Uncategorized

Ada dua hal yang membuat saya sadar bahwa saya sudah tua: Fergie’s fledglings dan blog-blog yang pernah saya tulis.

Iya, melihat Neville brothers, Giggs, Scholes dan Beckham menua benar-benar menyadarkan diri saya tidak muda lagi. Jangka waktu yang membuat mereka semakin matang sama persis dengan jangka waktu yang saya habiskan untuk sampai ke detik ini. Mereka yang dulu penuh energi dengan semua pesonanya di lapangan, kini telah melewati puncak performanya. Sama seperti saya, yang dulu masih muda, punya banyak energi maunya ini itu bisa-bisa saja, sekarang mulai letoy, menuju gendut. TUA.

Demikian juga blog-blog saya. Saya mulai menulis blog sekitar tahun 2003, tapi sudah lupa apa nama blognya *tuh kan, TUA*. Tahun 2005 saya pindah ke blogdrive, blognya masih ada sampai sekarang tapi sudah tidak bisa diapa-apain lagi karena saya sudah tidak ingat passwordnya *apa saya bilang, sudah TUA*. Lalu 2007 saya pindah ke multiply, 2011 pindah lagi ke tumblr.Sekarang saya banyak menulis di tumblr, kadang kalau lagi kumat selo-nya copy paste content tumblr ke multiply 🙂 *TUA bener ya, tanda-tanda pikun sepertinya*

Nah, kedua hal tersebut juga menyadarkan saya bahwa saya sudah bertumbuh. Ada progress dalam diri saya. Saya yang dulu sebegitu terikatnya pada MU, dibela-belain bagaimana caranya biar bisa mengikuti setiap detail mereka, jadwal mainnya, hasil setiap match-nya, gosip transfer pemainnya, dan segala tetek bengeknya sekarang sama sekali tidak punya ketertarikan pada hal-hal tersebut. Mengikuti beritanya pun tidak. Hilang ketertarikan begitu saja. Hal terakhir yang cukup membuat emosi saya termainkan adalah saat Solskjaer meninggalkan Old Trafford. Dialah cinta terakhir saya di sana.

Blog-blog saya jelas menunjukkan bahwa ada progress dalam tata bahasa saya. Malam ini saya sok selo baca blogdrive saya dulu. Ya ampun, pengen menjambak-jambak rambut sendiri karenanya. So ababil. Labil, sumpah. Dan entah kenapa saya di edisi lampau kok kesannya gloomy sekali. Serasa berada di bottom of the universe banget. Merana melulu. That’s right, itulah letak progress saya, menjadi lebih ceria 🙂 Link blogdrive saya? Jangaaaaan, saya saja tidak kuat membacanya lama-lama kok, jelek banget, asli. Malu, tapi saya bersyukur bahwa hidup telah membuat saya jadi lebih bahagia. Is it an effect of being married? Sepertinya 🙂

Yes, this post is for you, Papa. I wanna say thank you for bringing me to the brighter side of the world 🙂

PS: itu adalah screen capture salah satu post saya di blogdrive *tutup muka* Tapi sesuram apapun, saya dari dulu sudah sok punya pilihan ya. Mental tidak mau jadi korban-nya dominan! It feels good to see the past and know that we have made some progress. Jadi lebih bisa bersyukur.

Advertisements
Uncategorized

the End of Our Breastfeeding Story

Akhirnya tiba saatnya buat saya untuk menuliskan akhir dari perjalanan menyusui kami, Sophie is officially weaned now. Sepanjang 2 tahun 2 bulan kami belajar banyak, dan bagaimanapun juga kami berhasil karena adanya pertolongan Allah. Saya merasa dimudahkan dalam urusan ini, alhamdulillah.

Kisah awal perjalanan menyusui kami hingga Sophie berusia setahunan bisa di baca di sini.

Selepas umur setahun, Sophie mulai minum UHT untuk menambal kekurangan ASIP selama di TPA. Biasanya dalam sehari Sophie membawa bekal 200 mL ASIP plus 2 kotak susu Diamond. Hal ini bertahan hingga Sophie berusia 15 bulan.

