ume

Dren, Obrolan Menjelang Tidur

Semalam untuk pertama kalinya sejak Papa balik ke Bangkok kami berhasil chat. Perbedaan waktu sholat yang menjadi penyebab tidak bisa ketemunya kami di malam hari. Biasanya saat suami selesai taraweh saya sudah tidur nyenyak. Ya iyalah, jam 10 an baru sampai apartemen. Ternyata semalam Papa pulang gasik karena gak ikut sholat taraweh berjamaah di masjid KBRI. He went to Cinema. Ck ck ck.

Jadilah kami membicarakan film yang baru saja ditonton Papa. Splice. Saya sempat mengintip di imdb, temanya lumayan menarik bagi saya. Otak-atik DNA yang kebablasan dan akibatnya. Saya pun menanyakan pendapat Papa. Kata beliau, lebay. These are what that lebay for: dua ilmuwan menciptakan hibrida manusia-binatang, membesarkannya dengan ‘mudah’, ilmuwan pria meniduri Dren si hibrida yang cepet banget tumbuhnya, lalu Dren berganti jenis kelamin dan memperkosa ilmuwan wanita, trus Dren dibunuh oleh keduanya.

Saya yang nyinyir inipun gakĀ  tahan untuk gak komentar. DNA dari binatang apa saja yang digabungkan untuk mendapatkan Dren. Papa berpendapat ayam, simply karena kaki Dren mirip ayam. Klo kata saya sih mirip dinosaurus hahaha… Saya bilang pasti ada DNA siput yang menyumbangkan sifat hermaprodit Dren. Ajaibnya, suami dan teman-temannya berpikir bahwa perubahan jenis kelamin tersebut akibat terjadinya sexual intercourse sama ilmuwan pria, whew… Trus, burung karena kata Papa sempat tumbuh sayapnya. Kalajengking juga ya, karena punya sengat beracun yang sakti mandraguna itu. Dan entah kenapa saya berpikir ada gen babi ato kuda di diri Dren, hahaha…

Ngomong-ngomong, saya kurang suka dengan endingnya. Terlalu lazim. Yang menabur benih menuai badai. Dren dibunuh penciptanya sebagai bentuk tanggungjawab. Si ilmuwan pria mati, yang wanita hamil. Biasa. Imajinasi saya mengatakan akan lebih berasa bila endingnya Dren mati by nature saja. Kan diceritakan perkembangannya cepat sekali, so bisa diterima nalar klo matinya juga cepat. DNAnya gak mau direplikasi lagi, bgitu. Ending model itu juga bisa menunjukkan sebatas mana kuasa manusia, any way.

Ah, pengen nonton juga. Kapan ya ketemu DVDnya?

PS: Saya salah konsep tentang hermaprodit, ternyata. Terlalu erat memegang hapalan sejak SMA klo contoh hewan hermaprodit itu ya siput. Padahal, hermaprodit itu ada 2, sekuensial dan simultan. Siput adalah contoh yang simultan, yang mana punya 2 set organ kelamin pada waktu yang bersamaan. Klo yang terjadi pada Dren itu masuknya ke yang sekuensial, yang awalnya cewek terus berubah jadi cowok atau sebaliknya. Klo pada hewan, aktualnya terjadi pada kerang. Baca sendiri gih di sini.

Advertisements
food, pwtajah

Puthut aka Bunga Bawang

Kemarin pas belanja saya melipir ke bagian sayur dan buah untuk membeli beberapa item, special for buying Sophie’s menu. Klo untuk saya mah sepenuhnya percaya sama Mbak Nur, saya tahunya tinggal makan saja, hehehe…. Nah, pas pilih memilih brokoli saya melihat sayuran yang sudah lamaaa banget tidak saya lihat. Terakhir lihat pas masih sering di rumah dulu, di Karanganyar. Di Purwokerto sama sekali belum pernah lihat. Apa sih yang saya lihat? Ya itu, yang gambarnya saya pampangkan di muka tulisan ini.

Saya mengenalnya dengan nama puthut. Keren ya, kaya nama budayawan kondang saja, hahaha. Klo bahasa Indonesianya sepertinya bunga bawang. Ibu saya menggunakannya sebagai campuran bothok. Bothok versi ibu saya berisikan teri, parutan kelapa, mlanding alias lamtoro, daun so dan si puthut ini dengan bumbu spesial tempe semangit. Enaaak pokoknya. *Sedihnya, di Purwokerto ini tidak ada yang kenal bothok. Pernah nemu di Kampung Semarang dekat Rajawali, tapi beda jauh sama versi ibu saya*

Nah, kemarin toko tempat saya belanja melabeli puthut ini dengan nama ESFARIGUS. Heh? Saya sempat bengong mencernanya. Ini apanya asparagus ya? Penasaran saya googling. Hasilnya, Oom Google tidak menemukan satu dokumen pun yang memuat tentang esfarigus. Jadi mikir, nama daerah Banyumas untuk bunga bawang esfiragus ya? Saya tanya beberapa teman yang asli Banyumas, ternyata mereka juga sama gak mengenal kata esfarigus ini. Jadi nama esfarigus ini muncul dari mana dong?

PS: Hasil googling, ada yang menamakan bunga bawang ini dengan chive dalam bahasa Inggris. Ambigu dengan kucai, mereka berbagi nama yang sama tetapi jelas fisiknya berbeda. Trus, sayuran ini enaknya ditumis. BIasanya dengan tahu atau udang. Bunga bawang ini membawa karakter rasa manis bagi tumisan. Maybe I’ll buy some and make a delicious tumisan then. Semoga gak malas yaaa.