Uncategorized

Wana Wisata Baturaden

Kemarin pagi saya membisiki Sophie tentang mengunjungi Wana Wisata Baturaden. Lagi. Tentunya Sophie yang lagi suka segala macam hewan itu langsung setuju dan menyampaikannya pada Papa.

Melihat monyet.

Biasanya kami tidak masuk ke Wana Wisata, cukup memarkir motor dan menengok monyet dari sisi Wisma Palawi. Tapi kemarin kami sok iye masuk, mau ke Pancuran 7 tapi ogah trecking dari Loka Wisata. *Tracking, yang benar saja untuk kondisi kami sekarang ini. Kasihan kaki kami kalau harus menopang tubuh berlemak kami* Jadinya ya motoran, mengikuti jalur beraspal dari Wana Wisata.

Tapi, kami tidak jadi masuk ke Pancuran 7. 200 meter menjelang lokasi turun hujan. Jadilah kami berteduh di salah satu warung yang kosong, tepat diatas Loka Wisata.

Image

Warna cat warungnya cantik, ya. Tolong wajah kami yang cemberut diabaikan ya. Saya mules karena kedinginan dan Sophie baru bangun tidur 🙂

Sophie yang tertidur selama perjalanan ketika bangun langsung mengajak melihat monyet. Akhirnya kami memutuskan kembali ke gerbang  Wana Wisata untuk menyenangkan Sophie. Dan Pancuran 7 nya ditunda dulu.

Di gerbang Wana Wisata Sophie tertarik pada play ground tua. Mampir main dulu, memanjat, jungkat-jungkit  dan berayun-ayun. Untung tidak melihat perosotan ya, kalau iya sayanya yang senewen mengingat perosotannya tinggi dan besinya pada karatan.

Image

Image

Image

Tuh kan, kelihatan karatnya 😦

Sambil menunggui Sophie bermain, saya membeli jagung bakar. Sama seperti yang di jual di Loka Wisata, di Wana Wisata ada beberapa pedagang yang menjajakan jagung bakar, bakso kuah, pecel, es krim, dan minuman hangat.

Sophie setelah puas bermain ingat sama tujuan awalnya datang ke sana, monyet. Sophie mendekati kandang monyet dengan jagung bakarnya. Monyet lapar. Jagung bakar. Jelas kombinasi yang menghasilkan efek berisik ya. Monyetnya menunjukkan mimik lapar dan pengen jagung yang dipegang Sophie. Sophie sedang tidak mau berbagi.

Ayo pulang aja, kasihan monyetnya pengen jagung Usyi

Iya, Sophie bilang seperti itu pas kami tanya boleh tidak jagungnya dibagi dengan monyet. Hahaha, ini pasti efek dari brainwashing Papa: kalau Sophie tidak mau berbagi dengan teman, makan, mainan, etc di rumah saja. Kasihan kalau teman pengen.

Fyi, di sana memang tidak ada larangan memberi makanan pada monyet dan monyetnya memang makannya apa saja. Kami pernah melihat petugas memberikan makanan berupa nasi bungkus. Kalau nasi bungkus OK seharusnya jagung bakar tidak masalah kan ya?

Tapi deep down, saya kasihan pada monyet itu. Seharusnya dia tidak di Wana Wisata Baturaden, terkerangkeng dan sendiri.

Dan statement medit Sophie tersebut mengakhiri acara minggu pagi kami kemarin. Kami mampir makan siang terlebih dahulu di kota, kemudian pulang ke rumah. Saya tidur, Sophie cranky dan Papa menenengkan kerewelan Sophie dengan mengajaknya ke tempat cuci motor 🙂

Suami dan Papa jempolan, he is :*

Uncategorized

Proud Mama #3

Sepertinya, Papa lebih bisa menjelaskan gender secara sederhana kepada Sophie dibandingkan saya. Hari Sabtu kemarin, ketika kami bersiap-siap sholat ashar, terjadi percakapan seperti ini:

Sophie: Ini apa Papa?

Papa: Ini mukena Mama Soph, untuk sholat.

S: Mukena Papa mana?

P: Papa ini mas-mas Sophie. Yang memakai mukena Mbak-mbak. Mas-mas kalau sholat memakai sarung. Yang ini.

S: Papa Mas-mas. Usyi Mbak-mbak.

P: Iya, Sophie Mbak-mbak.

S: Mukena Usyi mana Papa?

Dan, kami mengambilkan mukena Sophie dari lemari. Sejak beli dulu belum pernah dipakai, soalnya pas datang, saya terlalu heboh ingin mencobakan mukena tersebut ke Sophie dan anaknya malah emoh sendiri, hahaha.. Kemarin itu Sophie suka sekali dengan mukenanya. mencoba memakai sendiri, walaupun baru bisa memakai bawahannya doang, yang atasan dibantu sama Papa.

