Uncategorized

Mini me.

Kelakuannya plek njiplek saya. Suami tidak habis pikir bagaimana bisa Sophie meniru saya habis-habisan, sedangkan kami cuma ketemu dua hari saja tiap minggunya. Oh Papa, it’s what-so-called gene! Hahaha.

Pas suami minggu lalu kembali mengulang pertanyaan bernada protes ini, saya cuma bisa bilang, ini karena Allah sayang sama Papa. Allah tahu Papa tergila-gila sama Mama, sehingga Papa diberi tambahan satu lagi, versi mininya.

Dan ya, suami tambah manyun sementara saya ngakak-ngakak bahagia πŸ™‚

I miss you both, semoga bisa pulang hari ini.

Advertisements
Uncategorized

The Raid: Bukan Review

Salah.

Salah banget saya sok berani nonton The Raid. Beginilah jadinya kalau rasa penasaran itu mengalahkan semuanya. Mules.

Saya sudah mengikuti perjalanan The Raid sejak awal di timeline saya. Yang mendapatkan review positif di festival ini-itu lah, di scoring ulang oleh Mike Shinoda lah, mau di re-make di Hollywood lah, dst dst.Β  Apalagi sejak mulai tayang di Indonesia, semua orang yang saya follow yang sudah nonton pada bilang The Raid wajib tonton. Ya bagaimana mungkin saya tidak tergoda ikutan nonton coba?

Padahal lihat trailernya saja saya sudah ngerasa gimana gitu.

Tapi apa mau dikata, rasa penasaran saya yang berkuasa. Itung-itung saya ikut berpartisipasi di Bulan Film Nasional juga sih.

Tapi dasar cemen ya saya ini, belum juga setengah jam menonton film ini saya sudah mulai menyesali rasa penasaran saya. Kalau sekedar tembak-tembakan atau pukul-pukulan sih saya bisa lihat. Tapi oh tapi yang namanya bacok-bacokan, pisau yang tusuk sini sayat sana, anggota tubuh yang dipatah-patahin, kepala yang dijeduk-jedukin, yang mana pengambilan gambarnya close up, juga darah yang muncrat-muncrat itu sungguh mengerikan buat saya. Mules.

Btw, sebelum The Raid ini, saya sudah dua kali trauma nonton film. Film pertama yang membuat saya njiper adalah Transformer yang kedua. Ini sebenarnya lebih pada masalah teknis sih, posisi duduk saya tidak enak saat itu. Duduk di pinggir depan, amat dekat dengan layar. Dan 3D. Jadinya itu ya serasa dilempar dengan Decepticons terus mau diinjak Autobots tanpa ampun gitu deh. Keluar dari bioskop saya pusing plus tengeng saudara-saudara.

Film kedua sukses membuat saya menyesal sudah nonton adalah Shaolin. Alasannya sama dengan The Raid sih, terlalu eksplisit kekerasannya. Tapi percayalah, sadisnya Shaolin itu tak seberapa dibandingkan The Raid.

The Raid ini ampun-ampunan deh.

Makanya, saya tidak habis pikir pas baca berita kalau ada ibu-ibu yang mengajak anaknya nonton The Raid. Oh, gila.

OK, penasaran apakah saya menontonnya sampai selesai? Jawabannya adalah iya. Sengeri apapun, saya tahu bahwa rasa gengsi saya juga sama besarnya dengan rasa penasaran saya. Mana boleh seorang Tanti ketakutan meninggalkan bioskop sebelum filmnya selesai? Tidak akan.

