ngalorngidul, surabaya

Emak Rice Cooker

Saya mungkin sudah gak bisa masak nasi memakai kompor ya. Yaa, yang pakai panci dan dandang itu lho. Sudah lama banget gak bersentuhan sama barang-barang itu. Thanks to technology. Rice cooker adalahpenyelamat hidup saya.

Semakin ke sini saya semakin tergantung sama rice cooker. Bukan cuma nasi, sayur pun saya masak di rice cooker. Induk semang saya tidak mengijinkan penggunaan tabung gas kecil di kos. Takut meledak katanya. Lah, saya merasa membeli tabung gas 12 kg kok gak worth it klo penggunaannya hanya untuk memasak makanan Sophie. Akhirnya saya mengakrabkan diri dengan rice cooker, lagi.

Aneka sop, OK. kukus-kukus, bisa juga. Yang masih pengen saya coba adalah tumis-tumis. Tapi dari kemaren kok cari unsalted butter belom nemu juga. Haiiiisssh, nulis apa to saya ini. Seharusnya ngerjain tugas kok malah ngoceh gak tentu arah bgini.

breastfeeding, sophiesibatita

My Breastfeeding Story: from Surplus to Defisit

Sejak lama saya ingin merangkum cerita kami, saya dan Sophie, dalam hal menyusui. Dan inilah cerita yang sudah sejak lama mengendap di otak saya.

Sejak awal kehamilan, menyusui (breastfeeding) adalah satu-satunya opsi dalam kepala saya. Ya bagaimana tidak, lingkungan terdekat saya semuanya menyusui bayinya. Ibu saya menyusui kakak, saya dan adik saya. Bahkan untuk saya dan adik saya sampai lebih dari dua tahun, sampai kami bosan kata beliau. Menyusui ya, bukan eksklusif. Namanya juga orang desa di masa 20an tahun yang lalu. Bayi dua bulan juga sudah ngincipin pisang, hahaha… Terus Sita, sahabat saya, juga menyusui Mas Banyu secara eksklusif. Saya terus terngiang percakapan kami waktu itu, “Menyusui itu irit, Tanti. Modalnya cuma kulkas, yang harganya sama dengan harga susu formula untuk 3 bulan”. Hahaha, saya si emak pelitpun merekamnya dengan sempurna.

Di masa kehamilan saya punya terlalu banyak waktu menganggur. Maka browsing menjadi aktivitas utama saya waktu itu. Saya menerima banyak sekali informasi terkait dengan menyusui, seperti tentang ASIX, IMD, dan manajemen ASI untuk ibu bekerja. Saya mencerna hal-hal tersebut. Alhamdulillah saya punya latar belakang Ilmu Farmasi, jadi saya bisa lebih mudah memahami informasi-informasi tersebut. Sayapun mulai menanamkan dalam pikiran saya, bahwa saya ingin semaksimal mungkin memberikan ASI buat bayi saya nantinya. Dan saya pun sharing hal ini pada suami. Ya, kami berdua sepakat dalam hal ini. Terus, saya juga memastikan bahwa RS tempat saya melahirkan mendukung IMD dan rooming in. Alhamdulillah saya mendapatkan RS yang sesuai dengan harapan saya.

Saat menjelang melahirkan, saya dan suami kembali menegaskan pada bidan yang membantu persalinan kami bahwa kami ingin IMD, ASIX dan rooming in. Alhamdulillah kami dimudahkan, Bidan Meinar memberi kesempatan ber IMD, memastikan bahwa Sophie tidak diberi susu formula selama belum ketemu saya, dan mengirimkan Sophie ke kamar setelah 2 jam. Selama dua hari di RS pun kami menerima banyak bantuan. Saat produksi ASI saya masih minim dan Sophie kehausan di hari kedua, Bidan jaga menyarankan agar saya banyak-banyak minum air. Beliau juga mengajari saya posisi menyusui yang benar. Juga hadiah spuit injeksi untuk menarik inverted nipple saya keluar agar Sophie lebih mudah menyusui.

