Uncategorized

Syukur Siang Ini

Sungguh, saya bersyukur atas semua bantuan yang saya dapatkan dari orang-orang baik di sekitar saya. Saya yang nunak-nunuk dengan segala keterbatasan saya akhirnya bisa berjalan. Step by step through the pathway I have choosed before.

Dan ya, saya juga berterima kasih atas nasihat yang menghangatkan hati siang tadi. Memang harus mendapatkan sesuatu, rugi sudah capek-capek kalau di akhir minggu tidak ada hasil yang bisa di-follow up-i *is it even a word? Maafkan saya si abuser bahasa ini :)*

Dan untuk pertama kalinya saya sadar bahwa ada Miss Perfectionist di diri saya. Selama ini suami sering menyampaikan kalau Sophie menunjukkan habit yang perfeksionis itu karena meniru saya. Tentu saja saya selalu membantahnya. Perfeksionis di mana coba? Tapi, apa yang terjadi hari-hari ini membuka mata saya kalau memang begitulah adanya. Ya ampun, buat apa ya saya susah-susah mengusahakan ini itu sementara seharusnya saya menjalaninya dengan santai? Kenapa juga saya memasang standar setinggi itu?

Dan sungguh ini suatu ironi, saya menyadari kalau saya perfeksionis tepat ketika salah satu sosok perfeksionis yang saya saya kenal menyerah pada rasa capek akibat berusaha terlalu keras memenuhi tuntutannya atas dirinya sendiri. It’s temporary I know. Mana mungkin dirimu menjadi just-the-average-people-in-the-neighbourhood, Ris? 🙂

Dan ya, definisi siapakah diri ini sesungguhnya tidak bisa kita tentukan sendiri. Kita hanya bisa mendefinisikan harapan kita atas diri kita sendiri. Somehow the definition of “we” can only be valid when it’s combined with what people who really knows us know. We are what we don’t see, bukan begitu Mbak Nelly dan Mas Chris?

Njlimet ya?  🙂

Advertisements