*makan itu gengsi, Tan. Dan dapat salam dari mual mules tuh*

Jadi, saya tidak bisa bilang The Raid ini bagus apa tidak. Satu-satunya hal yang bisa saya katakan adalah bahwa film ini bukan buat saya, dan tentunya orang-orang yang sama cemennya dengan saya di luar sana *Hello you, yes I am speaking to YOU :D*. Sudah deh, sila tanya pada orang-orang yang menontonnya dengan benar untuk rekomendasi yang bisa dipercaya. Iya, saya tidak benar menonton tadi kok. Banyak meremnya, hahaha. Jadi kalo music scoringnya mulai gimana-gimana yang mencurigakan *you know what i mean lah ya* saya mulai memejamkan mata. Mendengarkan. Saya baru melek lagi kalau suaranya sudah menunjukkan ganti scene. Tapi kadang ketipu sih, scoring-nya sudah tidak mencekam tapi pas saya melek justru pas ada adegan pisau-darah yang so scary. Ewww.

Menutup posting ini saya menyatakan bahwa saya tidak akan menonton sequel The Raid nanti. Tidak peduli sebagus apapun review-nya atau seheboh apapun media coverage – nya. Sekian.

PS: Modus Anomali adalah kebingungan saya selanjutnya. Saya penasaran dengan Joko Anwar-nya, dan review positifnya. Tapi horor itu jelas-jelas bukan genre yang bisa saya nikmati. We’ll see bulan depan ya, apakah rasa penasaran saya bisa saya kendalikan atau justru kembali menjadi juara -dan memakan korbannya-.

Uncategorized

Cerita Minggu Lalu

Sepuluh hari di Purwokerto. Terdengar surga banget ya, 10 hari bersama Sophie dan Papa. Tapi, kenyataannya tidak sepenuhnya semenyenangkan kedengarannya. Yang ada adalah badan sama serasa hampir patah sekembalinya ke Surabaya kemarin pagi. Capek luar biasa.

Semuanya berawal Sabtu malam tanggal 17. Sophie tiba-tiba demam tinggi. Ya tidak tiba-tiba banget juga sih sebenarnya. Sejak malam sebelumnya Sophie sudah kelihatan tidak enak badan. Maunya tiduran, tengkurap tepatnya. Tapi anaknya masih pengen jalan-jalan juga. Jadi kalau malam Sabtu minggu yang lalu ada yang melihat bocah berkerudung pink kegedean yang habis lari-lari langsung ndlosor di rumput, terus emak sama bapaknya sibuk merayunya untuk bangun, itu kami ya.

Dan ternyata demam Sophie ini persisten. Manteng tinggi terus hingga hari Kamis. Jelas batuk pilek kalau dilihat gejalanya. Dan combo bersama tumbuhnya dua gigi geraham dan satu taring Sophie. Mungkin ini menjelaskan kenapa demamnya bisa sampai lima hari.

Sophie amat susah untuk minum obat *ngaca*, bahkan paracetamol drop-pun kadang dimuntahkannya. Iya, Sophie masih minum drop, demi alasan kepraktisan. Saya membayangkan meminumkan sirup ke Sophie yang klogat-kloget kayak ulat pisang itu. Perjuangan banget kayanya.

Dengan kondisi seperti itu, kami merawat demam Sophie masih dengan cara yang sama seperti ketika dia bayi. Memperbanyak cairan dan gendongan.

Siklus demam Sophie minggu lalu itu seperti ini: demam tinggi – menggigil – pelukan dalam gendongan *bahasa kerennya skin to skin contact itu lho* sambil minum banyak air putih. Kalau panasnya turun, kami melanjutkan acara gendong-gendongnya sampai dia tertidur. Kalau panasnya masih bandel, paracetamol bekerja *dengan segala kehebohan saat minumnya*, lalu tertidur digendongan. Bangun tidur, panas lagi, gendongan lagi, jadi bocah gelonggongan lagi, dan seterusnya.

Dan ya, membuat anak meriang minum banyak air itu susah ya. Yang paling efektif buat Sophie adalah sedikit demi sedikit. Setelah batuk, Sophie, minum ya, kan habis batuk *sambil menyodorkan sedotan ke mulut Sophie*. Setelah muntah juga begitu. Dibacakan buku, ditengah-tengah berhenti, Mama haus mau minum, Sophie minum juga ya *sedotan maju lagi ke mulut Sophie*. Makan sesuatu yang Sophie tidak suka, Mama makan ini Sophie minum air putih ya. Dan kalau semuanya gagal, kalimat sakti ini yang keluar. Sophie sekarang minum obat atau air putih? Biar cepat sembuh terus bisa main lagi.

