pwtajah, sehat

Madu dan Rasionalitas

Saya baru saja belajar bahwa rasional itu penting. Dan untuk bisa rasional, kita harus tahu ilmunya. Dan jangan takut untuk menyuarakan apa yang kita tahu, karena mungkin yang kita tahu itu bermanfaat bagi orang lain.

Waktu saya menengok bayi teman yang umurnya terpaut satu bulan dari Sophie, secara eksplisit teman saya mengatakan bahwa putingnya masuk dan ia kesulitan menyusui bayinya. I’ve been there, makanya saya berbagi tentang apa yang saya lakukan untuk bisa menyusui baby Sophie di awal-awal dulu. Nah, yang membuat saya terkejut adalah bahwa ia mengoleskan madu pada bibir bayinya untuk merangsang reflek menghisapnya. Saya kemudian menginformasikan kepadanya bahwa madu setahu saya tidak cocok untuk bayi dibawah 1 tahun. Teman saya berkata, cuma sedikit dan itu adalah sunah. Ya sudah, saya tidak berani bicara lebih jauh lagi.

Madu memang bahan pangan yang sakti. Ketika saya dulu tidak bisa makan dan muntah melulu di awal-awal kehamilan saya, madu adalah penyelamat saya. Bisa dimaklumi karena madu adalah sumber energi yang kaya dengan karbohidrat, jadi saya tetap punya energi untuk metabolisme dari pemecahan gula-gula tersebut. Tetapi sebagai makanan bayi, nanti dulu. Bayi dibawah 6 bulan sistem pencernaannya belum siap untuk mencerna aneka monosakarida dan disakarida serta sedikit polisakarida di dalam madu. Akan mengendap di usus, ekstrimnya. Belum lagi fakta bahwa madu bisa menbawa endospora Clostridium botulinum. Bayi di bawah 1 tahun produksi asam lambungnya belum mencukupi untuk menghancurkan bakteri ini. Dan botulisme, sama sekali bukan kondisi yang bisa dipandang remeh.

Beberapa hari yang lalu saya diberitahu bahwa bayi teman saya ini dibawa di rumah sakit. Adik Bayi selalu muntah ketika disusui, lemes dan  tidur terus sepanjang hari. Kebetulan saya bertemu dengan Ibu teman saya, yang mengatakan bahwa cucunya mulai tidak bisa nenen setelah madunya diganti. Masih diberi madu, tanya saya. Katanya iya, untuk olesan empengnya.

Saya kemudian membaca-baca tentang botulisme. Beberapa gejala yang dialami oleh adik bayi cocok dengan deskripsi botulisme. Beberapa yang lain tidak.

Ketika saya menengoknya di rumah sakit, setelah dua hari perawatan kondisinya mulai membaik. Lagi tidur dengan nyenyak. Di hari pertama, adik bayi sempat mengalami kejang demam dan seharian tidak bisa tidur. Sedih sekali melihatnya, saya berdoa semoga kondisinya cepat pulih sepenuhnya dan baby Sophie selalu sehat. Ketika berbincang dengan teman saya, dia tidak tahu pasti apa diagnosanya. Yang jelas DSA yang merawat bayinya memperkirakan ada infeksi dan menyuruh menghentikan pemberian madu. Katanya, hasil pemeriksaan leukositnya tinggi. Apakah dikultur feses atau darahnya, tanya saya. Ternyata tidak.

Saya kemudian mengintip obat yang digunakan diberikan padanya. Ada metoklopramid, cefotaksim, gentamisin dan ambroksol. Kasihan sekali hati dan ginjal kecilnya. Sayang diagnosisnya tidak disampaikan dengan jelas ya. Klo misalnya beneran botulisme, antibiotiknya jelas tidak diperlukan. Apalagi sampai dua. Klo bukan, infeksi bakteri apa? Atau karena virus? Kok ya Cefotaksim yang diberikan. Lah terus itu Ambroksolnya juga buat apa?

Seringnya begitu ya. Klo anak sudah sakit apa juga dilakukan. Demi kesembuhan anak sendiko dawuh saja perkataan dokter. Padahal teman saya itu, dua-duanya adalah farmasis yang tentunya punya pemahaman yang lebih tentang risk-benefit dari penggunaan obat. Dan, mereka bukan farmasis murtad semacam saya loh, mereka berpraktek. Kami dulu belajar tentang rasional-irasionalnya obat yang tertulis dalam selembar resep dulu. Tapi ternyata saat bener kesenggol kejadian pada diri sendiri, lupa semua. *Seperti pengaturan nafas saat melahirkan yang dipelajari selama senam hamil* Demi kesehatan anak.

Huhuu, saya bicara seperti kaya bisa rasional saja ya dalam menggunakan obat. Saya gagal mengajarkan subyek ini ke keluarga saya yang Karanganyar sana, Bapak – Ibu saya slebor berat dalam menggunakan obat-obat OTC. Menu harian lah. Bersin sdikit, cari Neozep. Pusing sdikit, cari bodrek. Batuk sedikit, cari Komix. Sedih juga. Dan klo diberitahu gak mau dengerin. Terakhir saya mencoba menyampaikan ini, Bapak saya menjawab, “Aku wis tuwek, meh 60 tahun” Speechless lah saya jadinya.

Semoga kami selalu sehat ya, sehingga tidak perlu berurusan dengan obat. Dan semoga saya bisa tetap rasional klo memang harus deal dengan obat.

Advertisements