Uncategorized

Edisi Mengeluh

Siang-siang begini saya duduk manis di rumah, baca-baca artikel ditemani Embrace. Seharusnya ini indah ya, bayangkan saja, hari Rabu di Purwokerto. Seharusnya. Tapi oh tapi, nafsu saya untuk mengeluh lagi tinggi-tingginya. Mari kita lihat kenapa saya mengeluh di momen yang seharusnya indah ini:

  • Men to the cri. Ya ampun, penyakit gak elit ini menyapa saya sejak weekend kemarin. Lemees jadinya. Jadi malas ngapa-ngapain
  • Harus ke optik. Kemarin saya ketiduran sesaat, trus dibangunkan Sophie. Ya ampun, 3 menit terlelap frame kaca mata saya sudah gak berbentuk lagi. Entah apa yang dilakukan Sophie dalam tempo 3 menit itu 😦
  • 36 jam ekslusif bersama Sophie dalam keadaan lemes. Papa kemarin ke Jakarta, jadinya saya seorang diri menghandle si bocah rungsing yang lagi hobby tantrum ini. Dulu sebelum saya memutuskan Sophie tinggal dengan Papa, saya selalu takut kalau Sophie akan jauh dari saya. Kenyataannya sekarang adalah sebaliknya, Sophie jadi amat lengket dan manja sama saya. Sdikit-sdikit Mama. Apa-apa Mama. Tidak mau mandi. Saya tidak boleh kemana-mana, bahkan ke kamar mandi pun Sophie merengek tidak mau ditinggal. Yang paling memusingkan adalah Sophie tidak mau makan kalau ada saya. Menyebalkan ya, bentuk manjanya kok tidak mau makan. Maunya nempel melulu di dada saya. Nenen terus. Mana nangisnya terdrama kalau ada saya, keras dan lama. Stok sabar saya sungguh butuh ditambah saat ini.
  • Harus ke Surabaya malam ini, melirik kalender dan mendapati sekarang tanggal 28. Deadline tanggal 1 melambai-lambai mesra deh.

Cukup ya mengeluhnya. Beneran deh, mengeluh sama sekali tidak membantu.

Uncategorized

Potong Rambut (Beneran)

Weekend kemarin kami memotong rambut Sophie. Rambut tipisnya sudah terlalu panjang, kalau lagi main seru suka menutupi mata Sophie dan tentunya si bocah nggaya risih jadinya. Ini adalah edisi potong rambut Sophie yang ke lima. Yang pertama penggundulan pas masih piyik dulu, edisi kedua dan ketiga saya memotong poni saja, edisi keempat saya memotong poni dan menyamakan panjang rambut belakang Sophie dengan segala keamatiran saya. Nah, kemarin saya minta bantuan mbak cantik di Salma untuk memotong rambut Sophie.

Sejak dua hari sebelum hari H saya sudah mulai bicara pada Sophie kalau rambutnya sudah panjang, tidak rapi jadinya sering menutupi matanya. Saya sampaikan kalau nanti rambutnya dipotong, akan jadi rapi dan bagus seperti rambut saya *Well, saya hanya memanfaatkan moment Sophie mengidolakan semua tentang saya. Tak kan selamanya Sophie menganggap diri saya keren adanya kan ya :)* Nanti rambutnya akan dipotong mbak di salon dengan gunting, sambil saya peragakan adegan menggunting rambut.

Sebelum ke salon, Sophie minta balon. Dan ternyata balon ini efektif sekali mengalihkan perhatian Sophie dari gunting si mbak. Saya ngoceh terus selama pemotongan rambut sambil memegang tangan Sophie. Dan karena rambut Sophie tipis, kurang dari 10 menit sudah selesai.

Bangga saya. Sophie sama sekali gak rewel selama dipotong rambutnya. Gak usrek seperti biasanya.

Hasilnya? Poninya kependekan, jadinya terlihat culun 🙂

Eh, Sophie tampaknya terkesan dengan apa yang dia lihat di salon. Sesampainya di rumah dia minta bedak dan sibuk mneburkan bedak di lehernya, katanya biar tidak gatal, mengulangi kata-kata di mbak salon. Trus dia juga minta gunting yang dia gesek-gesekkan ke rambutnya. Untung Sophie belum tahu bagaimana cara menggunakan gunting, kalau tidak ya siap-siap saja rambutnya petak sana sini 🙂

Love you, dear Sophie 🙂

Uncategorized

Edisi Random Sore Ini

  • Senang sudah menemukan potty seat buat Sophie. Sesuai harapan awal: tanpa bantalan busa, keras seperti seat toilet beneran. Ayo Nak, kita tuntaskan level ini dengan baik 🙂
  • Sungguh tidak suka melihat orang-orang tidak menghabiskan air minum kemasan gelas.
  • Makanan tidak sehat selalu memberikan kenyamanan sesaat untuk hati yang gelisah. Dan kita semua tahu melarikan diri pada makanan adalah sebuah kesalahan.
  • Labuhan Bajo. Kapan ya kami bisa ke sana?
  • Plagiat. Dihujat karena hanya mengaku salah dan minta maaf tapi tidak mengakui tindakan plagiatnya. *Ahhirnya saya komentar juga tentang hal ini ya, telat bangeet:)* Bagi saya tidak penting untuk memaksanya berkata, “Yes, I am a plagiator” Toh kita semua sudah tahu faktanya bagaimana. Yang lebih peting adalah mengingatkan diri kita dan anak-anak kita untuk lebih teliti, menghargai karya cipta orang lain dan percaya pada kemampuan sendiri. Eh, yang sama sekali gak penting adalah mengkait-kaitkan peristiwa ini dengan hal lain yang sama sekali tidak berhubungan, hanya untuk menjatuhkan beliau lebih dalam lagi. Ngapain juga?
  • Beneran jengkel sama ABG-ABG cantik *beneran deh, fisiknya cantik, outfit-nya bagus, enak dilihat pokoknya* yang tidak tahu sopan santun dan tidak mandiri. Apa susahnya sih Dik bilang permisi? Kenapa bicara pada nenek-nenek dengan nada seperti itu? Kenapa sepatu saja minta diambilin si mbak? Tidak bisakah meminta sesuatu tanpa merengut dan memerintah? Allah, semoga kami diberi kekuatan untuk mendidik Sophie jadi anak yang baik, santun, berhati lembut dan mandiri.