Uncategorized

43 ke 48

Hari ini saya terlihat seperti emak-emak hamil muda. Bukan hanya karena perut dan b*k*ng saya yang semakin bulat, tapi juga karena efek baju gombrong yang saya pakai. Ceritanya, saya lagi kehabisan baju. Sejak Sophie sama Papanya di Purwokerto, saya nyambi jadi tukang ekspedisi antar kota antar propinsi. Baju kotor saya bawa pulang untuk dicuci di Purwokerto, baju yang bersih saya angkut ke Surabaya. Nah, akhir-akhir ini saya lupa membawa baju bersih ke Surabaya. Jadilah hari ini saya hanya menemukan baju gombrong sama celana kain putih *which is sudah terlalu lama ngejograk di rak terbawah lemari saya, tertimbun selimut sprei dll*. Dan, saya memakainya.

Yang saya rasakan pertama saat memakai kostum saya hari ini adalah tidak nyaman. Ya ampun, ini celana kok ya ketat sekali di bagian perut dan b*k*ngnya. Ya ya ya, saya memang sudah menggendut.

Ternyata ya, menyusui dan mengurus anak itu memang bisa memberikan efek kurus. Ketika saya masih bersama Sophie, berat saya 43 kg. Kini, hampir dua bulan setelahnya, ada tambahan 5 kg. Not good. Not good at all.

Pas saya masih bersama Sophie, saya terbiasa bekerja keras. Bangun pagi, menyiapkan Sophie untuk ke TPA, mengantarnya ke TPA, beraktivitas di kampus, menjemput Sophie dari TPA, menemaninya bermain, menidurkannya, mencuci dan masak setelah Sophie tidur… Jelas saya membakar banyak kalori. Makanya saya makannya juga banyak! Dan lambung saya melar karenanya.

Sekarang, saya praktis tidak melakukan apa-apa. Duduk-duduk dan tidur saja kerjaan saya. Kalori yang terbakar minimalis. Sementara lambung saya terlanjur melar. Porsi makan saya terlanjur besar. Dan kita semua tahu bagaimana cerita selanjutnya. Tubuh saya menabung kelebihan kalori dengan sangat efektif. Di perut. Dan pinggang. Dan b*k*ng. Dan pipi. I don’t like it.

Jadi, ayo kita cari cara untuk menghentikan timbunan lemak ini. Mengadaptasikan kapasitas lambung. Mengefektifkan pembakaran lemak.

Saya ingin berat saya 45-46 kg saja, agar saya bugar. Biar enak melakukan apapun. Dan suami happy, for having no competitor in the house 🙂

*kecup Papa*

Uncategorized

Terlalu Banyak

Masukan dalam progress report hari ini adalah pekerjaan saya terlalu banyak. Kata Bu Aty, kalau saya mau mengerjakan semua, mau selesai kapan? Mau lulus kapan? Kenapa gak sekalian ambil S3 kalau mau semuanya?

Whew…

Fighting. Ayo fight lebih hebat lagi, Mama!

Baiklah, mari kita diskusikan bersama Bu Erma dan Pak Gun. Dan Papa 🙂

Uncategorized

Moda Transportasi dan Sophie

Sejak masih dalam perut Sophie sudah sering ikut saya traveling. Mulai dari ke Jogja, jauhan sedikit mudik ke rumah mbah-mbah di Karanganyar dan Kendal, ke Makassar, sampai ke Bangkok untuk ketemu Papa. Setelah lahir, Sophie mulai saya ajak traveling menjelang usia 6 bulan, ke Jogja untuk reuni bersama teman-teman FA 99. Setelah itu beberapa kali mudik, terus ke Surabaya untuk daftar-daftar sekolah. Paling jauh ke Bangkok *lagi*

Menurut hasil pengamatan kami, Sophie paling nyaman kalau traveling dengan kereta api, anteng dia. Travel atau bis hanya nyaman untuk Sophie pas malam, dimana dia akan tidur sepanjang jalan. Kalau siang biasanya rewel, tidak mau duduk di kursinya, nenen terus. Kalau dengan pesawat kami belum bisa menyimpulkan, karena baru sekali dan ketika pulang dan pergi Sophie menunjukkan perilaku yang bertolak belakang. Kurva Sophie bergradien positif, setiap kali diajak traveling dia semakin pinter: berkurang rewelnya dan mulai bisa menikmati perjalanan.

