Uncategorized

MSG vs Kaldu non MSG, part 2

Oh tidak, tampaknya saya terobsesi sama pembahasan MSG ini ya. Selesai dengan tulisan yang ini, saya iseng googling nama leading brand kaldu non MSG dan menemukan hal yang menarik. Ada beberapa penjual on line yang mencantumkan manfaat dari produk tersebut. Saya salin di sini saja ya.

  1. Membuat masakan lebih sehat sekaligus sehat dan aman dikonsumsi
  2. Membantu anak-anak bermasalah seperti penderita autis sehingga tetap dapat menikmati masakan yang lezat dan aman
  3. Membantu penderita tekanan darah tinggi menikmati masakan lezat sekaligus sehat
  4. Membantu penderita penyakit jantung sehingga dapat menikmati masakan lezat sekaligus sehat
  5. Meningkatkan kualitas hidup bagi mereka yang tidak dapat mengkonsumsi vetsin dalam suatu masakan
  6. Dapat diaplikasikan tidak hanya untuk masakan sehari-hari tetapi juga untuk snack dan kue

Hebat banget ya. Tapi kok ya menurut saya terlalu berlebihan. Coba ya kita lihat poin demi poin.

Membuat masakan lebih sehat sekaligus sehat dan aman dikonsumsi. Dibandingkan dengan penggunaan MSG tentunya. Kalo poin ini saya benar-benar tidak paham lho. Bagaimana mungkin suatu food additive bisa menyehatkan suatu makanan? MSG dan hidrolisat protein sayur sama-sama berubah bentuk jadi glutamat didalam masakan kita. Keduanya kalau dikonsumsi, akan menempati reseptor yang sama dalam tubuh. Keduanya juga akan dimetabolisme tubuh dengan jalur yang plek-njiplek. Tolong ya produsen, poin ini direvisi. Potensial menyebabkan missleading di masyarakat soalnya.

Membantu anak-anak bermasalah seperti penderita autis sehingga tetap dapat menikmati masakan yang lezat dan aman. Sama tidak setuju dengan klaim ini. Kita kembali pada pemahaman bahwa MSG dan hidrolisat protein sayur sama-sama berubah bentuk jadi glutamat didalam masakan kita. Penderita autis yang memiliki gangguan pada reseptor glutamat di otaknya ya tetap saja akan bereaksi ketika menerima asupan hidrolisat protein sayur. Mungkin yang berbeda adalah intensitas reaksinya. Dalam satu sendok teh yang sama, kandungan glutamat dalam kaldu non MSG pastinya jauh lebih kecil dibandingkan MSG. Ya, kaldu non MSG kan mengandung bahan-bahan lain, tidak melulu MSG saja.

Membantu penderita tekanan darah tinggi menikmati masakan lezat sekaligus sehat. Juga membantu penderita penyakit jantung sehingga dapat menikmati masakan lezat sekaligus sehat. Nah, kalau ini benar. MSG melepaskan ion natrium saat terionisasi, sedangkan kaldu non MSG yang notabene merupakan bentuk asam tidak punya ion Natrium. Yang berpengaruh ke sistem kardiovaskuler pada penderita hipertensi dan penyekit jantung ya si natrium ini.

Meningkatkan kualitas hidup bagi mereka yang tidak dapat mengkonsumsi vetsin dalam suatu masakan. Totally disagree with this claim. Alasannya jelas tertulis diatas ya.Β 

Dapat diaplikasikan tidak hanya untuk masakan sehari-hari tetapi juga untuk snack dan kue. Lah, klo memang doyan, saya pikir MSG dan kaldu-kaldu berMSG pun bisa kok. Saya ingat beberapa tahun lalu emping yang dikucuri dengan kaldu berMSG, dikeringkan kembali lalu digoreng pernah hits di lingkungan saya. Juga kastengel yang maunya irit keju. Lah, kok malah ngomongin makanan ya saya πŸ™‚

Tapiii, terlepas dari apa yang saya jelaskan diatas, saya percaya sama yang namanya efek placebo. Jadi kalo ada yang pake kaldu non MSG terus merasa lebih sehat, lebih bugar, saya percaya itu bisa terjadi. Kekuatan pikiran dan keyakinan itu luar biasa lho.