Dan dengan sukarela mau berjamaah sama Papa. Kejutan buat kami. Kami selama ini memang belum pernah mengajak, apalagi memaksa, Sophie untuk sholat. Kami percaya bahwa belajarnya batita itu dari melihat contoh, sih. Kata Mbak Alissa Wahid, your action speaks so loudly, i can’t hear what you say. Kami mengamininya.

Image

Sophie jadi makmum Papa dengan tertib, mulai dari takbiratul ikhrom sampai salam. Tapi ya namanya anak kecil super energik ya, rukuknya combo tiga kali, sujudnya kelebihan berkali-kali. Hihihi, emaknya terharu campur geli 🙂

Image

Selesai sholat, Sophie melipat mukenanya sendiri, terus dimasukkan ke kantongnya. Kebiasaan di sekolah tampaknya. Kemudian keluar rumah dan pamer sama tetangga dong 🙂

Usyi colat. Usyi mau ke alun-alun, mau colat di alun-alun

Hahaha, kami cuma bisa senyam-senyum lihat kelakuannya ini. Sorenya kami jalan-jalan ke alun-alun, dan sholat maghrib di masjid besar. Sophie tidak full mengikuti sholat maghrib, rekaat satu selesai dia sudah kabur berjalan-jalan, mengintip-intip dan memanjat-manjat. Mungkin karena bacaan imamnya terlalu panjang untuk ukuran Sophie.

Image

Kemarin, Sophie minta ikut sholat lagi. Bersama saya sebagai imamnya. Tidak sukses, ceritanya. Ketika saya berdiri untuk rekaat kedua, ada yang lari meninggalkan saya, terus melepas mukenanya dan lalu lompat-lompat seru, menjadikan kasur trampolin jadi-jadian 🙂

Sebenarnya kami tidak terkejut-terkejut amat pas Sophie minta sholat ini. Lha wong di sekolahnya juga ada program sholat berjamaah kok. Kami cuma mengalami what-so-called proud parent thing, yang untuk pertama kalinya menyaksikan perkembangan anaknya.

Uncategorized

Meninggalkan Tumblr

Mungkin sementara, mungkin juga permanen.

Penyebabnya sederhana, saya terganggu oleh tidak bersahabatnya tumblr dengan foto. Sudah hampir sebulan, lagi. Cukup sahih alasan yang saya punya, saya kira.

Mungkin saya akan kembali ngeblog di tumblr saat fitur fotonya pulih. Mungkin juga tidak. We’ll see.

Writing is a kind of therapeutic to me, sesuatu yang saya butuhkan. Makanya saya akan tetap menulis. Di sini. Silakan membaca, berkomentar pun boleh.

Selamat datang di wordpress saya, ya 🙂

Uncategorized

Tentang Dia yang Namanya Tidak Pernah Ada di Phonebook Saya

Namanya Alwani. Alwani Hamad lengkapnya. Badannya lumayan besar, dengan rambut keriting yang tipis. Orang Jawa tulen yang slow dan nrimo, dalam berbagai aspek. Bicaranya sih pelan, tapi kalau sudah tertawa keras bener ya. Ngakaknya parah. Juga ngoroknya.

Kami adalah rekan sekantor sejak  tujuh tahun yang lalu. Tapi saya baru mengenalnya dua tahun kemudian. Sekarang, setelah empat tahun menikah, kami berhasil menambahkan *atau kebobolan ya? You name it* lima kg tambahan ke timbangan berat badannya dan juga empat kg untuk saya. Dan punya Sophie, batita kesayangan kami berdua.

Di awal-awal menikah kami diberi nasehat tetua keluarga kami, bahwa dalam pernikahan selalu akan ada ujian. Dan ujian tersebut seringkali datang dalam bentuk negasi dari apa yang paling kami cintai. Nasehat tersebut benar terbukti pada kami. Kami yang amat menyukai kebersamaan, yang memiliki bahasa cinta sentuhan, ternyata harus menjalani babak keluarga kocar-kacir. Dia di mana, saya juga entah di mana. Long distance love. LDL.

Kami menikah akhir Juni 2008. Pertengahan Oktober 2008 dia berangkat ke Bangkok. September 2010 saya dan Sophie pindah ke Surabaya. Oktober 2010 dia pulang ke Purwokerto. Juni 2011 Sophie boyongan ke Purwokerto. Saya masih di Surabaya, sampai sekarang. Membaca ini saja sudah capek ya? Semoga tidak 🙂

Image

Selama empat tahun ini saya belajar bahwa Allah memberikan ujian itu ya sesuai dengan kemampuan kita. Kalaupun terlalu berat untuk dihadapi sendiri, Allah pasti memberikan pendukung yang memadai buat kita agar bisa menjalaninya. Nah, dia itu adalah pendukung saya dalam menjalani LDL ini. Dia menguatkan saya. Saya yang ketika bersamanya adalah si manja yang pengen disayang-sayang melulu laksana princess ini ternyata bisa survive ketika berjauhan.