Pulang ke rumah, alhamdulillah saya tidak mengalami banyak kendala yang berarti. Produksi ASI saya alhamdulillah banyak. Masalah yang kami hadapi adalah perlekatan yang tidak sempurna. Sophie kecil mulutnya imut sekali, sudah gitu dia tidak suka membukanya lebar-lebar. Setiap kali mau menyusui saya selalu memberitahu Sophie, -ayo, buka mulutnya yg lebar Nak. Aaaa. Lebih lebar lagi, Aaaaaa…- Suami suka tertawa-tawa melihat saya mangap-mangap mencontohkan buka mulut yang lebar pada Sophie. Karena perlekatannya gak bener, akhirnya nipple saya luka. Pecah-pecah perih. Setiap kali menyusui saya biasanya minta suami ada di dekat saya. Buat dicengkeram lengannya, hahaha.. Lumayan buat mengalihkan perih. Lumayan lah, nipple crack ini saya alami sampai minggu kelima. Nipple crack ini akhirnya sembuh dengan sendirinya, tanpa saya obati dengan krim tertentu ataupun disambung nipple shield. Mungkin Sophie semakin pintar membuka mulut lebar-lebar apa ya.

Minggu kelima saya mulai masuk kerja. Sophie saya tinggal selama 3 jam, 2 kali sehari. Saya mulai belajar memerah menggunakan tangan. Hasilnya yah, dari 5 mL, 10 mL, naik terus sampai akhirnya bisa 50 mL sekali perah. Tapi saya tidak teratur memerah, paling sehari sekali sehingga bisa dikatakan saya tidak punya stok. Sophie pada awal-awal minum ASIP pakai sendok. Sampai pada satu titik Sophie butuh minum yang lebih banyak. Saya kewalahan. Akhirnya saya memutuskan menggunakan pompa. Saya memilih pompa Pigeon Manual. Saya cocok dengan pompa ini. Sekali pompa saya bisa mendapatkan bertahap mulai dari hanya 40 mL sampai rekornya 200 mL sekali perah.

Saya mulai rajin memompa sejak Sophie berumur 3 bulan, sehari setidaknya 3 kali. Makanya saya mulai punya stok ASIP beku di freezer. Kadang saya membawa pompa ke kampus, memompa di toilet lalu menitipkan hasil perahannya di kulkas laboratorium. Tapi saya lebih nyaman pulang, mompa di rumah. Jadi klo pas selo ya saya melipir barang 45 menitan, untuk memompa ASI di rumah dan say hello ke Sophie di TPA. *Aaah, Purwokerto is such a heaven. Semuanya dekat dengan cuaca yang bersahabat. Nyaman sekali di sana* Sophie minum ASIPnya gak banyak-banyak amat, makanya tabungan di freezer terus bertambah. Biasanya saya memberikan 1 botol ASIP beku dan sisanya adalah ASIP fresh perahan hari sebelumnya. Ya, biar stoknya gak kadaluarsa. Karena keterbatasan tempat dan tidak ada resipien yang mau menggunakan stok ASIP Sophie, saya sempat 2 kali membuangnya. Pas Sophie berumur 6 bulan saya membuang 1 L, terus pas 9 bulan saya membuang 1,6 L lagi.

Ketika Sophie berumur 11 bulan freezer kulkas 2 pintu saya masih dihuni oleh 30an botol ASIP. Makanya tidak terlintas sedikitpun dalam kepala saya bahwa kami akan kekurangan ASIP. Pindahan ke Surabaya menjadi masalah bagi kami. Sebagai warga Pwt yang nyaman dan dekat kemana-mana, saya tidak punya cooler bag dan semua printilannya. Untuk pindahan saya sengaja membeli cooler box berkapasitas 16 L. untuk mendinginkannya selama dalam perjalanan, saya membuat banyak es batu dari air mineral kemasan gelas. Kenapa tidak pakai blue ice? Lah, saya tidak bisa menemukannya di Pwt. Jadi ya saya memanfaatkan apa yang ada saja. Sehari sebelum pindahan, saya menelpon induk semang di Sby. Saya minta tolong agar beliau menghidupkan kulkas saya *some people say I am too much for buying refrigenator. Tapi memang butuh dan gak mungkin bawa dari Pwt kok, jadi ya memang harus beli kan?* Terus saya menata botol-botol ASIP tersebut di cooler box. Dari 30 sekian botol yang ada di freezer, saya hanya membawa 23 botol saja. Masalahnya ada di kadaluarsanya. Kulkas di Surabaya adalah kulkas 1 pintu, sedangkan yang di Pwt adalah yang 2 pintu. Beda alat beda masa kadaluarsanya. Makanya saya terpaksa meninggalkan ASIP yang sudah lebih dari 3 minggu umurnya. Total waktu ASIP didalam cooler box adalah 11 jam (saya packing jam 9 malam, trus dibongkar jam 8 pagi). Dari 23 botol tersebut, 5 botol yang letaknya paling atas mencair. OK, modal awal saya adalah 18 botol saja

