Uncategorized

Random

Pekerjaan yang paling makan energi buat saya adalah saat ekstraksi. Ya ampun, dua hari isinya menunggu dan menunggu. Lima menit di sonikator, dua menit di homogenizer, satu jam-an menyaring, satu jam tambahan untuk menguapkan… Diulangi sepuluh kali.

Dan momen-momen boros energi seperti ini jelas bukan saat yang tepat untuk melakukan pekerjaan serius buat saya. Yang ada senewen melulu, tidak fokus mengerjakannya. Biasanya yang saya lakukan sambil menunggu adalah ngoprek youtube, blogwalking, chatting kalau ada partnernya atau maraton-an nulis blog entry.

Hari ini saya lagi baca-baca blog masak memasak. Saya yang notabene tidak bisa masak ini terpesona tiada henti deh. Melihat foto makanan dan diskripsinya yang luar biasa itu. Kok bisa ya se-kreatif itu. Dan tiba-tiba saya kepikiran, kasihan sekali suami saya, istrinya gak pinter dan gak rajin nguprek dapur.

Tapi Allah memang maha tahu. Skenarionya bagus luar biasa. Saya yang tidak kompeten di dapur ini dijodohkan sama suami yang untuk ukuran laki-laki mah bisa diandalkan di dapur. Bukan ukuran chef yang bisa masak makanan resto, tapi jelas bisa diandalkan untuk menjaga kenyamanan perutnya sendiri dan perut batita rewel saat istrinya tidak di rumah. Ehm, juga saat istrinya dirumah, bahkan πŸ™‚

Nah nah nah, gara-gara blogwalking tadi saya jadi pengen masak buat suami dan Sophie weekend nanti. Mari kita lihat bagaimana eksekusinya weekend nanti, apakah saya beneran jadi masak atau kembali ke pola lama saya: dimasakin suami plus merayu ngajak makan di luar. *Uh oh, istri macam apa saya ini?*

Ngomongin suami ini ya, semakin hari saya semakin saya mengerti kehebatan suami saya. Caranya meng-handle saya yang mengalami pemendekan sumbu secara periodik dua kali sebulan ini menenangkan sekali. Seperti kemarin siang, setelah belasan jam saya ngambek cemberut mewek tidak jelas, beliau cukup melepas kaca mata saya yang (pura-pura) tidur, mencium saya sambil bilang, “Mama kok peak-nya tidak selesai-selesai ya”

Sudah. Begitu saja terus keluar kamar meletakkan kaca mata saya di atas TV.

Tidak menghakimi. Tidak merespon amarah saya dengan energi yang sama. Hanya memahami. Dan itu yang membuat saya meleleh πŸ™‚

You mean a world to me, Papa. *Virtual hugs*

Advertisements
Uncategorized

Sudah cukup lama kami repot dengan pencarian susu Sophie, Mimi Ultra rasa cokelat. Sejak Sophie bisa memilih, dia maunya ya cuma Mimi cokelat itu. Susu beruang, kata Sophie. Kami sering sekali kehabisan stok. Biasanya kami membeli di Aroma, tapi kalau terlambat 2-3 hari dari hari pengirimannya, bisa dipastikan kami tidak kebagian stok. Alternatif lainnya adalah di Moro, Rita atau justru seringnya dapat di Bursa Kampus dan Kopkar UMP. Kalau sudah kehabisan di tempat-tempat itu, paling kami hunting ke Indomaret atau Alfamart. Tapi ya di kedua tempat itu stoknya terbatas. Paling banter dapet belasan kotak. Dan harganya di atas rata-rata sih 😦

Baru-baru ini saya mletik ide kecil, bagaimana kalau kami langsung pesan ke distributornya. Pastinya ketersediaannya lebih terjamin dan harganya lebih miring ya. Maka bertanyalah pada si maha tahu Pakde google. Beberapa saat kemudian saya mengirim email ke customer_care@ultra.co.id untuk menanyakan no kontak distributor Mimi Ultra area Purwokerto dan sekitarnya.

Tidak sampai satu jam email saya dibalas. Singkat dan langsung to the point menjawab pertanyaan saya. Salut pada CS Ultrajaya πŸ™‚

Selanjutnya saya menelpon distributor Purwokerto. Responnya juga bagus, selama ada barangnya ya mereka bisa mengirimkan ke alamat yang saya mau. Selanjutnya saya dihubungkan dengan sales Mimi Ultra langsung. Kemarin saya sudah telpon si Mas Sales itu, dan dia berjanji akan mengirimkan pesanan saya ke kampus suami, besok. Kenapa besok? Karena jadwal merekaΒ  mengirim ke Dukuhwaluh dan sekitarnya adalah setiap Selasa πŸ™‚

Lega deh, satu masalah telah teratasi. PR kami sekarang adalah melatih Sophie mengurangi konsumsi susunya. Pengennya sih konsumsi harian Sophie berkurang 2-3 kotak tiap harinya. I know, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Tapi kami tidak mau yang ekstrim cutting konsumsi Sophie dengan semena-mena begitu saja. Kami pengennya prosesnya nyaman buat kami semua. Sophie ikhlas dan senang menjalaninya, kami juga tidak terlalu stress menuntunnya.