jalanjalan

Trip to Bangkok, the Story

Here’s the summary of our trip to Bangkok 3 weeks ago.

Itinerary. There was no itinerary. Beneran. Jadi sampai beberapa hari menjelang keberangkatan saya belum tahu jadi berangkat atau tidak. Penyebabnya tidak lain adalah jadwal kuliah saya yang molor, yang seharusnya sudah libur tapi malah kekenyangan ketumpukan tugas seabrek-abrek. Ketika saya akhirnya memutuskan untuk berangkat *dengan meninggalkan kuliah spektroskopi yang sedang membahas elusidasi struktur yang menggabungkan segala macam spektrum dan akibatnya saya nyut-nyutan sendiri sampai sekarang gak ngerti-ngerti juga*, hanya ada 3 hal dalam kepala saya. Mengambil ijazah Papa, makan di moslem all you can eat syabu-yakiniku resto di Ramkamhaeng dan bernostalgia di Platinum. That’s all.

Where to stay? Ah, ini mah favorit saya. Amat nyaman, bersih, luas, fasilitas lengkap (sampai mesin cuci pun ada), dekat dengan stasiun BTS Saphan Taksin (dan tersedia shuttle boat ke sana), view-nya cantik banget (di pinggir Chao Praya, love it) dan gratis. Thanks to Hexa yang sudah berbaik hati menampung kami bertiga di apartemennya. Chatrium Residence pokoknya di luar ekspektasi saya. Bonus buat liburan mendadak kami. Saya terutama jatuh hati sama dapurnya. Kitchen set nya idaman saya banget. Efeknya saya jadi doyan beraktivitas di dapur, masak buat Sophie jadi amat menyenangkan. *Pa, bisa gak kita nyontek konsep dapurnya buat Rumah Liliput kita?* Sophie juga nyaman banget di sana. Setiap kali mau diajak keluar Sophie ogah-ogahan. Menggeleng-geleng. Klo ditanya maunya apa dia akan menunjuk TV, lalu rebahan di sofa. Hihihi…

Where to go? Hari pertama kami ke Mahidol University kampus Siriraj untuk mengambil ijazah Papa yang dibawa Anette, trus nongkrong di Kinokuniya Siam Paragon sambil menunggu salah satu penghuni Athen, apartemen Papa dulu di Phetchaburi road , pulang. Setelah Mb Lely pulang, kami menuju Athen, menyerahkan titipan dll. Habis itu kami pindah ke apartement Wahid, menyerahkan titipan dan mengambil buku. Hari kedua kami ke Platinum untuk belanja baju Sophie. Nasib emak-emak ya, diberi wewenang buat belanja sama suami kok ya kalapnya sama baju anak melulu. Saya beli sih buat saya sendiri, tapi dibandingkan yang saya beli buat Sophie ya gak signifikan lah. Malamnya kami ke Ramkamhaeng dong. Hari ketiga kami ke Madame Tussauds di Siam Discovery, sorenya terbirit-birit mengejar pesawat ke Bandara.

Transportation. Pas datang, Hexa menjemput kami di Bandara. *many thanks ya Hexa* Karena Chatrium dekat dengan stasiun BTS Saphan Taksin, kemarin kami kemana-mana ya naik BTS. Dari apartemen kami naik shuttle boat ke Sathorn Pier, trus ganti BTS. Sampai kota ya sudah, jalan kaki wong jaraknya gak terlalu jauh antara satu tujuan ke tujuan lain. Selain BTS kami menggunakan express boat pas ke Siriraj. Pulangnya kami naik taksi ke bandara. Pengennya sih sebenarnya naik Airport Rail Link, tapi apa daya kami kelamaan di Madame Tussauds sehingga gubrak-gabruk gak jelas mengejar pesawat akhirnya.

What to eat? Karena Papa kenal Bangkok, makan tidak menjadi masalah buat kami. Sudah tahu tempat makan yang halal. Mulai dari foodcourt nya bandara dan mall, kaki lima yang enak sampai yang jauhan di Ramkamhaeng. Pas dulu hamil Sophie saya suka sekali makan Yen Ta Fu, mie dengan kuah pink yang isinya macem-macem (pangsit, kulit ikan, baso ikan, kangkung dll). Nah, kemarin saya ya nyarinya itu. Niat banget sampai 2 hari berturut-turut makan siangnya itu. Yen Ta Fu ini bisa didapat di foodcourtnya Platinum dan MBK. Pas di Sirriraj sama Anette diajak makan di kaki lima, yang surprisingly enak dan varian makanannya banyak. Trus sempat makan di Phetchaburi road soi 7. Saya lupa nama tempat makannya, tapi saya masih ingat mereka punya Tom Yum dan tempura yang enak. Tempuranya fresh, dibuatkan langsung setelah kita pesan jadinya lamaaa siapnya. Jangan dipesan klo kita sudah kelaparan pokoknya. Terus klo sarapan kami beli di depan masjid di depan Chatrium. Menunya ya nasi ayam gitu, kadang ada variasi hati atau daging. Kalo lagi beruntung mereka menyediakan sup labu ayam. Untuk cemil-cemil saya suka beli penganan kecil dari labu parang yang entah apa namanya itu, yang biasanya banyak dijual orang di dekat tangga stasiun BTS ato bus stop. Satu hal yang saya suka dari Bangkok adalah kita bisa dengan mudah menemukan ubi rebus, kacang tanah rebus, kedelai rebus, dan aneka olahan labu parang.

