babysophie, sehat, vaksinasi

Cerita Imunisasi Sophie

Sudah lama banget pengen nulis tentang imunisasi Sophie, tapi kok gak jadi melulu. Hari ini saya bingung mau melakukan apa, *sindrom mau kabur, nganggur-nganggur gak jelas*, maka saya bulatkan niat untuk menulisnya.

Sesuai kesepakatan dengan suami, kami berencana memberikan imunisasi wajib dan imunisasi yang dianjurkan, kecuali IPD dan flu, kepada Sophie. Kami percaya, imunisasi adalah salah satu bentuk cinta dan tanggungjawab orang tua kepada anaknya. Suami menggarisbawahi klo beliau memiliki imunitas yang kurang baik, maka kami berjaga-jaga kalau-kalau hal itu diturunkan ke Sophie. Apalagi, kami hidup di Dukuhwaluh yang angka kejadian TBC pada anaknya tinggi. ASI dan imunisasi, kami percaya pada kekuatan mereka sepenuhnya.

Untuk pelaksanaannya, Sophie lebih banyak diimunisasi oleh Bidan di RSIA tempat dia dilahirkan. Kadang ke DSA, pas ada hal lain yang ingin saya diskusikan dengan DSAnya atau RS Bunda Arif tidak punya vaksinnya. Kenapa Bidan? Karena bidan punya kompetensi untuk menyuntikkan vaksin yang gak ribet-ribet amat itu. Dan ngirit, tentu saja. Saya memilih imunisasi di RS, bukan karena saya tidak percaya Bidan praktek. Saya tidak percaya pada kualitas vaksin yang mereka miliki. PLN kan beberapa waktu yang lalu *dan sekarangpun masih kadang-kadang* rajin bener memadamkan lampu. Saya tahu, setiap vaksin punya toleransi untuk berada pada suhu ruang dalam waktu tertentu, tapi klo kejadiannya berulang kan ya mengkhawatirkan. Makanya saya cari aman dengan memilih imunisasi di RS yang jelas-jelas punya genset.

Hepatitis B1 diberikan sebelum kami pulang dari RS. Untuk polio, diberikan pada umur 1 minggu, sekalian saya kontrol jahitan. Hepatitis B2 dan BCG juga diberikan tepat waktu, saat Sophie umur 1 bulan. Gak ada cerita seru dari imunisasi-imunisasi tersebut.

Nah, yang agak seru itu adalah imunisasi di bulan kedua Sophie. DTP1, HIB1 dan polio2 di umur 2 bulan. Sejak awal kami ingin mengambil DTaP karena faktor gak mau ambil resiko panas dan wejangan suami yang khawatir anaknya mewarisi gen gampang panas. Walopun katanya imun yang terbentuk gak sebanyak vaksin DTwP, saya percaya Sophie tetap terlindungi, bismillah. Selama di Purwokerto saya belum menemukan DSA yang mau memberikan imunisasi secara simultan, apalagi Bidan. Baiklah, saya memilih vaksin Pediacel. Saya termasuk orang yang lebih suka vaksin kombo daripada bolak-balik ke rumah sakit soalnya. Ternyata, Sophie panas setelah imunisasi. Mana saya gak punya antipiretik dirumah. Bingung jadinya. Malam-malam anak demam tinggi (mencapai 39,5 DC), hujan deras dan hanya berduaan di rumah. Akhirnya saya menelpon teman, minta dibelikan paracetamol sambil menyusui Sophie sesering mungkin. Alhamdulillah, pagi harinya panas Sophie reda. Lesson learnt, selalu sedia parasetamol dirumah, jangan kePDan kaya saya.

Untuk imunisasi DTP2, HIB2 dan polio3 sebenarnya saya ingin beralih ke Infanrix HIB. Setelah membaca sana sini, saya ingin memberikan vaksin polio oral, bukan injeksi. Tapi ternyata Bunda Arif tidak punya vaksin tersebut. Ah, ceroboh sekali saya ini ya. Saya tidak mengecek ketersediaan vaksin dulu sebelum berangkat ke RS. Jadi, untuk bulan ke empat tetep pakai Pediacel. Alhamdulillah, Sophie tidak demam.

Nah, imunisasi Sophie di umur 6 bulan adalah yang paling seru. Belajar dari pengalaman di bulan ke empat, saya menelpon beberapa RS dan ternyata yang punya Infanrix HIB adalah Pak Basalamah, DSA Sophie yang sebenarnya juga praktek di Bunda Arif. Pak Bas ini praktek di Apotek Omnia Farma bersama beberapa dokter spesialis lain. Di Hari H, ternyata Pak Bas ada acara di luar kota sehingga digantikan oleh DSA pengganti. Penggantinya adalah Pak Umam, DSA muda yang sehari-hari praktek di Jogja tapi saya tidak tau dimana tepatnya. Ternyata Pak Umam ini orangnya sangat kooperatif. Enak banget diajak diskusi. Iseng, saya bertanya apakah bisa minta imunisasi simultan, Infanrix, OPV dan Hepatitis B3. Surprisingly, beliau langsung mengiyakan tanpa banyak komentar. Happy. Pak Umam memberikan kedua injeksi tersebut secara simultan, literally. Jadi beliau menginstruksikan perawat untuk menginjeksikan Infanrix di paha kanan Sophie, beliau sendiri menginjeksikan Hepatitis B di paha kiri secara bersamaan untuk meminimalisir kaget dan rasa sakit pada Sophie. Serunya, vaksin siap diinjeksikan, tiba-tiba mati lampu. Whew, untungnya Sophie tidak takut dan setelah disuntikpun tidak heboh nangisnya. Nah, bagian selanjutnya tidak kalah seru. Ternyata uang yang saya bawa kurang! Huhuhu, saya tidak menghitung jumlah uang di dompet sebelum minta simultan. Dan saya tidak memperhitungkan bahwa merk vaksin di Bunda Arif sama di Omnia Farma berbeda. Biasanya kan Hepatitis B sama Bidan cukup 25 ribu saja. Lah ini kok sampe 125 ribu, duuh. Alhamdulillah saya terselamatkan. Melipir ke Apotek, saya melihat beberapa mahasiswa saya lagi magang di sana. It was done, saya meminjam uang pada salah satu dari mereka. Dan, lagi-lagi Sophie tidak demam. Alhamdulillah.

Untuk campak di umur 9 bulan, kebetulan Sophie kena batpil. Sumeng. Bidan Sophie tidak mau memberikan imunisasi campak saat bayi gak fit. Saya telpon DSA Sophie, sama, beliau juga menyuruh saya datang kalo Sophie sudah gak batpil lagi. Saya menelpon 2 DSA lain dan mendapatkan jawaban yang sama. Akhirnya, imunisasi campak Sophie mundur seminggu. Di Bunda Arif dengan Bidan.

Nah, untuk jadwal selanjutnya yang paling dekat kan MMR sama Varicela. Semoga saya nanti nemu RS di Surabaya yang mau simultan ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s