Uncategorized

Miss multitasking-and-all-out-when-playing with her devoted father are watching Dora The Explorer: The Mermaid Kingdom 😀

Advertisements
Uncategorized

Tentang Dia yang Namanya Tidak Boleh Disebut

Kami, saya dan suami, membicarakan seorang teman beberapa hari yang lalu. Seorang teman yang memiliki predikat amat keren di mata saya, walaupun tidak demikian halnya dimata suami. Tidak perlu diperdebatkanlah tentang hal ini, jelas saya dan suami punya ukuran yang berbeda tentang pelabelan semacam itu 🙂

Yang jelas, pemicunya dari facebook. Suami melihat sesuatu dari fb, lalu saya yang memiliki ke-kepo-an pada level yang memprihatinkan tentu saja langsung mencarinya. Setelah menganalisanya dengan segala kesoktahuan dan (sebenarnya) keterbatasan wawasan yang kami miliki, suami menyimpulkan bahwa orang-orang memang tidak pernah berubah. Kalau dasarnya orange ya orange saja, kalaupun lingkungannya berubah, dipoles sana-sini, paling-paling ya geser sedikit dari orange tua ke grade yang mudaan sedikit.

Saya, entah kenapa tidak bisa menerima kesimpulan suami itu. Saya ngotot bahwa kita kan tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya dari si teman itu. Kita tidak bisa semena-mena mengatakan kalau si teman itu adalah the same person he used to be just because he (seems to) play the same old game. Mungkin saja ini beda dari yang sudah-sudah.

Setelah saya renungkan (Ya Allah, ampuni saya. Serasa tidak ada hal lain yang bisa direnungkan saja ya, hahaha), ternyata saya ngeyel itu karena deep down saya ingin si teman itu tidak berubah di mata saya,  tetap amat keren seperti sebelumnya. Jadi klo suatu saat bertemu dengannya nanti, saya bisa bilang ke Sophie, “ini lho Nak, teman Papa dan Mama yang kerennya tidak habis-habis, dari dulu sampai sekarang tetep keren saja”

But reality bites.

Pada akhirnya, apa hak saya mengharapkannya tetap keren sedangkan saya sendiri tidak jelas seperti ini? Egois sekali, ya, saya ini 😦

Saya tidak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya, saya tidak memahami latar belakang pilihannya, juga tidak punya nyali untuk menanyakan langsung pada dirinya. Jadi yo wis lah, cukuplah rasan-rasan tidak sehat ini berhenti sampai di sini. Titik.

Menutup posting tidak jelas ini, mari kita berdoa ala Made to Last-nya Semisonic. Wherever you are, neraby or far, black, white, lemon or lime… I hope you last a long, long time. Lasting in your happiness.

UPDATE: Ke-kepo-an saya yang tidak terkira membuat saya lebih giat mencari tahu. Apa yang kami prediksikan benar adanya. Tapi dia tetap keren dengan caranya sendiri. Surely will introduce him to Sophie with this sentence, “ini lho Nak, teman Papa dan Mama yang kerennya tidak habis-habis, dari dulu sampai sekarang tetep keren saja”

Uncategorized

Growth chart-nya Sophie, yang mana konsisten sejak umurnya setahun: antara persentil 45-50.

Saya memposting kurva ini untuk satu tujuan, menyemangati diri sendiri agar tidak terlalu stress memikirkan masalah makannya Sophie. Saat ini sepertinya pelet Papa atas Sophie mulai memudar, Sophie mulai sulit makan, alemannya sama Papa sebanding dengan alemannya ke saya, mulai bisa ngeyel kalau diberitahu…

Ya, kami tidak perlu khawatir secara berlebihan. Angka tidak bohong. Walaupun makannya Sophie sedemikian nyebelinnya, yang penting growth chart-nya masih bertahan di persentil yang sama seperti waktu lalu 🙂

Uncategorized

Setelah Empat Malam Tidur di Jalan….

Setelah puas bis-bisan dengan segala sensasinya *atau bosan, tepatnya*, saatnya duduk lagi, mengerahkan semangat dan konsentrasi untuk persiapan hari Kamis nanti.

Puas bis-bisan? Coba deh dibayangkan. Jumat malam saya mudik, perjalanan terlama Surabaya-Purwokerto yang pernah saya alami: 15 jam! Ini semua gara-gara saya kehabisan tiket bus jurusan Pwt, sehingga harus ikut bis jurusan Cilacap. Saya yang terbangun di Wates mendadak cemberut gara-gara si bus itu cuma berjalan dengan kecepatan 40 km/jam dan selalu membunyikan klakson setiap kali ada obyek didepannya. Entah apa yang terjadi pada saat saya tidur, yang jelas sopir busnya ganti. Belum lagi dari perjalanan Buntu ke Purwokertonya. Errrr….

Sabtu malam saya naik bis lagi ke Bogor, ikut  outing kampus saya. Saya niatkan untuk membahagiakan Sophie. Alhamdulillah Sophie beneran happy saat melihat gajah-gajah beratraksi. Sampai kemarin pun Sophie masih suka bercerita dengan caranya sendiri. “Gajah Mama, duduk. Bobok. Kakinya diangkat, diitung kukunya, wan tu tri fol faif…”

Minggu malam, kembali naik bis pulang ke Pwt. Dan tadi malam, kembali ber-bis ria ke Surabaya.

Sekarang, saatnya mulai mempersiapkan hari Kamis nanti. Another adventure to go through 🙂