masalalu

the Reason Why

Beberapa hari terakhir ini saya dan suami lagi sering membicarakan tentang teman-teman kami. Yaaah, pembicaraan standar setelah bertemu dengan teman yang sudah cukup lama tidak saling bertemu lah. Siapa sekarang menikah dengan siapa, anaknya berapa, kerja dimana, bagaimana mereka dulunya, juga tentang siapa putus dari siapa. Tanpa sadar pembicaraan tersebut membawa saya pada suatu jawaban dari pertanyaan yang dulu pernah amat menganggu saya.

Why.

Iya, kenapa saya harus putus dari mantan pacar favorit saya. *ehm, halo Ayah Fathih, apa kabar di sana?*

Baru sekarang saya sadar bahwa manusia itu selalu berubah, for good reasons tentu saja. Terutama di usia-usia penuh amunisi seperti kami saat itu. Beberapa orang percepatan menuju ‘keadaan yang lebih baik’ nya amat cepat. Dan pada satu titik, perbedaan kecepatan perubahan itu membuat hubungan menjadi timpang. And that was how the good bye started.

Senang rasanya bisa mengira-ira apa yang sebenarnya terjadi dulu. Mengira-ira, iya lah. Karena sampai jaman kuda bertanduk sekalipun kayanya si mantan favorit saya itu gak akan pernah mau menjelaskannya. Dan saya sudah gak berminat mengetahuinya juga sih, hehehe…

Saya selalu percaya, bahwa apapun yang terjadi pada kita in the end akan kita sadari bahwa itulah yang terbaik untuk kita. Setelah ego kita landing dengan sempurna dan mengikhlaskan segalanya. Now on, I see it clearly that it might be not the best for me. Gak kebayang saja sih, si mantan favorit itu melakukan hal-hal sederhana tapi amat bermakna seperti yang dilakukan si Papa untuk saya. No, he is not that kind of man.

Life goes on, right. That was the past and I have learnt a lot through it. Saya sudah melepas segala tentang masa gelap itu dan semua beban tambahannya ketika saya memutuskan untuk menikah dulu. For the last time before I end this creepy posting, saya berterima kasih dan mendoakan si mantan favorit saya itu dengan meminjam kata-kata Mas Dan Wilson. Wherever you are, nearby or far, black, white, lemon or lime. I hope you last a long, long time, San *tsah, serasa masih dibaca saja ya sama dia, hahahaha*

PS: gak ada cemburu-cemburuan lho Papa, ini Papa yang memulainya kan? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s