Nah, masa krisis akhirnya datang juga. Minggu pertama kami di Sby stok ASIP tidak terpakai sama sekali. TPA Sophie belum buka jadi Sophie 24 jam sama saya. Otomatis saya juga tidak bisa mompa. Jadi stok saya ya cuma segitu-gitunya. Klo ikut protokol penyimpanan ASIP harusnya saya membuang sebagian besar stok saya, karena masa simpan ASIP di freezer lemari es 1 pintu kan hanya 2 minggu. Tapi karena stok terbatas dan saya tidak bisa memperbaharui stok, saya bismillah saja. Saya lihat fisiknya masih bagus, belum mencair sama sekali sejak dipindahkan jadi asumsi saya masih bisa diminum. Minggu kedua kami di Sby, Sophie defisit 6 botol. Kombinasi antara capek fisik dan pikiran serta buruknya manajemen waktu membuat produksi ASI saya drop. Minggu ketiga lebih gawat lagi. Sby yang panasnya ampun-ampunan ini membuat Sophie haus melulu. Defisit 12 botol. Duuh.. Dan saya memasuki minggu ke empat, tanpa stok ASIP sama sekali. Whoa, that’s the story. From surplus to defisit in only a glance.

Beruntung, Sophie sudah setahun saat itu. Saya mengenalkan susu UHT dan alhamdulillah Sophie langsung mau. Hari pertama kedua ketiga lancar. Hari keempat kok feses Sophie encer dan sehari sampai 5 kali. Saya mulai garuk-garuk kepala, apakah Sophie intoleran susu UHT? Untuk membuktikannya saya menunggu 4 hari menghentikan UHT. Saya memompa ASI berkali-kali dalam semalam dan hasilnya tetap mengenaskan. Sehari semalam cuma terkumpul 150 mL. Dalam rangka menghentikan sementara konsumsi UHT tersebut saya siang menyusul ke TPA untuk menyusui dan menjemput Sophie lebih awal. Capek tapi worth it. *tapi saya gak kuat klo harus selamanya seperti itu. Berat* Di hari ke lima Sophie tetap saja diare ringan seperti itu. Dan akhirnya sembuh di hari ke 9 bersamaan dengan hilangnya demam yang dideritanya, setelah gigi pertamanya nongol dengan sempurna. Kesimpulannya diare bukan karena UHT. Sayapun melanjutkan konsumsi UHT sampai sekarang.

Sekarang, Sophie hanya mendapatkan bekal ASIP 80-120 mL seharinya. Itu adalah hasil perahan hari sebelumnya. Pas istirahat siang saya melipir ke TPA untuk menyusui. Trus kekurangannya ditambal dengan UHT. Saya menggunakan merk Diamond yang 200 mL. Kadang habis, tapi lebih sering nyisa.

Whew, I wrote a lot! Short in short, rangkuman dari perjalanan 1 tahun 18 hari kami tentang menyusui adalah:

  • bekali diri dengan ilmu yang cukup. Masa hamil adalah masa yang ideal untuk belajar tentang menyusui dan segala tetek bengeknya
  • satukan visi dengan suami. Support dari suami sangat penting. Jelas itu.
  • cari RS untuk melahirkan yang bisa mengakomodir keinginan kita
  • siapkan perlengkapan perang sebaik mungkin.
  • bersiaplah untuk kondisi yang tidak diharapkan.

Ah, sudah lama saya tidak secerewet ini ya. Hahaha…

babysophie, milestone

Bulan Keduabelas Sophie

Banyak hal yang terjadi di sekitar umur setahun Sophie ini. It is such an acceleration class for both of us. Melelahkan dan menguras emosi. Harapan saya adalah kami bisa belajar dari babak ini.