Dia tidak hanya membantu saya survive dalam tempaan jarak itu, tapi juga menstimulasi saya untuk tumbuh.

Beberapa hari ini saya membaca kembali rekaman LDL kami, di inbox email dan chat facebook saya. Saya merasakan benar pertumbuhan tersebut. Dari yang menye-menye level kronis saat itu menjadi sedikit menye-menye saja saat ini. Terharu. Dan bersyukur.

Hari ini adalah ulang tahunnya yang  ke 31. Di hari yang spesial ini, ijinkan saya berbagi satu rahasia kecil. Saya tidak pernah menuliskan namanya di phonebook HP saya. Jangan tanya apa alasannya, saya juga tidak tahu.

It was started with HiM. *Iya, dengan ejaan alay seperti itu*. Menjelang menikah saya ubah menjadi Mas Sayang. Kemudian setelah hamil Sophie, berubah lagi jadi Papa Sayang. Sampai sekarang.

Panggilan ini juga berlaku untuk komunikasi lisan kami. Sebelum menikah saya memanggilnya dengan panggilan Mas. Setelah menikah panggilannya berubah jadi Sayang. Setelah hamil sampai sekarang saya memanggilnya dengan Papa atau Sayang, kondisional saja. Tapi entah kenapa saya tidak bisa memanggilnya dengan Mas lagi saat ini. Rasanya aneh di mulut dan telinga saya.

Saya tahu, dia pasti malu semi sebel  saya menuliskan ini semua. Tapi hey, sekarang ini ulang tahunnya. Sekali dalam setahun, tentu saja dia harus merelakan dirinya di-bully. Oleh istrinya 🙂

Robbie Williams dan Guy Chamber dalam God’s Better People mengatakan bahwa seseorang itu spesial ketika ia tidak menyadari kualitasnya. You are one of God’s better people. And you don’t know it, that’s why you are so special. Begitulah posisinya dalam hidup saya.

Dirgahayu, Sayang. Doa terbaik untukmu.

Uncategorized

Gigit Jari Gara-gara KTP dan Kawan-kawannya

Minggu lalu saya kehilangan dompet, dalam perjalanan dari Surabaya ke Purwokerto. Jadilah saya menghabiskan hari Jumat kemarin dengan berkeliling dari kantor polisi ke lima bank di Purwokerto. Tujuan awal pulang gasik pun berantakan karenanya.

Saya punya rekening di Bank Jateng, BTN, BNI, Bank Mandiri dan BSM untuk tujuan yang berbeda. Bank Jateng untuk pembayaran gaji saya, BTN untuk urusan KPR, BNI untuk membayar biaya sekolah saya, Bank Mandiri untuk installment plan reksa dana dan BSM untuk mengakomodir kebutuhan saya akan layanan syariah. Gara-gara bersafari di lima bank tersebut, saya tahu bahwa CS bank terbaik di Purwokerto adalah CS BNI. Ada tiga keunggulan CS BNI yang saya rasakan:

  1. Menunjukkan empati atas kehilangan yang saya alami.
  2. Memberikan informasi yang jelas.
  3. Follow up. Ibu Maria menelpon ketika rekening saya telah berhasil diblok. Fyi, yang boleh mengeblok rekening adalah kantor cabang penerbit saja.

Sophie untungnya anteng saja diajak mondar-mandir seharian. Anteng dalam artian tidak cranky sih, bukan anteng yang duduk tenang. Sophie mondar-mandir, naik turun kursi dan sempat-sempatnya lari-larian lho 🙂

Sampai sekarang pun urusan perbankan ini belum beres. Ada dua rekening yang saya buka di Surabaya, dan kebetulan buku tabungannya juga hilang kemarin. Karena buku tabungannya hilang, otomatis rekening tersebut diblok dan untuk membukanya kembali saya harus mengajukan permohonan di kantor cabang di mana saya membukanya dulu. Karena saya berasal dari luar Surabaya, maka saya harus menunjukkan identitas kedua. Masalahnya adalah saya tidak punya satu pun dokumen identitas yang memiliki alamat yang sama seperti di KTP saya saat ini. Dan rekening saya pun masih terblok dengan manisnya saat ini. Lesson learnt, semua dokumen identitas harus memiliki alamat yang sama.

*Oh Papa, kita harus segera mengurus surat pindah. Dan memastikan semua dokumen kita memiliki alamat di Karang Gintung*

Dan, inilah saya yang sedang gigit jari. Dua rekening masih beku, satu kartu ATM baru bisa diambil minggu depan,  satu ATM tertinggal di Purwokerto, dan satu-satunya ATM yang saya pegang saldonya minimal *gigit meja* *nunggu transferan Papa*