ume

Tahun Kedua Kami

Sore itu, wajah saya memerah. It was the first day I met him. Saya dan seorang teman datang ke kost-nya. Teman saya ada perlu dengannya, saya mau menjahitkan baju pada ibu kost-nya. Sesaat setelah kami duduk di ruang tamu, si teman berbisik pada saya yang sedang bengong melihat kendaraan lalu-lalang di depan. “Tanti gak ngeliat ya barusan? Pak Alwani cuman pake handuk doang. Lucu”. Singkat cerita, akhirnya saya bertemu dengannya. Sepanjang pertemuan itu saya geli sendiri dengan bayangan bagaimanakan bentuknya dalam balutan handuk saja. Dan itulah yang membuat wajah saya memerah. Bukan yang lain.

Time goes by, lalu saya mendapati diri saya terjebak dalam patah hati level advance. The worse brokenheart I ever had. Dia, menurut penuturannya kemudian, mulai notice keberadaan saya saat itu. Saya? Ya jelas gak ada bayangan. Saya yang nangis melulu saat itu jelas bagai memakai kacamata kuda. Hanya bisa melihat ke depan, pada satu obyek, sementara obyek itu semakin gak jelas adanya.

Bulan demi bulan berlalu. Lalu semuanya terjadi begitu saja. Pertanyaan basa-basi tentang keberadaan alat gak penting via friendster, cerita lumayan panjang lewat email, naik kelas ke SMS  dan akhirnya ketemu. I still felt nothing. Masih berpikir he’s not my type. Sampai pada suatu titik di mana teman saya ingin mengenalkan saya pada teman SMAnya yang sedang mencari calon istri. Saya gak berani langsung bilang iya pada teman saya, karena entah bagaimana ceritanya kok saya mendapati si Pak Alwani ini dalam pikiran saya. Saya berpikir kok risky sekali mencoba berkenalan dengan seseorang yang potentially serius sementara saya sedang sering berkomunikasi dengan dirinya. Klo nanti hati saya terbelah bagaimana? Saya kaget juga dengan hal ini, kok tiba-tiba ada hubungan antara dia dengan hati saya. Sejak kapan?

Dan saya ingin semuanya jelas. Saya bertanya padanya, apa yang dia pikirkan tentang saya. Apakah dalam rancangan masa depannya melibatkan saya didalamnya. Jawabannya, iya. Dia sering memikirkan saya. Ingin menikahi saya, nanti. Dia menggarisbawahi kata NANTI itu dengan jelas. Ada satu dan banyak hal yang membuatnya tidak bisa cepat menikah. Hari itu 19 Desember 2007. But still, saya masih bertanya-tanya. Saya tidak tahu apakah cinta itu sudah ada. Saya hanya tahu kalo dia orang yang baik, dan saya percaya padanya.

Tujuh bulan kemudian, 29 Juli 2008, kami menikah. Alhamdulillah ternyata NANTI yang disampaikannya pada saya itu tidak terlalu lama. And there we were. Belajar saling memahami, belajar mengerti. For sure, cinta itu telah ada. Dan ternyata rasanya amat berbeda dari cinta yang pernah menjatuhkan saya ke lubang hitamnya. And it grew every single day. Sampai hari ini. Dan semoga sampai akhir nanti.

Hari ini, saya bersyukur memilikinya, Sophie dan semuanya. 2 tahun ini kami belajar banyak. Kami sudah punya bekal 2 tahun ini, maka saya PD IA akan berhasil menjalani tahun-tahun berikutnya. Jarak bukan sesuatu yang mudah, tapi kami bisa berdamai dengannya.

PS: Happy 2nd anniversary, Sayang. Semoga Allah memudahkan semuanya. I love you

babysophie, writingcontest

Cerita Diaper Sophie

Sebagai anak TPA sejak umur 2 bulan, popok Sophie merupakan salah satu isu yang cukup penting bagi saya. Popok yang nyaman dan tidak bocor, -sehingga memudahkan pengasuhnya- adalah sesuatu yang saya cari. Awalnya saya menggunakan celana plastik (merk Lus** Bun**) untuk menahan kebocoran pipis. Tidak nyaman, tentu saja. Bayangkan saja, celana pop, penyerap ompol, baru celana plastik di bagian luarnya. Tapi ya bagaimana lagi. Saya sudah mendengar tentang cloth diaper saat itu, yang semuanya masih produk impor dengan harga yang terlalu mahal untuk ukuran kantong saya. Itulah kenapa saya memilih celana plastik. Anti bocor dan murah, walaupun kurang nyaman dan harus selalu ganti celana dan penyerap ompol setiap kali pipis.

