babysophie, indonesiaku, sehat

Oh, Not Again.

Saya mau cerita tentang kunjungan terakhir saya ke dokter. Mmmm, 2 minggu yang lalu kalau tidak salah.

Pas memandikan Sophie pagi-pagi, saya menemukan 2 blister di tangan dan 1 blister di kaki. Warnanya sih sama seperti kulit disekitarnya, tidak kemerahan, cuma nampak sedikit menggembung saja. Sore harinya, saya cek kok bertambah bayak. Ada 6 di tangan, kanan dan kiri, 6 juga di kaki. Keesokan harinya, lah kok nambah lagi. Tidak sampai banyak banget sih, tidak menyebar ke seluruh tubuh juga. Cuma di tangan dan kaki. Saya sih mikirnya, itu bukan cacar atau cacar air. Lagian Sophie juga tidak deman sama sekali. Tapi kok menyebar ya.

Maka, jadilah saya pengen ketemu dokter. Saya ingin beliau menegakkan diagnosisnya, sebenarnya apa yang menyerang Sophie. Lagian, status Sophie kan sebagai anak TPA. Khawatirnya Sophie terinfeksi virus apa lah dan berbagi dengan teman-temannya. Bisa-bisa saya diomeli emak-emak se TPA-PAUD nantinya. 

Singkat cerita, saya ketemu dengan dokter umum di dekat rumah saya. Saya menceritakan kondisi Sophie, lalu seperti biasa, ada pemeriksaan fisik.

Lalu saya bertanya, beneran bukan cacar atau cacar air kan. Bu Dokter jawab, bukan, jelas bukan keduanya. Lega. Lalu, saya bertanya lagi, trus, Sophie kenapa. Jawaban beliau membuat saya kaget.

“Gangguan kulit biasa”

“Maksud dokter? Gangguan apa?”, saya berusaha memperjelas

“Yaa, gangguan kulit yang biasanya”, jawab beliau sambil menulis resep.

Asli, saya langsung mutung. Memangnya Sophie biasa blisteran apa. Saya merapikan baju Sophie lalu bertanya lagi. “Menular tidak Dok? Berbahayakah?” Dalam pikiran saya, penilaian profesional beliau tentang menular tidaknya blister Sophie itu adalah yang terpenting. Kan tujuan utama saya itu.

“Tidak menular, diobati pake salep saja”, jawab beliau sambil menyodorkan selembar resep.

Mutung, saya menerima resep tersebut, mengucapkan salam lalu menggendong Sophie keluar. Coba tebak salep apa yang beliau resepkan? Garamycin. Huhuhuuuu…

OK, saya mengakui kalo saya salah. Seorang pasien, konsumen pelayanan kesehatan, harusnya tidak mutungan seperti saya. Seharusnya seorang pasien sadar dan memperjuangkan haknya untuk mendapatkan informasi. Dalam kasus saya, seharusnya saya menanyakan secara detail tentang blister Sophie. Mulai dari penyebabnya, treatmentnya, dan seterusnya. Seharusnya saya juga meminta informasi tentang obat yang diberikan sebagai bagian dari terapi itu. Obatnya apa, bagaimana obat itu menyembuhkan penyakit Sophie, bagaimana penggunaannya, ada tidak efek sampingnya, berapa lama penggunaannya dan sebagainya. Tapi, saya langsung mutung pada poin dimana saya tidak puas dengan performa si dokter. It’s bad, I know.

Kalo saya pikirkan lebih jauh kok saya jadi ngeri sendiri. Saya, walopun minimalis, punya bekal pengetahuan untuk memutuskan bahwa saya tidak perlu menebus salep itu. Lah, katanya tidak menular dan berbahaya kok, apanya yang mau diobati. Tapi apa yang terjadi klo yang ada di posisi saya adalah seseorang yang tidak paham? Bagaimana kalau petugas di apotek *siapapun itu, farmasis atau bukan* juga tidak melengkapi informasi tentang obat tersebut saat menyerahkannya. Oh, panjang urusannya.