Cuma mbok ya kalo jualan itu promosinya yang sewajarnya saja. Klaim-klaim yang terlalu bombastis kan tidak selamanya ampuh. Bisa-bisa calon konsumen malah jadi sinis seperti saya. Dan sekarang informasi adalah sesuatu yang bisa diakses oleh siapapun. Yang kasihan itu ya yang menelan mentah-mentah klaim-klaim bombastis itu. Tapi untungnya urusan MSG-MSGan ini bukan tentang hidup dan mati ya, jadi klopun keblusuk, tidak akan berbahaya buat kesehatan *kecuali kasus-kasus khusus tentunya*

Wis, cukup sok punya banyak waktu luangnya *ampun Papaaaa, besok-besok lebih punya prioritas InsyaAllah :)*. Saatnya mengejar bis, pulang ke pelukan orang-orang tercinta πŸ™‚

Uncategorized

MSG vs Kaldu non MSG, Pilih Mana?

Posting ini saya buat karena saya merasa tidak nyaman dengan apa yang saya baca tadi pagi. Tulisan tersebut menyanjung suatu produk kaldu non MSG dan menjelek-jelekkan MSG as food enhancer. Saya mengendus adanya missleading yang perlu diluruskan, sehinggaΒ  saya melakukan riset kecil-kecilan. Hasilnya ya posting ini πŸ™‚

Kalau kata wikipedia, monosodium glutamat (MSG) itu adalah bentuk garam natrium dari asam glutamat. Asam glutamat sendiri termasuk golongan asam amino non esensial. US FDA (BPOMnya Amrik) memasukkan MSG dalam golongan Generally Recognized as Safe (GRAS), sedangkan Uni Eropa menggolongkannya sebagai tambahan makanan alias food additive. Reputasi buruk MSG dimulai sejak tahun 60-an, ketika beberapa artikel dalam berkala ilmiah melaporkan temuan adanya kerusakan otak dan obesitas yang terkait pemberian MSG pada mencit dan monyet. Satu dekade kemudian muncul beberapa laporan yang meng-counter temuan tersebut. Informasi-informasi ini bisa dibaca di laman googlescholar, smoga pada langganan jadi bisa baca ya:)

Nah, sekarang kita bicara tentang kaldu non MSG tersebut. Salah satu bahan dalam komposisinya adalah hidrolisat protein sayur (hydrolyzed vegetable protein). Dari segi bahasa saja sudah terbayang cara pembuatannya ya, protein yang dihidrolisis. Kenapa dilakukan dihidrolisis? Ya untuk memutuskan ikatan peptidanya sehingga didapatkan asam amino bebas. Asam glutamat adalah salah satu asam amino yang didapatkan dari hidrolisis protein sayur tersebut. Pada titik ini mungkin kita masih melihat asam glutamat dan MSG sebagai dua hal yang berbeda. Tapi, mari kita lihat lebih jauh lagi.

Baik asam glutamat maupun MSG ketika terlarut didalam air akan terionisasi menghasilkan ion zwitter yang dinamakan glutamat. Ion glutamat inilah yang bertanggungjawab terhadap rasa gurih pada masakan yang dibubuhi dengan kedua senyawa tersebut. Yang membedakan asam glutamat maupun MSG adalah kelarutannya. MSG lebih mudah larut dalam air, sehingga senyawa ini lebih bisa diterima.

