ume

Sindrom Pra Pisahan

Saya, Tanti yang suka rewel, sejak kemarin jadi makin rewel. Cerewet kaya betet. Sedikit-sedikit ngambek. Tanduk dan ekor panah tumbuh memanjang dengan suburnya.

Efeknya ya ke Sophie. Dia ketularan aura gelap si mama. Jadi gak mau tidur, nangis menjerit-jerit. Hadudu, lingkaran setan banget yang satu ini.

Suamii, pengen lebih lama bersamamu. But you really have to go. Klo suami gak berangkat ke Bangkok lagi, lebih banyak mudhorotnya buat kami.

  • Sophie dan saya makin tergantung sama suami. Padahal, kami harus lebih mandiri setelah ini. Semakin mandiri. You know, mencoba hidup baru di Surabaya yang panasnya bak emperan neraka itu.
  • Saya terancam dijutekin orang sekantor karena gak hobby banget berangkat kerja selama suami di rumah. Ah ah ah, saya tahu ini buruk tapi sulit menghentikannya.
  • Klo suami tidak segera memulai lagi apa yang ditinggalkannya di Bangkok, bakalan mundur juga selesainya urusan di sana.

It’s not the first time. I have survived before. So I will make it. Bismillah….

Advertisements
babysophie, ume

Posting Borongan

Sophie skarang sudah 7 bulan 8 hari. Sudah pinter makan, sehari sudah dua kali. Hampir semua makanan yang saya perkenalkan lulus, kecuali kacang hijau yang sukses mendorong pergerakan di saluran pencernaannya. Sehari BAB minimal 5 kali! Menu favoritnya adalah bubur susu, mau beras merah atopun beras coklat sama doyannya. Kalau sayuran, suka ubi, labu parang, labu siam. Kalau buah, pisang dan jeruk adalah favorit Sophie. Apel dan pear kurang doyan. Kata suami, kalau Sophie menuruni selera beliau, Sophie gak suka apel dan pear mungkin karena rasanya yang aneh setelah dikukus. Ternyata benar, kemarin saya memberikan apel parut fresh, Sophienya suka. Untuk protein, saya baru perkenalkan pada tahu. Dan gagal. Sophie tidak suka teksturnya yang kasar. Pengennya nyari tahu jepang yah, tapi sampai kemarin saya belum nemu tahu jepang yang tanpa garam. Sejauh pengamatan saya, Sophie suka makanannya tidak dicampur. Jadi kalau menu sarapannya bubur susu dan labu siam, keduanya diletakkan dalam wadah yang terpisah. Tidak masalah kalau menyuapinya selang-seling, asal tidak campur di satu piring saja. Sempat kemarin saya buatkan puree pisang campur labu parang *enaaak, saya ngincip sidikit kemarin*, eh ternyata Sophie cuma mau makan sedikit dan dapat bonus sembelit pula. Untuk urusan BAB, kecuali kacang hijau dan puree pisang-labu parang yah, alhamdulillah tidak bermasalah. Dalam sehari Sophie BAB 1-2 kali. Kacang hijau si pendorong isi usus saya simpan dulu, nanti akan saya kenalkan kembali setelah Sophie 8 bulan. Nah, puree pisang-labu parang itu bermasalah karena saya menghaluskan semua pisang, termasuk bagian tengahnya. Saya lupa kalau bagian tengah pisang potensial mengeraskan feses.

As I said before, Sophie pinter makannya. Apalagi kalau yang menyuapi gurunya di TPA atau Papanya. Habis banyak tanpa banyak aksi. Beda kalau yang menyuapi si Mama. Konsentrasi makan cuma beberapa suap di awal saja. Setelahnya sibuk mendorong keluar makanan dengan lidahnya, tertawa-tawa liat tampang stress Mama, goyang kiri goyang kanan sambil ngoceh, atau minta minum air putih melulu. Apapun itu, saya bangga sekali pada Sophie. Tampaknya dia mewarisi selera makan kami berdua, Papa Mamanya, hahaha…