Minggu kemarin kami ke Bali, Papa ada seminar di Udayana. Karena kami bertiga belum pernah pergi le Bali sebelumnya (!), maka diputuskan saya dan Sophie ikut kesana. Seperti biasa, keputusanuntuk ikut ini diambil di hari-hari menjelang keberangkatan karena saya sulit memilih ikut bersama Papa atau di Surabaya mengurus jamur-jamur saya. Rute final traveling kami kemarin adalah Purwokerto – Surabaya – Denpasar, karena *uhuks* saya ada jadwal mojok mesra bersama jamur dulu yang tidak bisa saya tinggalkan.

Kami berangkat ke Surabaya naik bis malam Selasa malam. Sophie nyaman dan tidur terus sepanjang perjalanan, dan baru bangun setelah kami sampai di Jombang. Ada adegan tidak enak sih, Sophie menggigit puting saya dan juga poop (!) saat tidur. Tapi over all perjalanan by bus lancar. Kami transit di Surabaya sehari, Papa dan Sophie bernostalgia sementara saya ngelab. Kamis pagi kami berangkat ke Denpasar naik kereta. Sophie juga lumayan nyaman, mau bermain dan ngemil melulu. Perjalanan lumayan lama, selama 7 jam. Selanjutnya kami menyeberang ke Gilimanuk naik fery selama 1 jam. Sophie yang sudah capek mulai cranky di ferry, tapi dia terlalu exited melihat orang-orang yang berenang untuk mengambil uang yang dilempar penumpang ke laut, sehingga dia lupa sama cranky-nya. Dari Gilimanuk kami naik bis Damri yang satu paket sama keretanya. Sophie yang kecapekan ketiduran di bis hingga Denpasar. Sophie gelisah hampir sepanjang tidurnya, membuat papa ngerasa bersalah telah merampas hak Sophie untuk tidur nyaman di rumah.

Tentang trip ke Bali IA akan saya jadikan postingan terpisah nanti 🙂

Pulangnya, kami menggunakan pesawat. Waktu flight yang masih pagi membuat Sophie amat kooperatif sepanjang perjalanan. Dia yang masih ngantuk mau saja disodori nenen pas take off, dan menjelang landing saya bercerita tentang telinganya yang sakit dulu saat naik pesawat ke Bangkok. Saya katakan padanya kalau telinganya tidak akan sakit kalau dia mau nenen. Dan berhasil, semua happy karena tidak ada yang cranky 🙂 Nah, perjalanan dari Jogja ke Purwokerto adalah hal yang lain. Perjalanan siang dengan bis bukanlah hal yang mudah buat Sophie. Cranky. Dan perjalanan 4,5 jam itu rasanya lamaaaa sekali.

Kesimpulannya adalah, Sophie sekarang mulai bisa menggunakan semua moda transportasi, asalkan:

  • Waktunya tepat. Kalau Sophie sih enaknya digotong pas malam ya, jadi dia bisa tidur. Kalau siang hari ya usahakan berangkat di sekitar waktu tidurnya, sehingga bisa langsung dineneni dan tidur.
  • Perjalanan siang hari sebaiknya tidak lebih dari 5 jam, agar Sophie tidak terlalu capek. Kalau mulai capek ya keluar cranky-nya 🙂
  • Tersedia banyak camilan. Dan camilan terbaik adalah buah. Sudah terbukti lho, bukan hanya Sophie yang doyan, papa mamanya juga suka 🙂

Jadi Papa, tahun depan kita ke mana? Labuan Bajo? Eh, belum ya, kita masih harus menabung lamaaaa biar bisa traveling ke sana 🙂