Kalau kita lihat ke belakang, cara pembuatan MSG jaman dulu menggunakan metode hidrolisis protein sayur lho. Protein yang digunakan biasanya adalah gluten gandum. Kalau kita menggunakan hidrolisat protein sayur sebagai alternatif MSG, ya sami mawon kembali ke awal dulu ya. MSG sekarang diproduksi dengan menggunakan teknologi fermentasi, biasanya menggunakan Corynebacterium sp dengan substrat berbagai jenis gula, mulai dari sukrosa hingga molase tebu sisa produksi gula pasir. Pengembangan teknologi fermentasi ini, salah satunya dengan optimasi media pertumbuhan bakteri, menimbulkan isu haramnya salah satu leading brand MSG beberapa waktu yang lalu. *Kesimpulan akhirnya halal kan ya?*

Nah, klo hidrolisat protein sayur dan MSG sama-sama menghasilkan ion glutamat, pertanyaannya sekarang adalah kita harus memilih yang mana? Atau kita tinggalkan saja keduanya karena sama-sama berbahaya? Panel Ahli di FDA sudah memutuskan bahwa dalam batas penggunaan normal, keduanya aman. Berikut kutipannya, “There is no evidence in the available information on L-glutamic acid, L-glutamic acid hydrochloride, monosodium L-glutamate, monoammonium L-glutamate, and monopotassium L-glutamate that demonstrates, or suggests reasonable grounds to suspects, a hazard to the public when they are used at levels that are now current and in the manner now practices”. Laporan-laporan tentang terjadinya gangguan neuropatologi yang muncul beberapa dekade yang lalu itu terutama disebabkan karena desain uji penelitian tersebut memberikan MSG melalui jalur subkutan yang tidak mungkin kejadian pada manusia *Ya iyalah, ada yang mau disuntik pakai MSG gitu?* dan oral dengan dosis lebay diatas penggunaan normal.

Jadi, kalimat kuncinya adalah glutamat, apapun bentuknya, adalah aman asal tidak berlebihan. Dan yang perlu dicatat, dari seluruh populasi manusia di bumi ini, pasti ada individu yang sensitif terhadap glutamat. Nah, mereka-mereka inilah yang mungkin mengalami beberapa reaksi yang merugikan kesehatan saat terpapar glutamat.

Jadi, mau memilih menggunakan MSG, kaldu non MSG (yang ternyata menghasilkan glutamat juga ketika masuk ke makanan), atau malah tidak menggunakan produk-produk tersebut ya silahkan saja. Yang tidak perlu dilakukan adalah menjelek-jelekkan satu produk just because kita tidak menggunakannya. What for? Anak-anak kita saja tidak sebegitunya kali πŸ™‚

Tapi kalo concern-nya bahan alami, lebih baik menggunakan bahan kaya glutamat semacam tomat, jamur, hasil fermentasi kedelai seperti tahu tempe, juga kecap. Kaldu non MSG masih kalah alami sama bahan-bahan yang saya sebutkan itu. Iya sih, asalnya dari protein sayuran yang alami. Tapi jangan lupa prosesnya. Hidrolisis itu biasanya menggunakan asam-asam kuat. Nah loh πŸ™‚

Eh, saya? Saya sih orangnya moderat cenderung ndableg ya. Prinsip saya adalah what’s in moderate won’t kill you. Saya sekarang tidak menyetok MSG atau kaldu-kalduan begitu di rumah. Kalo saya pengen yang gurih-gurih ya saya membuat kaldu sendiri *sisa ilmu MPASI Sophie dulu, hahaha*. Biasanya di freezer selalu ada potongan daging ayam kecil-kecil yang saya kemas untuk sekali pemakaian. Kalau butuh ya tinggal didihkan air, cemplungin sewadah, tambahin keprekan bawang putih sama jahe sdikit, trus kecilin api, bisa ditinggal peluk-pelukan sama Sophie tuh:) Tapiii, saya juga masih suka jajan di luaran. Kalo jajan kan kayanya kecil sekali kemungkinan gak kena MSG ya πŸ™‚