Selepas 15 bulan, saya tidak lagi membekalinya dengan ASIP. Alasannya sangat teknis dan sepele, sebenarnya. Saya semakin sulit mencuri waktu untuk memompa dan menyimpan ASIP selama di kampus. Saat itu saya belum fix masuk ke lab mana, sehingga saya tidak punya ke akses penyimpanan ASIP yang layak. Di masa ini Sophie beralih ke susu Ultra plain, yang kemasan 200 mL sebagai bekalnya selama di TPA. Selama dengan saya, sejak jam 4 sore sampai jam setengah 8 pagi, Sophie menyusu langsung pada saya, dengan pola yang mirip bayi, setiap 2 jam sekali.

Umur 20 bulan, Sophie pindah ke Purwokerto. Menyusunya juga menyesuaikan waktu mudik saya, dari Sabtu pagi sampai Senin sore saja setiap minggunya. Jelas produksi ASI saya berkurang, tapi sebisa mungkin saya memompanya 3 kali sehari untuk mempertahankan produksinya. Saya memompa dengan tangan, dan membuang hasilnya. Sophie selama saya di Surabaya saat itu minum susu Mimi Ultra rasa coklat. Saat adaptasi bersama Papa dan TPA barunya, Sophie menolak minum susu sama sekali. Mungkin kami terlalu tergesa-gesa saat itu menawarkan susu rasa coklat, tapi kami tidak menyesalinya. Sebenarnya makannya cukup bagus, tapi yowis lah tidak apa-apa. Dan seperti yang kita semua bisa prediksikan, setelah Sophie merasakan susu rasa coklat yang enak itu, jelas dia tidak mau lagi minum susu plain. Selamat datang masalah gigi *aah, ini gen tidak mau menggosok gigi ini diturunkan siapa sih?*

Mulai umur 23 bulan, kami mulai memasukkan isu menyapih pada setiap kesempatan berbicara dengan Sophie. Reaksinya sih negatif. Semakin hari semakin bisa menggunakan logikanya untuk ngeyel ke saya kalau dia memang masih mau menyusu. Makin ke sini perkembangannya semakin tidak enak buat saya, Sophie melampiaskan kangennya pada saya dengan menyusui. Jadi Sophie selalu nempel ke dada saya setiap saat setiap waktu. Dengan gaya ajaibnya. Dengan durasi yang makin hari makin lama.

Suami melihat bahwa perkembangan ini tidak baik. Menurut beliau, kita diperintahkan untuk menyusui sampai usia 2 tahun itu pasti ada hikmahnya. Dan akan lebih baik kalau kami juga berhenti pada umur 2 tahun itu. Tapi entah kenapa saya masih berat rasanya. Walaupun saya pegel dimana-mana, kurang tidur juga karena menuruti gaya ajaib dan nenen tengah malam Sophie, saya menikmati setiap detiknya. Saya biasanya mengeluh setelah selesai menyusui, setelah merasakan pegel-pegelnya kayang dilantai sambil ditindih bocah berbobot 11 kg, hahaha… Yang belum siap itu saya, memang.

Ketika Sophie 26 bulan, saya dan suami berkesempatan bicara dengan Bu Ning. Beliau adalah rekan kerja kami di Fakultas Psikologi, tapi hari itu beliau sedang berpraktek sebagai psikolog di TPA Sophie. Pendapat beliau sama dengan suami. Pasti ada hikmah dari perintah menyapih di usia 2 tahun itu. Sophie sudah besar, dia sudah tahu konsep kenyamanan dan kenikmatan. Kalau kami memperpanjang masa menyusui, dengan kondisi kami yang berpisah beberapa hari setiap minggunya ini, prediksi Bu Ning akan lebih sulit nantinya. Lagipula Sophie selama ini bisa tidur, tidak rewel dll tanpa nenen selama saya di Surabaya. Jadi intinya Sophie sudah bisa. Bu Ning mengingatkan kalau menyapih itu adalah bagian dari perkembangan anak sendiri, tujuannya baik kok. Yang penting kan setelah menyapih si anak tetap merasakan kasih sayang ibunya, tapi dengan bentuk yang lain. Attachment emak dan anak itu tetap bisa dipertahankan. Hal yang saya selalu ingat dari perkataan Bu Ning adalah, tujuan yang baik bisa menjadi tidak baik ketika caranya tidak baik. Maka PR kami adalah mencari cara yang terbaik untuk menyapih Sophie.