Kemudian, saya mendengar ada clodi produksi lokal. Setelah baca review sana-sini, saya memutuskan untuk mencoba 2 merk, Zigie Zag dan Enphilia, dua-duanya adalah one size pocket diaper. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada si ZZ ini. Motifnya lucu-lucu! Tapi, kecintaan saya mulai berkurang setelah saya memakaikannya pada Sophie. Saya mencoba baby terry sebagai bahan insertnya. Hasilnya, bocor setelah pipis pertama. Aaah, apa bedanya dengan celana pop dan celana plastiknya kalau begitu? Mutung, saya bereksperimen dengan mengalihfungsikan pocket ZZ menjadi diaper cover. Saya menggunakan alas ompol (merk Rena**) diatasnya. Voila, saya puas dengan performa ZZ dengan metode ini, dan masih menggunakannya sampai sekarang. Sebagai catatan, cutting ZZ ini kecil, jadi pas untuk Sophie yang setelah 6 bulan semakin langsing saja. Jadi Mom, klo bayi anda ndut atau berpaha besar, sebaiknya memilih merk lain.

Kalau Enphilia, saya berani bilang pocket diaper ini worth it for the money. Clodi paling murah yang pernah saya tahu, tapi kualitasnya bagus banget. Performanya mengikuti insertnya. Kalau baby terry ya paling 2 kali pipis (2-3 jam) tembus. Microfiber terry lebih lama (4-5 jam). Paling OK ya dikombinasikan sama insert bamboo. Rangkap 2 insert bisa tahan semalaman! Cuttingnya juga besar, jadi bisa digunakan sampai bayi kita 2 tahun, juga untuk bayi-bayi montok berpaha besar tentunya. Kelemahan dari Enphilia ada di warnanya. Hanya tersedia warna polos, sama sekali tidak memenuhi selera centil saya. Berita bagusnya, mereka punya edisi spesial seperti schocking tosca dan green neon yang lumayan lah. Kekurangan lain dari Enphilia ini adalah lamaaaa keringnya. Dalam cuaca Purwokerto yang mendung hujan melulu seperti saat ini, 3 hari baru kering. Pengeringan dengan mesin cuci mungkin bisa dipertimbangkan, mengingat Enphilia tidak memiliki lapisan PUL pada outternya.

Ya, begitulah review saya tentang ZZ dan Enphilia. Spesial ditulis untuk Anti, juragan Tokobundahafidh yang sedang menggelar kontes menulis revien diaper

babysophie

Minum, Minum, Minum

Saya ingin bercerita tentang alat minum Sophie. Diawal-awal Sophie minum dengan alat bantu, usia 1 bulan, saya menggunakan sendok. Budhe yang menjaga Sophie bilang klo Sophie mau, walaupun pakai acara tidak sabar. Pas saya pulang gasik, ternyata tidak sabar itu adalah tangisan yang menyayat hati. Saya tidak tahan mendengarnya, akhirnya menyerah dan membuka kotak Pigeon Mag-mag step 1. Saya mengganti nipple-nya dengan pigeon peristaltic wide neck ukuran S, karena bawaan nipple bawaan yang ukuran Y terlalu deras aliran susunya.

Menjelang 5 bulan, saya menukar nipple-nya dengan yang ukuran Y. Enam bulan lewat, saya menggunakan nipple ukuran M, dari varian yang sama. Nah, di usia 7 bulan saya mengenalkan Pigeon Mag-mag step 2. Sophie mau, sehingga di umur 7,5 bulan Mag-mag step 1 pensiun. Dan ternyata, Sophie cepet bosan dengan Mag-mag step 2. Di umur 8,5 bulan Sophie sudah tidak mau lagi menggunakannya. Sampai sekarang, saya belum mengenalkan Mag-mag step 3.

Pasca Mag-mag step 2, saya membeli Mag-mag all in one. Sekarang, Sophie minum dengan menggunakan cangkir mag-mag dengan adaptor kuning di bagian mulutnya. Kadang pakai sendok juga. Kira-kira perlu tidak ya mengenalkan penggunaan straw ke Sophie?

babysophie, milestone, tpa

Bulan Kesembilan Sophie

Tanggal 4 kemarin Sophie genap berusia 9 bulan. Sudah besar. Sudah memulai babak mingkem melulu pas disuapi. Juga mulai menunjukkan sisi drama queen dalam dirinya. Ah, you really grow my dear Sophie….