Madame Tussauds yang errrrr…. Jadi, kami baru tahu kalau di Bangkok sudah dibuka gerai Madame Tussauds yang kesepuluh setelah kami di sana. Yaaaa, namanya juga tanpa perencanaan matang ya. Saya langsung merayu-rayu suami untuk mampir kesana, karena saya pengen ketemu sama Will Smith dan Om ganteng George Cloney. Untung suami setuju. Madame Tussauds ini ada di Siam Discovery, tepat diseberangnya MBK. Tiket masuknya 800 THB untuk pengunjung non Thai, dan ada diskon 15% bagi yang membawa kupon diskon yang ada di peta Bangkok yang tersedia di setiap stasiun BTS hingga akhir Februari ini. Sebelum masuk saya diperingatkan oleh Mbak Penjaga bahwa mungkin Sophie akan rewel didalam. Saya bertanya apakah gelap, jawab si mbak sih gak gelap tapi kemungkinan besar batita akan takut dengan suasananya. Belum-belum mood saya suduh turun selevel mendengar ini. Dan benar saja, baru juga masuk di area kerajaan si Genduk sudah mulai cranky. Mungkin dia gak nyaman karena ngrasa dilihatin wajah-wajah asing. Klo sudah rewel ya bawaannya minta nenen melulu. Jadilah saya sebentar-sebentar neneni, numpang di singgasana ratu Elizabeth, di bangkunya King Mongkut, di depan pianonya Beethoven, di kursi tempat Beckham sit up, lesehan di samping Jet Li, nggeloso di dekat gajah biru, ckckck… Tapi, tetep ada adegan Sophie happy kok. Yaitu pas saya mengerjakan tes IQnya Einstein dan ikut simulasi mengeksekusi tendangan pinalti ala Beckham. Tambahan lagi, batere kamera saya habis di area Scientist. Lengkap deh kesan gak seru saya di Madame Tussauds ini.

Oleh-oleh. Karena tidak melewati weekend, kami tidak bisa berbelanja di Chatuchak. Sebagai gantinya, kami membeli oleh-oleh di Pratunam, MBK dan Siam Paragon. Pratunam dan MBK untuk non makanan, sedangkan makanan kami membeli di Siam Paragon. Kenapa? Karena tampilan makanan yang di Siam Paragon kemasannya lebih cantik. Gak penting banget ya, hehehe…

Makanan Sophie. Saya membawa keju parut, bawang goreng dan makaroni ketika berangkat. Hari pertama disana, pagi-pagi kami pergi ke pasar dekat Robinson Sathorn. Saya beli stok bahan makanan Sophie untuk 3 hari. Yang saya suka dari pasar di Bangkok adalah sayurannya yang cantik dan lucu. Saya suka lihat aneka jenis terong, kabocha mini, tomat cherry dan aneka jamur yang terdisplay dengan cantik. Dan selama 3 hari di Bangkok, saya tidak pernah memasak nasi untuk Sophie. Hexa si Bujang Keren tidak punya rice cooker, dan saya sudah tidak bisa memasak nasi dengan panci lagi, hahaha… Jadilah 3 hari itu Sophie makan non nasi melulu. Kabocha, makaroni, mie, roti. Kalau pas kami makan, kalau Sophie mau ya kami suapkan nasi sedikit-sedikit. Alhamdulillah makannya tidak sulit. Mau-mau saja, walaupun ya gak sebanyak biasanya sih

Enaknya Traveling dengan Balita. Tentu saja ada. Karena bersama Sophie, kami tidak perlu mengantri di Imigrasi, langsung lewat di jalur khusus. Bersyukur banget lho, pas kami datang Svarnabhum lagi rame banget antriannya. Di Juanda juga lho. Mereka tidak punya antrian khusus bagi yang membawa anak, tapi kami malah dipersilahkan duduk ketika mereka mengecek dokumen perjalanan kami di dalam kantor. Senaaang. Di BTS, selalu ada yang memberikan kursinya untuk kami. Juga ketika mau masuk ke stasiun BTS, selalu ada petugas yang membukakan jalur khusus, sehingga saya atau suami tidak perlu lewat pintu yang biasanya.

Sophie di Pesawat. Pas berangkat sukses, take off dan landing lancar tanpa tangisan. Sophie mau saja disogok nenen. Sophie justru agak rewel karena tidak suka dengan tempat duduk yang serba sempit. Begitu lampu wajib sabuk pengaman dinyalakan, kami membiarkan Sophie turun dari kursi, berjalan-jalan dan entah kenapa kok selalu lari ke kabin belakang. Jadilah kami mengejar-ngejar bocah yang baru bisa jalan itu. Pas pulang, take off dan landing gagal semua. Sophie menangis dengan hebohnya. Dia marah-marah, tidak mau nenen sehingga telinganya sakit. Kami salah strategi sepertinya. Kami membuat Sophie kecapekan sesorean itu, tujuannya supaya Sophie anteng tidur di pesawat dan tidak mondar-mandir seperti pas berangkat. Ternyata, Sophie malah marah melulu.

Item Terpenting. Dalam traveling dengan batita, yang harus dibawa adalah gendongan yang nyaman, sepatu yang nyaman juga, dan makanan yang praktis buat si balita.

Advertisements

4 thoughts on “Trip to Bangkok, the Story”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s