Efek samping kalimat sakti tersebut adalah, setiap kali dia harus minum paracetamol, maka tangisnya berbunyi: Usyi minum air putih ajaaaaa…. Hahaha!

Di hari keempat, akhirnya kami ke dokter. Saya yakin Sophie cuma batpil sebenarnya, tapi demi menenangkan suami, baiklah, saya turuti saja. Giliran sampai rumah sakit suami yang senewen. Performa dokter yang kami temui jauh dari harapan kami. Saya akan menuliskannya di post tersendiri nanti ya, semoga ingat πŸ™‚

Masalah lain yang menyertai meriangnya Sophie adalah mogok makan. Parah banget deh, semuanya makanan ditolaknya. Dalam sehari yang bisa dimakannya cuma beberapa suap mi. Iya, Sophie cuma mau makan mie saja. Seminggu. Berturut-turut. Kalau sedang beruntung ya mau makan biskuit atau buah atau cemilan lain barang berapa gigitan. Di hari-hari awal masih mau minum susu. Selanjutnya menolak susu juga. Minum susu membuatnya mual dan kadang muntah. Hail air putih dan teh manis yang telah membantu kami melewati hari-hari muram itu. Hasil akhirnya adalah berat Sophie turun hingga 11,5 kg saat ini.

Dan ujian terberat bagi ibu dengan sumbu yang mudah memendek seperti saya justru datang saat kondisi anak membaik. Sudah tidak demam, tapi nafsu makan masih seret. Anak masih cranky dan aleman habis-habisan sementara emaknya kurang tidur dan nyaris kehabisan energi. Menjaga hati agar tidak marah-marah itu sungguh bukan pekerjaan mudah buat saya 😦

Beruntung saya punya partner yang amat bisa diandalkan. Papa adalah seorang Ayah Siaga. Sepulang dari kampus siap menggantikan saya gendong Sophie sana-sini. Juga di malam hari. Kami punya sistem jaga: saya tidur awal, lalu siaga sekitar tengah malam sampai subuh, untuk kemudian tidur lagi selepas subuh. Dengan pengaturan seperti itu kondisi kami tidak drop-drop amat.

Melengkapi minggu saya yang assoy kemarin, Bu Sainah sakit dan tidak masuk sejak jumat. Anak cranky dan rumah berantakan. Dan Papa ikutan ambruk di hari Sabtu. Alhamdulillah Minggu semuanya mulai membaik. Minggu malam saya berangkat ke Surabaya lagi. Dan sekarang, pusing mikir penelitian yang entah kenapa sepertinya berputar-putar tanpa ujung pangkal yang jelas.

Saya sudah survive minggu lalu, Insyaallah akan survive juga minggu ini dan minggu-minggu berikutnya.

Uncategorized

Lagi Banyak Ujian

Rencana A kusut.

Rencana B sepertinya tidak kalah kusutnya dari yang A.

Rencana C masih butuh verifikasi dari banyak pihak dan persetujuan Yang-Maha-Sangar-dan-Sungguh-Aku-Njiper-Bicara-Dengannya.

Tapi sudahlah, masih ada rencana D, E, F dan seterusnya kan ya. Eh, ada kan?

Afterall, plan Z is sabar dan tawakal. Tawakalnya ya dengan menjalani rencana A sampai rencana entah-abjad-apa itu satu persatu sambil banyak-banyak berdoa. Saya yakin, suatu saat nanti saya akan berhasil. Dengan rencana, errrr, K, mungkin? Rencana Z ini adalah rencana induk sebenarnya, yang dikerjakan sejak awal dan tidak diurut abjad begitu. Satu-satunya rencana yang bisa saya kontrol pelaksanaannya. Kalo yang lain-lain mah, saya seringnya tidak punya cukup daya untuk mengendalikannya.

