya kemudian menginformasikan kepadanya bahwa madu setahu saya tidak cocok untuk bayi dibawah 1 tahun. Teman saya berkata, cuma sedikit dan itu adalah sunah. Ya sudah, saya tidak berani bicara lebih jauh lagi.

Madu memang bahan pangan yang sakti. Ketika saya dulu tidak bisa makan dan muntah melulu di awal-awal kehamilan saya, madu adalah penyelamat saya. Bisa dimaklumi karena madu adalah sumber energi yang kaya dengan karbohidrat, jadi saya tetap punya energi untuk metabolisme dari pemecahan gula-gula tersebut. Tetapi sebagai makanan bayi, nanti dulu. Bayi dibawah 6 bulan sistem pencernaannya belum siap untuk mencerna aneka monosakarida dan disakarida serta sedikit polisakarida di dalam madu. Akan mengendap di usus, ekstrimnya. Belum lagi fakta bahwa madu bisa menbawa endospora Clostridium botulinum. Bayi di bawah 1 tahun produksi asam lambungnya belum mencukupi untuk menghancurkan bakteri ini. Dan botulisme, sama sekali bukan kondisi yang bisa dipandang remeh.

Beberapa hari yang lalu saya diberitahu bahwa bayi teman saya ini dibawa di rumah sakit. Adik Bayi selalu muntah ketika disusui, lemes dan  tidur terus sepanjang hari. Kebetulan saya bertemu dengan Ibu teman saya, yang mengatakan bahwa cucunya mulai tidak bisa nenen setelah madunya diganti. Masih diberi madu, tanya saya. Katanya iya, untuk olesan empengnya.

Saya kemudian membaca-baca tentang botulisme. Beberapa gejala yang dialami oleh adik bayi cocok dengan deskripsi botulisme. Beberapa yang lain tidak.

Ketika saya menengoknya di rumah sakit, setelah dua hari perawatan kondisinya mulai membaik. Lagi tidur dengan nyenyak. Di hari pertama, adik bayi sempat mengalami kejang demam dan seharian tidak bisa tidur. Sedih sekali melihatnya, saya berdoa semoga kondisinya cepat pulih sepenuhnya dan baby Sophie selalu sehat. Ketika berbincang dengan teman saya, dia tidak tahu pasti apa diagnosanya. Yang jelas DSA yang merawat bayinya memperkirakan ada infeksi dan menyuruh menghentikan pemberian madu. Katanya, hasil pemeriksaan leukositnya tinggi. Apakah dikultur feses atau darahnya, tanya saya. Ternyata tidak.

Saya kemudian mengintip obat yang digunakan diberikan padanya. Ada metoklopramid, cefotaksim, gentamisin dan ambroksol. Kasihan sekali hati dan ginjal kecilnya. Sayang diagnosisnya tidak disampaikan dengan jelas ya. Klo misalnya beneran botulisme, antibiotiknya jelas tidak diperlukan. Apalagi sampai dua. Klo bukan, infeksi bakteri apa? Atau karena virus? Kok ya Cefotaksim yang diberikan. Lah terus itu Ambroksolnya juga buat apa?

Seringnya begitu ya. Klo anak sudah sakit apa juga dilakukan. Demi kesembuhan anak sendiko dawuh saja perkataan dokter. Padahal teman saya itu, dua-duanya adalah farmasis yang tentunya punya pemahaman yang lebih tentang risk-benefit dari penggunaan obat. Dan, mereka bukan farmasis murtad semacam saya loh, mereka berpraktek. Kami dulu belajar tentang rasional-irasionalnya obat yang tertulis dalam selembar resep dulu. Tapi ternyata saat bener kesenggol kejadian pada diri sendiri, lupa semua. *Seperti pengaturan nafas saat melahirkan yang dipelajari selama senam hamil* Demi kesehatan anak.

Huhuu, saya bicara seperti kaya bisa rasional saja ya dalam menggunakan obat. Saya gagal mengajarkan subyek ini ke keluarga saya yang Karanganyar sana, Bapak – Ibu saya slebor berat dalam menggunakan obat-obat OTC. Menu harian lah. Bersin sdikit, cari Neozep. Pusing sdikit, cari bodrek. Batuk sedikit, cari Komix. Sedih juga. Dan klo diberitahu gak mau dengerin. Terakhir saya mencoba menyampaikan ini, Bapak saya menjawab, “Aku wis tuwek, meh 60 tahun” Speechless lah saya jadinya.

Semoga kami selalu sehat ya, sehingga tidak perlu berurusan dengan obat. Dan semoga saya bisa tetap rasional klo memang harus deal dengan obat.

gubraggabrug, tan

Duduuuul…..

Tadi pagi saya mampir ke SPBU Arcawinangun sebelum berangkat ke kampus. Sudah ngantri dengan manisnya, mematikan mesin dan membuka jok. Saya kemudian nyengir senyengir-nyengirnya pas Mas Penjaga SPBU menanyakan seberapa banyak saya ingin mengisi premiumnya. Saya yang reflek melihat indikator BBM melihat bahwa jarumnya masih nempel-nempel sama huruf F. Lahhh, sebenarnya mau ngapain ya saya tadi???