Tiga minggu sebelum ulang tahunnya, kami pindah ke Surabaya. Seminggu sebelum kepindahan itu Sophie demam tinggi selama 5 hari, yang belakangan saya kenali sebagai roseola. Praktis pas pindahan itu badan Sophie masih ada rash-nya. Roseola? Ya jelas jadi malas makan. Mingkem melulu deh. Sejak hari itu Sophie sulit sekali makannya. Mulai dari gak mau makan sama sekali, kadang 5 suapan, kalo lagi beruntung ya mau sampai 10 suapan. Masa-masa adaptasi juga sama susahnya. Dan, akhirnya teething. Rekor, dalam 2 hari Sophie gak mau makan apapun. Cuma susu saja. Semua itu benar-benar membuat saya pusing. Saya memang berusaha semaksimal mungkin untuk gak memaksa Sophie makan, klo gak mau ya sudah. Saya menawarkan makanan lain yang juga ditolaknya. Tapi tetap saja saya khawatir dengan kecukupan gizinya. Apalagi badannya sekarang semakin lembek saja. Ah, saya gak pernah mengira bahwa urusan kunyah-mengunyah bisa serunyam ini. 

Masalah jalan, sampai sekarang Sophie belum juga berjalan. Klo ada yg bisa dipegang ya Sophie berpindah tempat dengan cara rambatan. Klo gak ada? Ya ngesot. Iya, sekarang Sophie mengoptimalkan penggunaan bokongnya, persis Papanya dulu. Sophie suka berdiri sambil bertepuk tangan di kasur. Suka juga minta tetah sana-sini, bermain mengelilingi motor dan sepeda yang diparkir. Yah, saya sama sekali tidak khawatir dalam hal ini. Semua ada waktunya dan setiap anak unik adanya. Somehow saya sempat sebel sama komentar seorang teman yang bilang Sophie pemalas karena ngesot dan gak mau merangkak. So judgemental. Dan juga teman lain yang dengan semangatnya memberikan daftar rinci kebisaan anaknya yang berumur 11 bulan dan menuntut saya untuk melakukan hal yg sama. *Dan tentunya dengan komentar gak penting, -eh, Sophie blom jalan ya?-, kok giginya baru tumbuh sekarang, kurang kalsium kali- dst* Aduh Mak, dia bukan Sophie dan Sophie bukan dia. Please skip that comparation things. Bikin capek saja.

Tentang emosi, aspek ini berkembang pesat di diri Sophie. Sekarang Sophie sudah tahu konsep ngambek, ngamuk. Sudah tahu bagaimana caranya memanipulasi Mamanya. Tangisannya ada macem-macem, saya seringkali gak bisa mengartikan tangisannya dan akibatnya Sophie tambah heboh nangisnya. Dan, sekarang saya kok merasa Sophie lebih pemurung dibanding dulu ya *bagian yang sedih buat saya, banget. Smoga masa adaptasi ini segera selesai dan membawa efek yang baik buat Sophie*. Sophie masih suka dada setiap kali berpisah dengan seseorang yang dia kenal, plus kiss bye yang entah dia pelajari dari mana. Saya gak pernah mengajarinya, tahu-tahu kok dia bisa ya.

Sophie juga sudah bisa memahami perintah sederhana. Misalnya saya bilang Mama minta kiss kiss dong, maka Sophie akan mencium pipi saya dengan mulut terbuka lebarnya. Ciumannya basah sekali, hahahaha… Terus, klo saya minta diambilkan barang-barang yang  sudah dikenalnya seperti bola, balon, jepit rambut, dsb dia akan memberikannya ke saya. Kalau moodnya sedang baik, ketika lagi menangispun Sophie bisa diminta diam sebentar. Klo lagi jelek ya diminta diam malah tambah heboh nangisnya. Hahaha…

Semoga saya lebih tenang dalam menghadapi masa-masa sulit buat kami ini. After all, Mama loves you a lot, dear. Semoga kepulangan Papa bulan depan akan membuat semuanya lebih nyaman buat kami semua.

babysophie, sophiesibatita, writingcontest

Sophie’s Smiling Day with Metal Mom

Halo Tante Anti,

Namaku Illiyina Sophia Hamad, tapi aku biasanya cukup dipanggil dengan nama Sophie saja. Foto ini diambil oleh Papa Alwani Hamad, waktu aku baru berusia 6 bulan lebih sedikit. Lihat saja tuh slaberku, aku lagi makan pisang disuapi Mama  Dwi Hartanti Hamad. Walaupun di foto ini aku gak keliatan lagi pakai popok, aku minta Mamaku ikut review cloth diaper saja. Bener deh Tante, aku ini lagi pake Metal Mom. Papaku gak setuju aku difoto topless pake popok saja. Katanya aurat anak kok diumbar-umbar. Semoga ini gak menyalahi ketentuan ya Tante.