Dan ya, saya hanya bisa nyanyi-nyanyi ala Sophie saat ini. Mind to sing with me, please?

So when you’re feeling kind of mixed up, just remember it’s a mixed up world
And when you’re feeing life is just too tough, just remember you’re a real tough girl

Yes, I am a real tough girl. In my own way πŸ™‚

Uncategorized

Sophie Hari Ini

Sophie itu ya, logat bicaranya Purwokerto sekali. Sudah pengucapan K-nya super medok, masih ditambah dengan penggunaan partikel -lah di banyak kata yang diucapkannya πŸ˜€

Sophie sekarang mulai suka menghubungkan apa yang dia lihat dengan apa yang dialaminya sebelumnya. Saat nginthili saya wudhu *iyaaa, Sophie kalau saya ada di rumah itu nempel kaya perangko. Maunya sama-sama terus. Saya ke kamar mandi diikuti, saya masak minta digendong agar bisa melihat apa yang ada di wajan, saya lagi mainan HP langsung diajak peluk-pelukan :)*, tiba-tiba Sophie bilang, “Usyi boleh idak wudu ama Ibu Endah”

Terus, setelah kami siap-siap sholat, Sophie berkomentar lagi, “Di cekolah Usyi colat ama Ibu Endah”

Tapi, guru favoritnya masih tetap Ibu Yani. Maunya beraktivitas sama Ibu Yani terus. Kadang Papa dilapori guru jaga kalau Sophie nangis pas mandi, karena maunya dibantu mandi sama Ibu Yani, tapi Ibu Yaninya sedang memegang anak lain. Dan ya, Sophie itu bangga bener kalau tadi nangis gara-gara pengen sama Ibu Yani.

“Usyi tadi nangis, Papa”

“Kenapa Sophie nangis? Kan sudah besar”

“Usyi mau sama Ibu Ani”

Dan ya, Sophie itu belum tahu bahwa kata Mama itu adalah sinonim dari Ibu. Makanya kalau ditanya siapa Ibu Sophie, jawabannya adalah Ibu Yani πŸ™‚ Tidak, saya tidak patah hati karena mendengar ini. Sophie memang belum paham saja, sih, menurut saya. Dan saya bersyukur tentang ini. Anak-anak kan cermin yang jujur ya, mereka akan menyayangi siapapun yang menyayangi mereka. Dengan melihat betapa profil guru-guru Sophie beneran hadir dalam cerita sehari-hari Sophie, saya percaya kalau Sophie berada di lingkungan yang baik di TPAnya πŸ™‚

TPA Sophie ada satu anak yang karakternya mirip Sophie. Namanya Yesha, dia lebih besar dibandingkan Sophie. Karena mirip, mereka sama-sama tidak mau mengalah dan sering sekali berebut berbagai hal. Dan yang paling sering diperebutkan oleh Sophie dan Yesha adalah Ibu Yani. Saya nulis ini kok malah terbayang peningnya Bu Yani jadi obyek rebutan dua bocah rempong itu ya πŸ™‚

Aah, jadi kangen Sophie πŸ™‚

Dan, semakin hari semakin kelihatan kalau Sophie itu anak yang ekspresif. Kalau tidak mau ya dia bilang tidak mau, sambil pasang tampang cemberut yang mirip banget seperti saya. Malam minggu kemarin saya dan suami mengeluarkan segala jurus rayuan untuk mengajak Sophie beranjak dari depan komputer di Gramedia. Sophie suka sekali bermain Game Interaktif Bobi Bola dan tidak mau berhenti bermain. Padahal ada beberapa anak yang mengantri. Apapun yang kami katakan akan dijawab dengan lengkingan cemprengnya, “Usyi tidak mauuuu!” Drama.

Sebaliknya, kalau ada sesuatu yang dia sukai dia akan berteriak kegirangan dengan ekspresi super ceria.

“Usyi suka, sukaaaa!”

Macam Mei Mei di Upin & Ipin saja sih Soph πŸ™‚