Sudah 2 mingguan ini Sophie mingkem melulu kalo disuapi. Terutama, klo saya yang menyuapi. Walaupun sudah ganti menu, sudah sambil gendongan dan mengejar kucing, sudah ganti mangkok, tetep saja. Hari minggu yang notabene kami cuma berdua saja sharian, praktis Sophie makannya sedikit sekali. Hari minggu lalu, Sophie cuma mau sarapan tim roti 3 suapan disambung bubur jagung 3 suapan juga, makan siang rapet mingkemnya liat sendok tapi mau minum jus pear, lalu sore mau disuap beberapa cowelan roti tawar. Tapi, so far saya masih belum terlalu khawatir dengan ilmu baru dalam bidang kunyah mengunyah ini. Sifatnya masih on off. Klo minggu ogah makan ya Senin lumayan lah mau makan. Klo di TPA sama gurunya juga lumayan mau. Dan skarang, andalan saya Mb Nur. Klo Sophie sibuk tolah-toleh sana-sini sampai lupa membuka mulutnya pas sarapan, saya akan mengoper Sophie ke Mb Nur. Gara-gara hal ini, Sophie sekarang ogah duduk pas makan. Mintanya gendong. Dan makan sambil mengejar kucing sepanjang gang. Huhuhuuu, PR banget ini untuk kembali membawa Sophie ke cara makan yang benar.

Semakin kesini semakin terlihat klo selera makan Sophie lebih mirip saya dibanding Papanya. Lebih suka ayam dari pada sapi. Lebih lahap makan wortel daripada kangkung. Dan, Sophie loves spices! Bawang bombai, daun bawang, daun salam dan seledri wajib ada dalam setiap buburnya. Klo sop, Sophie suka sedikit merica dan daun jeruk. Ala pepes, Sophie senang aroma laos dan sereh. Kemangi belum mencoba. Kata suami, kok mirip orang Thailand to suka rempah-rempah kaya bgitu. *Well, kan Sophie made in Thai Pa, hahahaha*. Bulan ini agenda perkenalan makanan barunya adalah ikan air tawar. Tadi saya sudah beli gurameh, tinggal nanti sore ditim dan diliat gimana responnya.

Sudah 5 hari ini Sophie nempel banget sama saya. Susah banget ikut orang lain. Begitu saya mendudukkannya di kasur TPA dan Bu Guru mau mengambil alih, langsung deh tangannya memegang erat kerudung saya. Memeluk saya, menepis tangan gurunya. Klo dipaksa digendong Bu Guru, langsung mewek deh. Mana nangisnya menyayat hati bgitu. So far cuma Bu Endah yang sukses bisa mengambil alih Sophie dari gendongan saya tanpa adegan nangis bombai. Tapi oh tapi, begitu saya gak kelihatan lagi, Sophie lupa deh sama emaknya. Mulai biasa lagi, bermain dan ktawa-tawa lagi. Ckckck, drama quenn banget deh.

Tentang merangkak, sepertinya Sophie mengikuti Papanya. Sampai sekarang gak ada sign sama sekali klo Sophie mau merangkak. Sekarang sukanya malah diberdirikan sambil berpegangan. Duduknya sudah kokoh. Suka sekali tepuk tangan. Melempar barang. Dan tunjuk-tunjuk. Tetapi klo menunjuk jari telunjuknya belum keluar ya, masih menggunakan kepalan atau seluruh jarinya.

Untuk masalah minum, akhirnya saya memensiunkan dini sippy cup Sophie. Sophie sudah ogah minum pakai sippy cup. Botol apa lagi. Sekarang minum air putih langsung dari cangkir, susu disendoki. Di satu sisi saya bahagia, Sophie sudah bisa lepas dari botol dengan mudah. Tapi di sisi lain saya khawatir. Konsumsi susunya seret banget sekarang ini. Paling di TPA maksimal menghabiskan 200 mL. Itu sudah juara banget mau 2 botol. Syukurnya, untuk minum langsung dari dispensernya Sophie masih kuat. Makanya sekarang siang saya nyusul Sophie ke TPA, agar Sophie bisa minum langsung. Malam sih jangan ditanya. Nyusu melulu, bangun tiap 2 jam.

Tidurnya masih tetap sepertibulan kemarin. Well, Mama loves you Dear, a lot…