Uncategorized

Trip to Denpasar

Kami berangkat dari Purwokerto ke Surabaya naik bis malam. Rosalia Indah. Nyaman, Sophie bisa tidur sepanjang perjalanan dan cuma bangun satu kali untuk nagih nenen di sekitar Jombang. Sophie memang paling kooperatif diajak traveling malam, apalagi kalo ACnya dingin. Betah tidurnya. Lumayan ngirit kalo ngebis, untuk 11 jam perjalanan kami harus membayar Rp. 200k untuk saya dan Papa. Sophie masih gratis, tentu saja.

Setelah beristirahat sehari di Surabaya, kami melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi dengan kereta api Mutiara Timur. Saya membaca beberapa review bahwa walaupun sama kelas eksekutifnya, jangan pernah membandingkan Mutiara Timur sama Bima karena keduanya jauh berbeda. Karena kami sudah mengeset rendah ekspektasi kami pada kereta Mutiara Timur, kami cukup puas dengan apa yang kami dapatkan. Gerbong dan kursinya memang sudah tua, tetapi kamar mandinya tidak terlalu pesing dan selalu tersedia tissue. Lumayan lah. Kami  berangkat dari Stasiun Gubeng jam 08.00 pagi. Banyuwangi ternyata memiliki beberapa stasiun, kalau mau lanjut ke Denpasar maka turunnya di Stasiun Banyuwangi Baru, yang letaknya sudah ujung banget, dekat dengan pelabuhan Ketapang. Perjalanan Surabaya – Banyuwangi ini sendiri memakan waktu sekitar 7 jam.

Dari Stasiun, kami langsung naik minibis shuttle Damri yang akan membawa kami ke Denpasar. Minibus ini cukup nyaman kok. Sophie bisa tidur didalamnya walaupun kadang dia gelisah karena sempit. Jarak antar kursi dekat. Kebetulan kemarin kami tidak perlu mengantri di Ketapang, kami cuma menunggu sebentar di bis sebelum akhirnya masuk fery. Perjalanan dengan ferry dari awal naik sampai turun sekitar 1 jam. Dari pelabuhan Gilimanuk kami langsung naik bis yang sama sampai ke terminal Ubung, Denpasar. Kami sampai di Denpasar jam 22.00 WITA. Oh iya, tiket kereta api, bis dan fery itu satu paket ya. Bisa dibeli di stasiun kereta api dan agen-agennya. Harganya Rp 155k. Kalau mau lepasan ya bisa, kereta bayar sendiri, bus + ferry bayar sendiri. tapi harganya lebih mahal Rp 10k bila dibandingkan dengan paket.

Dari terminal kami selanjutnya menuju ke penginapan. Karena fokusnya pengen ngirit, saya mencarinya ya penginapan murah di sekitar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, tempat Papa mengikuti conference keesokan harinya. Pilihan saya adalah Hotel Viking, berdasarkan review yang mengatakan bahwa kondisinya baik. Kami memilih kamar dengan rate Rp 120k, ada kipas angin, TV sama kamar mandi di dalam. Tapiiii, bangunan dan segala isinya tua banget. Lumayan bersih sih, tapi kusam. Apalagi kamar mandinya. Kayanya sudah tua banget, saya belum pernah melihat model kloset yang seperti itu saking tuanya. Satu hal yang membuat kami tidak betah disana adalah mereka tidak bisa menyediakan air panas. Dan Sophie tidak mau dong mandi di kamar mandi yang sempit dan kusam, pakai air dingin lagi. Jadilah acara mandinya penuh tangisan, hahaha…

Setelah di sana semalam dan kami tidak nyaman, hari kedua kami pindah ke Hotel Ratu. Kapok dengan kamar mandi yang dan suasana gloomy yang kami tempati malam sebelumnya, kami memutuskan untuk mengambil kamar yang lebih baik. Kami memilih dengan rate 300k. Dan, beneran ya kalau ada harga ada rupa. Kamar mandinya nyaman, bersih dan wangi. Sophie seneng bener berendam sambil main sabun. Karena ber-AC, Sophie juga lebih nyenyak tidurnya. Dan sarapan paginya enak lho, nasi kuning yang penuh rempah. Sepertinya kami harus mengambil kamar yang ber-AC dan ada air panasnya demi kenyamanan bersama, setidaknya sampai Sophie agak besar nanti. Lewat balita mungkin ya?

Sayangnya, hari ketiga kami harus pindah lagi. Kamar yang kami tempati itu hanya available untuk satu hari saja. Selanjutnya kami pindah ke kamar dengan rate Rp. 150k. Hampir sama kondisinya seperti di Hotel Viking, cuma sedikit lebih tidak kusam saja.

Pulangnya, as I wrote before kami menggunakan pesawat. Lion Air, karena jadwal penerbangannya pagi dan harga tiketnya lebih bersahabat di banding Garuda. Memang kalau mau nyaman dan gampang kalo jalan-jalan sama batita ya seharusnya naik pesawat saja ya. Dan seharusnya yang namanya jalan-jalan itu direncanakan dengan baik, jauh-jauh hari. Jangan seperti kami yang gubrak-gabruk gak jelas, ya spontanitasnya tinggi tapi ujung-ujungnya high cost.

Ya, ya, smoga jalan-jalan kami selanjutnya lebih terencana ya, tanpa ada agenda mengurus jamur yang membuat semuanya jadi panjaaaang urusannya 🙂

Sepertinya akan ada part 2 ya posting ini, saya harus pulang sekarang untuk siap-siap mengejar bis ke Purwokerto. Weekend kali ini datang lebih cepat 🙂

Mama pulang, Sayang…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s