Memang harus dua arah ya. Pasiennya sadar hak, gak mutungan dan mau mencari informasi lebih banyak. Dokternya juga harus tahu diri. Lah, gak semua orang punya pemahaman yang sama Bu. Mungkin beberapa orang bisa dilepaskan dengan informasi minimalis. Tapi, sebagian besar dari masyarakat kita adalah sebaliknya. Perlu informasi dan bimbingan untuk bisa mendapatkan manfaat pengobatan yang optimal, baik secara farmakologi maupun ekonomi.

Hei, ternyata saya bisa nulis serius ya, gak nyangka 🙂

PS: Ini bukan kali pertama saya ketemu dokter yang pelit informasi dan suka nulis resep yang ajaib. Makanya saja juduli seperti ini.

Advertisements
babysophie, milestone

Duduk dan Mengunyah

Baru beberapa hari yang lalu saya menulis Sophie masih juga blom mau duduk dan mengunyah, beberapa hari terakhir ini saya mendapati Sophie duduk dengan kokoh dan sukses makan bubur oat tanpa disaring!

So proud of you dear Sophie, we love you, a lot.

PS: Papa Sophie dulu gak merangkak. Duduk, ngesot, berdiri dan berjalan. Yes, NGESOT. Jadi saya sekarang gak terlalu mikirin kapan Sophie merangkak. As always, gen gak pernah berdusta kan?

tan, tpa

Hamil Lagi???

“Mamahnya Dek Sophie, ini apa?”

Pertanyaan itu diucapkan Hana, teman TPA Sophie, ketika saya menengok Sophie beberapa waktu yang lalu. Sambil bertanya, tangannya memegang perut saya, memandangnya dengan mata yang antusias sekali.

“Ini perut, Mbak Hana”, jawab saya sambil ikutan mengamati perut saya.

“Gedhe ya, Mamahnya Dek Sophie. Isinya adek bayi ya?”, sambung Hana tanpa dosa.

*** *** ***

Oh oh oh, saya langsung menanamkan berbagai afirmasi positif untuk menangkal pertanyaan Hana tersebut.

babysophie, milestone

Bulan Kedelapan Sophie

Sophie is 8m12d now. Sudah besar. Oh, time does fly fast.

Memang ya, penyakit manusia itu iri melulu. The grass is always greener on the other’s side. Walopun sudah tahu klo yang namanya setiap bayi itu unik dan individualis perkembangannya, tetap saja kadang saya gemes sendiri melihat Sophie yang terkesan ktinggalan perkembangan motorik kasarnya dibanding teman-teman seusianya. Well, sampai sekarang Sophie belum mau duduk sendiri. Klo didudukin bisa, wlopun masih meleyot sana-sini dan akhirnya nggeblak ke belakang. Merangkak apa lagi, blom ada tanda-tandanya. Tapi di luar saat-sat itu saya tahu klo Sophie baik-baik saja. She’s fine and she’s healthy, that’s the matter.

Menurut saya, aspek sosial adalah yang lebih dulu berkembang pada diri Sophie. Sekarang ini klo moodnya lagi bagus dia sudah bisa diajak salaman. Terus, Sophie juga sudah tahu konsep perpisahan. Klo dia dipamiti atau mau pergi, dia sudah bisa dada-dada. Dan, separation anxiety! Ampun dah klo yang ini. Sophie minggu-minggu ini sangat susah ditinggal sendiri. Maunya selalu ditemani. Sophie sekarang ini sudah bisa mengenali orang. Katakanlah dia ketemu dengan orang yang sudah dikenal dan disukainya, maka dia akan ekspresif sekali menunjukkan rasa sukanya. Tertawa-tawa dan melonjak-lonjak di gendongan, kadang tangannya meraih-raih mau menyentuh seseorang itu. Sebaliknya, klo belum kenal, boro-boro deh. Langsung nylungsep di ketiak Mamanya atau sok sibuk liat sana-sini.