Kami memutuskan bahwa kami butuh bantuan media. Maksud kami, kalau mengandalkan weaning with love alias menunggu Sophie bosan sendiri kok rasanya tidak akan berakhir. Kami sudah memberikan persuasi 4 bulan tanpa henti pada Sophie, tapi belum kelihatan hasilnya. Pilihan pertama saya adalah plester. Alasannya sederhana, saya sendiri merasa geli kalau nipple saya dioles-oles dengan kunyit atau apa lah. Saat pertama kali plester tertempel di PD saya, saya dan suami ngakak. Ya ampun, seperti PD alien bentuknya 😀

Hari itu saya bilang pada Sophie, PD saya sakit. Saya tidak bohong, seperti yang saya ceritakan di sini. Awalnya Sophie juga menunjukkan ekspresi geli ketika melihat bentuk ajaib dari dispensernya waktu itu. Beruntung Sophie sudah mengenal plester dan korelasinya dengan sakit selama di sekolah, jadi semuanya menjadi lebih mudah buat kami. Di hari itu setiap berapa jam sekali Sophie akan mengecek kondisi PD saya. Ya dilihat langsung tentu saja 🙂

Saat mau tidur, sama sekali tidak masalah. Sophie sudah terbiasa tidur tanpa menyusu selama ini. Hari pertama berjalan dengan lancar. Begitupun hari kedua. Di hari ketiga Sophie sudah tidak minta melihat PD saya lagi. Saat dini hari hari ketiga itu tampaknya Sophie lupa dengan kondisi PD saya. Dia terbangun dan refleks langsung ndusel-ndusel PD saya sambil mangap-mangap mencari puting. Karena tidak juga mendapatkan keinginannya, dia menangis. Akhirnya saya tepuk-tepuk pipinya untuk membangunkannya, dan mengatakan kalau dia sudah besar dan PD saya sakit. Sophie versi bangun lebih mudah diajak bicara: dia langsung merevisi keinginannya menjadi minum susu 🙂

Seminggu setelah penempelan plester, kami jalan-jalan ke Taman Safari. Aman. Sophie sama sekali tidak meminta nenen. Nampaknya kami sudah berhasil ya.

Dua minggu setelahnya, kami sedang kruntelan berdua di sofa. Tiba-tiba Sophie menanyakan apakah PD saya sakit. Saya jawab dulu memang sakit, tapi sekarang sudah sembuh. Mendengar bahwa PD saya sudah sembuh, Sophie langsung duduk di pangkuan saya, pasang posisi siap nenen sambil membuka baju saya. Kaget lah saya, sudah dua minggu aman terkendali kok tiba-tiba mau lagi. Saya katakan pada Sophie kalau dia sudah besar, dan anak besar sudah tidak nenen Mama. Awalnya Sophie terlihat kecewa, tapi kemudian dia beranjak dari posisi siap nenennya dan berdiri untuk minta di peluk. Lega rasanya.

Kemarin, saat saya semingguan di rumah bersama Sophie, Sophie sering minta melihat PD saya. Dia mengelus-elusnya sambil merayu saya dengan senyum termanisnya, minta nenen lagi. Tapi saya berhasil menolak keinginannya dengan menunjukkan bahwa dispensernya sudah kering *Aneh rasanya saat memencet aerola dan tidak ada apapun keluar dari sana, hihihi…* Setelah saya berhasil tiga kali berturut-turut menolak keinginan Sophie untuk nenen tanpa drama, saya rasa kami sudah berhasil.