Jadi, niat awal saya adalah ke ATM yang ada di kompleks SPBU itu. Tapi refleks saya adalah berbelok ke antrian pengisian BBM. Reflek yang wagu. Huhuhuuu, akhirnya saya nyengir sekali lagi ke si Mas dan membawa diri ke depan booth ATM. Dudulll.

Beberapa malam yang lalu saya sedang memompa ASI ketika Sophie bangun. Saya buru-buru memindahkan ASI dari pompa ke botol UC1000 lalu nyamperin bos kecil yang minta jatah nenen malamnya. Trus, saya lupa begitu saja dengan ASI yang masih nangkring diatas kulkas. Dan baru sadar pagi harinya saat mau mengambil ASIP buat gembolan Sophie ke TPA. Haiiisshhhh…

Ternyata benar kata orang-orang. Setelah melahirkan otak kita tambah error. Tambah pelupa dan disoriented. Saya yang base line-nya sudah dudul jadi makin dudul saja.

babysophie, milestone, sehat, vaksinasi

Bulan Ketiga Sophie

Di umurnya yang menginjak 3 bulan tanggal 4 kemarin, Sophie makin besar saja. Semakin ndundut secara fisik, semakin interaktif pula. Embah yang datang selama liburan sekolah terkaget-kaget melihat Sophie lagi, yang sudah amat jauh berbeda dari versi new born-nya.

Alhamdulillah, Sophie masih minum ASI saja. Kadang banyak banget minumnya sampai si Mama kewalahan, kadang sedikit sekali sampai Mamanya khawatir *Ah, Mamanya yang rewel nih ya, sedikit khawatir banyak bingung. Apa maunya Ma?!* Minggu ini Sophie lagi banyak gumoh, shari bisa dua kali, padahal dulu amat jarang lo. Kenapa ya sebabnya? Padahal sudah disendawakan pasca nenen.

Beberapa hal yang dikuasai Si Gendhuk sekarang ini antara lain:

  1. Masih suka ngenyot tangan. Dua-duanya. Klo tangan kanan, yang dihisap adalah jempolnya. Klo tangan kiri, yang diemut adalah jari telinjuk sama punggung tangannya. Dan klo sudah ngenyot Mamanya dicuekin. Huhuhuu…
  2. Semakin suka tersenyum. Setiap kali wajahnya didekati, dia akan memamerkan gusinya.
  3. Mulai suka mainan. Klo di TPA, diatas tempat tidur Sophie digantungi mainan berwarna ngejreng dan berbunyi-bunyi. Sophie suka melihatnya, bisa anteng tuh mantengin mainan. Kemaren Mama membelikan rattler Pooh, dan ternyata Sophie suka. Setiap kali Mama ngamen dia akan teriak-teriak heboh.Tapi, Sophie blom tertarik untuk memegang sendiri mainannya.
  4. Kakinya makin kuat menendang-nendang. Badannya suka diangkat-angkat, beratnya tertumpu pada punggung dan kakinya. Belom, Sophie belum bisa tengkurap kok, mengangkat kepalanya saja masih malas. Benar-benar anak Mama ya, hahahaa
  5. Tidurnya kadang gelisah. Kaya orang gedhe saja, pake acara mimpi, nangis-nangis sampe ketawa-tawa pas tidur. Niru Papanya persis deh yang ini.

Kemaren Sophie sempat sakit. Gara-gara emaknya gak tertip pake masker pas pilek, Sophie ketularan deh. Trus bakterinya iseng menyebrang ke telinga Sophie. Mulai keluar sekret dan berbau agak asam kedua telinganya. Awalnya saya mengira infeksi virus, jadinya saya cuma memperkuat ketahanan tubuh Sophie dengan cara terus meneneninya. Tapi kok sudah 2 minggu lebih tidak ada tanda-tanda membaik, bahkan sempat keluar sekret berwarna kehitaman dan baunya semakin mengganggu. Akhirnya saya membawanya ke DSTHT di Klinik Nuraya *huhuhuu, saya lupa nama dokternya, parah yaa*. Dan kata dokter tersebut Sophie memang terinfeksi bakteri di kedua telinganya. Sophie dapat obat tetes telinga yang berisi Kloramfenikol + Lidokain. Masalah baru muncul ketika saya mengobatinya dirumah. Sophie terlihat kesakitan setiap kali saya menetesi telinganya. Telinganya memerah. Bahkan kalo saya lihat, intensitas sakitnya malah lebih tinggi dibandingkan sebelum diobati. Saya baca-baca, eh, ternyata si sediaan itu memang punya efek samping menyebabkan urtikaria dan rasa terbakar pada individu yang sensitif. Grrr, gemes sekali saya mendapati ini. Kok ya anak saya sesensitif ini ya.*Iyaa, Sophie juga demam tinggi pas imunisasi DTaP. Padahal saya pake vaksin aseluler, yang katanya prosentase efek demam tingginya hanya muncul pada sekitar 0.01% penerimanya. Eh, Si Sophie masuk yang 0,01% itu*

Setelah 2 kali penggunaan, telinga Sophie sudah tidak berbau lagi. Tapi saya gak tega melihat Sophie gak nyaman dengan obatnya. Akhirnya secara sepihak saya menghentikan penggunaan sediaan tersebut dan menggantinya dengan tetes telinga yang isinya hanya kloramfenikol saja. Semoga gak sakit lagi telinganya sayang ya…