Sophie suka sekali suara burung. Setiap pagi, dia akan minta keluar rumah dan mencari suara burung. Dan, Sophie mengasosiasikan burung sebagai sesuatu yang diatas. Ketika ia mendengan kicauan, refleks dia akan menengadah sambil celingukan mencari sumber suaranya. Hewan lain yang disukai Sophie adalah kucing. Kebalikan dari burung, Sophie tahu bahwa kucing adanya di bawah. Jadi klo saya bilang, “Nak, ada kucing tuh”, maka refleksnya adalah menunduk mencari-cari kucing tersebut. Dan pagi ini untuk pertama kalinya saya melihat Sophie ngawe *eh, apa ya bahasa Indonesianya?* melambaikan tangannya untuk memanggil si kucing! Wow, you do grow, my dear…

Untuk urusan makan, alhamdulillah lancar. Meskipun porsinya kecil, Sophie mau makan apa saja yang saya berikan padanya. Varian makanan baru yang saya perkenalkan akhir-akhir ini adalah ayam, sapi, brokoli, bayam, kangkung, semangka dan pepaya. Sekarang ini yang ada di waiting list adalah jamur, umbi bit, kuning telor, daun so, oyong, pasta dan oat. Kemampuan mengunyah Sophie belum begitu baik, jadi saya masih menyaring semua makanannya, kecuali agar, pepaya, pisang, kabocha dan alpukat. Rencananya mulai minggu depan saya hanya akan menyaring sayuran dan lauknya saja, buburnya dimakan langsung tanpa disaring.

Nah, yang membuat saya pusing adalah, dua hari ini Sophie tidak suka minum susu. Seharian saya titipkan di TPA, jam 08.30 sampai jam 14.30, Sophie tidak habis 100 mL coba. Saya awalnya berpikir Sophie lagi gak suka ASIP beku. Nah, kemarin saya bekali ASIP fresh saja. Dan tetep, cuma diminum sedikit sekali. Padahal ya, porsi makan Sophie juga gak banyak. Paling sekali makan 2 SDM saja. Memang air putihnya doyan, bisa 30 mL sekali makan. Huhuhuu, bagaimana ini…

Di luar pusing itu, saya berbahagia karena Sophie sudah lulus dot. Alhamdulillah. Sudah seminggu ini Sophie minum susu dengan Pigeon Magmag step 2. Untuk air putih sebelum dan setelah makan, diminum dengan cangkir mag-mag langsung klo dirumah, ato disendoki dari gelas klo di TPA. Seneng banget, semoga target bisa minum sendiri dari gelas tercapai pada usia 1 tahun ya ^_^

Tentang tidur, masih belum banyak perbedaan dari sebelumnya. Maghrib biasanya sudah nyenyak. Setiap 2 jam sekali masih nagih jatah nenen. Bangunnya jam 3-4. What a morning person. Trus, jam 6 setelah mandi langsung tidur lagi, biasanya selama 2 jam. Di TPA masih bisa tidur 1 atau 2 kali lagi. Hhhhh, gen memang gak pernah bohong ya. Penyakit doyan tidur ini kayanya mengakar banget di keluarga kami.

Tumbuh jadi anak yang sehat, baik hati dan ceria Nak ya…

babysophie

[8m5d] Akhirnya Kejadian Juga

Plak plak plak.

Ehm, the new day is started. Tabokan sayang Sophie di pipi membangunkan saya. Haduh, ini mata masih lengket. Dan saya tidak bergeming. Merem terus.

And louder. Pluk! Pluk! Plak!

Mau tidak mau saya bangun. Melirik jam dinding, baru jam 4. Saya memeluk Sophie sebentar. Sophie yang senang saya melek meronta-ronta sambil mulai berceloteh. Trus, saya merem lagi. Sumpah, ini mata kok lengket banget rasanya.

“Papapapapapapa….”

“Nanananananana….”

Saya mendengar Sophie main balon sambil berceloteh. Aman, batin saya. Si Bos kecil belum pengen keluar. Bisa nambah waktu tidur lagi, hehehehe. Sampai tiba-tiba…

Bruk! Dan, “Aaaaaaaaaa….”

Saya reflek terduduk dan melihatnya sudah di lantai. Langsung saya gendong, dan nangisnya berhenti. Nangisnya sih biasa saja, lebih karena kaget, bukan karena sakit.

Untungnya kasur sudah saya turunkan beberapa waktu yang lalu.