Iya, saya, Sophie dan Papa telah berhasil melewati satu tahap dalam kehidupan Sophie. Saya sungguh bahagia bahwa walaupun kami menggunakan plester, kami bertiga bisa melewatinya dengan baik. Tanpa ada adegan nangis-nangis yang menyayat hati. Kalau ada yang mengatakan kalau saya gagal Weaning with Love, saya sama sekali tidak ambil pusing tentang itu. Predikat tidak penting, yang penting proses dan hasilnya baik buat kami. Dan percayalah, saya menempelkan plester itu dengan cinta kok, beneran 🙂

Dan saya sungguh-sungguh bersyukur atas semua kemudahan yang telah diberikan Allah kepada kami selama 26 bulan ini. Alhamdulillah…

Uncategorized

Challanging Two

It is. Kerasa banget bahwa saat-saat ini menghadapi Sophie adalah suatu perkara yang rumit. Ini bukan tentang tantrum ya. Sudah beberapa bulan ini tantrum Sophie berkurang banyak, sejak dia lumayan lancar bicara dan bisa diajak komunikasi dua arah. Nangisnya memang masih lebay sih, apa lagi sekarang sudah ditambah dengan efek bisa bicara. Tapi, asal ditangani dengan tepat tangisnya bisa ditanggulangi. Jarang banget yang sampai guling-guling meronta-ronta dan kawan-kawannya.

Ada dua hal yang beneran bikin kami pusing saat ini, urusan makan dan tidur. Heran, kok bisa-bisanya anak kami, yang notabene doyan makan, susah sekali makannya. Picky eater. Maunya cuma karbohidrat only. Mi thok. Nasi saja. Dan karena library rasa Sophie sepertinya lumayan banyak, dia selalu tahu kalau nasi atau minya disisipi sayur atau lauk. Tapi masih untung, tingkat pemilihnya menurun saat saya di Surabaya. Jadi kalau sama Papanya, kalau Sophie dibuat mlongo saat makan, biasanya dia akan mengunyah dan menelan apapun yang disuapkan kepadanya. Mlongo disini maksudnya dilihatkan film yang sudah lama tidak ditontonnya, jadi perhatiannya teralihkan ke film tersebut.

Urusan tidur juga membuat kami senewen akhir-akhir ini. Sophie menolak tidur siang, tapi sebenarnya tubuhnya masih butuh istirahat di siang hari. Jadinya seharian dia main terus *dengan pola makan sekacrut itu, saya juga heran dari mana Sophie mendapatkan energi untuk lari-loncat-nyanyi-nari seperti itu*, lalu jam 3 setengah 4 saat dia sudah benar-benar lelah dia akan tertidur, dimanapun ia berada. Di lantai, nyampir di sofa, di pangkuan saya… Dan tentunya bangunnya sekitar maghrib, moodnya jelek, cranky abiss, dirayu-rayu lalu moodnya membaik, bermain seru, tidur jam 10an malam. Siklus yang menyebalkan. Sekarang suami sedang berusaha untuk menggeser jam tidur Sophie, dengan membangunkannya jam 5. Harapan kami, semakin pagi Sophie bangun, semakin cepat ngantuknya datang, semakin awal Sophie mau tidur.

Kenapa baru sekarang diterapkan? Ya sama dengan masalah makan tadi, Sophie kalau ada saya maunya main terus, sayang-sayangan melulu tanpa interupsi. Makan dan tidur adalah dua hal yang termasuk dalam definisi interupsi itu, sehingga kalau ada saya ya tingkat tidak mau makan dan tidak mau tidur ini berlipat-lipat.

Kami sempat khawatir dengan pola Sophie yang amat aleman dengan caranya yang ekstrim itu kalau ada saya. Tapi kami akhirnya lega, karena hal itu normal adanya. Semua itu adalah kompensasi dari 4,5 hari kebersamaannya dengan saya yang hilang ketika saya di Surabaya. *Terima kasih pada Bu Ning yang sudah menunjukkan pada kami bahwa semua itu normal. Memang beda ya bicara dengan psikolog sama grundelan di blog sendiri, hahaha*

Memang membesarkan anak itu adalah challanges yang bersinambung tanpa henti ya. Selesai urusan satu, datang lagi urusan lain yang bikin senewen. Itulah kenapa saya memilih untuk tidak terlalu senewen setiap kali ada masalah dengan keseharian Sophie. Menghemat stok senewen, kalau ntar habis malah repot jadinya 🙂

Love you, little Sophie *yang kata orang-orang sekarang sudah besar*