Uncategorized

Baturaden, Lagi :)

di Baturaden

Kemarin kami ke Baturaden. Tidak masuk ke Lokawisata maupun ke Wanawisata, hanya bermain di dekat pintu masuk Wanawisata. Terus ngapain dong? Papa mencari bunga liar untuk ditanam di depan rumah, Sophie melihat monyet, angsa dan burung kasuari, saya manyun salah kostum pakai wedges mainan HP 😦

minum

Yang seru sebenarnya adalah perjalanan pulangnya. Kami ingin lewat Banjarsari, yang mana akan langsung sampai di depan kompleks perumahan  dimana kami tinggal. Pemandangannya cantik dan beda jauh sama Jl. Raya Baturaden. Tapi, navigasi kami berdua yang sama parahnya membuat kami salah ambil jalan.

Kami seharusnya ambil jalan menyeberangi jembatan ke Banjarsari, kemarin malah belok ke Karangsalam. Seharusnya kami turun kok ini malah naik terus. Dan, kami cuma bisa tertawa ngakak ketika kami akhirnya muncul dibawahnya Queen Garden. Kami sampai di Baturaden lagi!

Tapi setidaknya kami tahu ada yang menanam sayuran di Baturaden, banyak peternakan ayam dan penyulingan minyak nilam di sana 🙂

Uncategorized

Sophie dan Tangled

Saya tahu film ini sebenarnya tidak age propitiate buat Sophie. Saat itu Sophie suka sekali melihat kuda, dan saya sudah bosan dengan video kuda berlari yang ada di laptop saya. Saya iseng menunjukkan Maximus dan Sophie instantly liked him a lot. Sekarang? Errrr, imajinasi Sophie sudah melampaui kuda putih itu tampaknya 🙂

Duluuu, di awal-awal Sophie cuma suka melihat Maximus. Dia semangat sekali melihat Maximus, dan meminta adegan yang tidak ada Maximus-nya dilompati. Mulutnya tak henti tersenyum sambil sesekali bicara, ” Uda, Mama. Uda”

Kemudian, ketertarikan Sophie bergeser pada Rapunzel. Jadilah Sophie menyimak semua adegan yang ada Rapunzelnya. Menyukai rambut panjangnya. Bahkan kalau minta nonton Tangled, Sophie akan menarik-narik rambutnya. Adegan favoritnya adalah saat Rapunzel keluar dari menaranya, yang mana Rapunzel berayun pada rambutnya. Sophie akan menunjukkan kakinya, berguling di lantai, bangun dan berlari dengan gaya slow motion, menirukan apa yang dilakukan Rapunzel. Dan tentu saja mulutnya tidak berhenti berkomentar. “Ayun Mama…. Tati, tati…. Wup… Angin Ma, terbang…. Lari, lari, lari….”

Dan, Sophie tidak suka sama Gothel. Semua adegan yang ada Gothelnya minta dilewati.

Belakangan Sophie mulai ikut bernyanyi bersama Rapunzel. Dengan logat  Purwokerto-English dan spelling ajaibnya.

“Ndis wen mai laif biiiiigeeeeeen….”, setelah muter-muter kaya gasing sambil menegakkan badan dan merentangkan tangannya.

“Et nde las ai si nde lait, en nde werd sadenli siftet….” sambil sok memegang tangan Papa atau saya.

Buat Papa, adegan Sophie lagi nyanyi lagunya Mandy Moore ini adalah obat yang ampuh untuk meredakan emosi saat Sophie mulai nyebelin. Kata Papa, dengan mengingat tampang Sophie yang luar biasa kocak nan imut saat nyanyi lagu-lagu itu bisa menurunkan tensi yang mulai tinggi. Dan saya pun menconteknya. Lumayan efektif ternyata, hahaha…

Sekarang, Sophie suka semua adegan bernyanyinya, kecuali yg nyanyi Gothel tentu saja. Masih suka menirukan segala gerak Rapunzel. Dan paling suka pas rambut Rapunzel dipotong pendek, dengan sedikit komentar gombal saya, “Rambut Rapunzel sekarang pendek ya, bagus seperti rambut Sophie” Hahaha…

Sepertinya Sophie akan mengingat film ini sepanjang hidupnya ya. Semoga yang baik-baik saja ya Nak 🙂