OK, foto ini judulnya Sophie’s Smiling Day with Metal Mom.

Here is the review. Sesuai format dari Tante, aku sebutin lagi deh namaku. Aku Sophie, sekarang umurku 1tahun11hari. Aku minumnya ASI, dan sekarang lagi kenalan sama UHT. Aku sih pakai beberapa merk popok, tapi kali ini aku mau cerita tentang Metal Mom saja ya, kebetulan dulu Mamaku belinya di Tante.

Selain nenen Mama, aku suka sekali minum air putih. Jadi, pipisku juga banyak. Mama sekarang tidak pernah membedakan pemakaian popok untuk siang atau malam. Tapi, Mama pakai patokan jam. Ada kategori  3 jam dan 5 jam. Nah, Metal Mom dengan insert bamboo ini masuk kategori 5 jam, klo insertnya didobel Mama baru menggantinya setelah 8 jam.

Bicara kelebihan Metal Mom, kata Mama warnanya cantik. Mamaku pecinta orange, katanya warna Metal Mom orange itu shade orange-nya paling pas deh. Terus, slim. Kata Papa enak dilihat klo aku padukan sama dress atau daster. Terlihat rapi dan tidak bulky. Trus, enaak banget di kulitku. Itu lho, inner bamboonya juara banget. Stay dry, sehingga kulit bokongku aman dari yang namanya ruam. Nah, karena inner bamboo juga nih, kalau dicuci cepet banget kering. Apalagi kami sekarang tinggal di Surabaya yang kata Mama panasnya kayak di emperan neraka, 2 jam juga sudah siap dipakai lagi.

Tapi, gak ada hal yang sempurna di dunia ini ya Tante. Dari sekian merk popok yang pernah aku pakai, Metal Mom ini yang paling mudah bocor samping.Entah cuttingnya yang gak pas di pahaku atau kerutannya yang terlalu longgar atau entah karena apa. Mana aku kan sekarang sudah makan macem-macem, pipisku kau udah aduhai baunya. Makanya Mama disiplin, klo 5 jam ya harus ganti (siang) atau 8 jam kalau malam. Dari pada kasur dan bajuku ikutan pesing, kata Mama.

OK, begitu review-ku tentang pemakaian Metal Mom. Salam buat Kakak Hafidh dan Adik Dhifa ya….

PS: Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Photo Contest, lagi-lagi, di Toko Bunda Hafidh. Semoga kami menang lagi ya, saya pengeeeen dapat wet bag nya, buat wadah popok kotor Sophie selam di TPA. Tolong kalau waktunya sudah datang, teman-teman berkenan memberikan jempol buat Sophie ya 🙂

sehat, sophiesibatita, surabaya, tan

Sophie Sophie Sophie

 On her 6th day of GTM. Alhamdulillah tadi Bu Atik berhasil menyuapkan sedikit nasi tim belut. Semoga berlanjut.

On her 5th day of on off fever due to teething (combo, two teeth in only 4 day interval) and common cold. Demam karena gigi pertama masih kok disusul gigi kedua. Hadeeeh…..

On her 5th day of mild dhiarrhea. Masih bingung karena intoleransi UHT, pembuangan ingus lewat bawah atau efek bawaan teething? Alhamdulillah minum air putihnya jagoan. Thanks to straw. Mama love you. *Smooch*

Masih juga mewek di TPA. Mama mulai celingukan cari alternatif, walopun sepertinya gak mungkin. Oh, me and my ego.

Mama? On her hectic campus life as well. Having Statistic examination and Research Philosophy presentation on Thursday. Oh, also presenting a temporary research proposal in Research Method class by next week. Sementara, ini badan mulai demam gak karuan, tenggorokan sakit dan pundak pegal to the max.

I said that the more I talk about it, the less I do control. Tetep saja mengeluh ya. Hahahah