Walaupun makannya jagoan, berat Sophie minggu lalu masih mentok di 7kg. Padahal, menjelang 6 bulan, beratnya pernah mencapai 8,5 kg. Gara-garanya, Sophie kena batpil level advanced.Total hampir 2 mingguan Sophie batuk, pilek, panas dan muntah dalam rangka mengeluarkan lendir dari tenggorokannya. Jadi ceritanya, virus kurang kerjaan ber-pingpong ria Sophie ke saya, say hello lagi ke Sophie, kembali ke saya lalu ke Sophie lagi, huhuhuhu…Memang April kemarin kondisi kami lagi drop karena kecapekan. Dalam waktu 1 minggu kami traveling Pwt-Kendal-Pwt dan Pwt-Surabaya-Pwt dengan jeda hanya 3 hari saja. Perjalanan panjang *untuk ukuran Sophie lo ya* dan panasnya Pantura sukses membuat kami teler. Jadi Sophie ambruk duluan, tiga hari kemudian saat kondisinya membaik saya menyusul. Terus saya membaik, Sophie kembali beringus bening, dst dst. Totalnya, Sophie mengalami 3 siklus batpil. Saya juga memiliki catatan yang sama. Si Papa?? Aman gak tersentuh batpil, tertolong oleh golongan darahnya. Saya dan Sophie yang O sharing virus melulu. Papa yang B kebagian jatah mengurus kami deh.

Eh, Papa?? Ada di rumah?? Iyaaa Papa pulang sejak 14 April lalu. It is so much fun having him in the house. Ada yang gantiin celana Sophie pas pipis di tengah malam. Ada yang ngajak main Sophie saat saya harus menyiapkan makan Sophie di pagi hari. Ada yang menyuapi Sophie. Ada yang bisa mandiin Sophie sementara saya memperpanjang masa tidur *hihihi, istri durhaka ya Pa, maafkan* Ada yang bisa direbut kompie-nya saat mulai nge-game. Dan terutama ada teman tidur yang menyenangkan, hahahaha.

Dan gara-gara ada suami ini, kemaren kami sempat panik. Ketakutan setengah mati klo saya hamil lagi. Ini berawal dari saya yang sakit melulu itu loh. Suami iseng melontarkan statement, jangan-jangan saya hamil. Tubuh saya, tanpa bisa saya jelaskan, kok ya ikutan memperkeruh suasana. Panas melulu tapi saya merasa dingin, checked. Pusing yang berkepanjangan, checked. Nafsu makan berkurang, checked. Bau urin aneh, checked. Intinya semua hal yang terjadi pada saya pada saat awal-awal hamil Sophie muncul semua. Trus kami kepikiran, what if beneran hamil. Oh nooooo, serem sekali bayangannya. Tinggal terpisah dari suami, punya tanggungjawab sebagai anak sekolahan, baru pindah ke kota yang panasnya bak emperan neraka, sambil menggendong bayi *bayi, belum todler* yang aktifnya luar biasa dengan perut mbedundung. Ahhhhh, tidak!!!!! Beneran, saya stress sendiri membayangkan kondisi itu. Tapi alhamdulillah semua itu tidak terjadi. Setelah telat dua hari akhirnya yang ditunggu datang juga. Itupun harus dipancing dengan test pack dulu, hahahaha. Mungkin saya memang stress banget ya, sehingga siklus haid saya yang biasanya lancar, jadi bergeser.

Selain deg-degan khawatir hamil, keberadaan suami di rumah juga sukses menjauhkan saya dari pekerjaan. Pengennya di rumah terus, main-main bertiga. Jadinya bekerja ya asal menggugurkan kewajiban saja, hanya berangkat pada jam-jam tertentu yang mana saya memang wajib ada di kampus. Klo dulu saya berangkat kesiangan karena gak ada sparing partner ngurus Sophie, sekarang saya kesiangan karena lebih suka dirumah. Oh, ampunilah hambaMu yang kebanyakan maunya ini, Allah….